MAKALAH KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

PARADIGMA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SEBAGAI PENYEIMBANG KEPENTINGAN EKONOMI, SOSIAL DAN EKOLOGI

A. Pendahuluan

        Dalam rangka memenuhi berbagai macam kebutuhannya, manusia menyelenggarakan suatu kegiatan yang disebut dengan pembangunan. Melalui pembangunan, manusia mencoba untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan seluruh potensi dan sumber daya alam, kemudian memberikan berbagai nilai tambah atas pemanfaatan sumber daya tersebut, sehingga melahirkan kepuasan pada diri manusia.

       Pendekatan pembangunan di dunia maupun di Indonesia yang dilakukan selama ini masih berorientasi pada pembangunan ekonomi yang fokus pada pertumbuhan output  seperti sumber daya alam, tenaga kerja, modal dan teknologi. Hasil yang baik itu kemudian mengalami ketimpangan dalam bidang sosial dan lingkungan.

            Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan pertumbuhan pada bidang sosial. Menurut Dirjen FAO (Food and Agriculture Organization), pada tahun 2010 diperkirakan total seluruh jumlah manusia di muka yang mengalami kekurangan pangan dan gizi adalah 925 juta manusia sementara penduduk yang kekuaranga pangan dan gizi di seluruh dunia mencapai 1,02 miliar. 

          Peningkatan luasan kawasan kumuh juga menjadi bukti terjadinya ketimpangan sosial yang tidak bisa dihindari. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), warga miskin yang menempati rumah tidak layak huni mencapai 26,9 juta orang pada tahun 2010. Pada sisi lain juga terjadi pengangguran yang tinggi. Berdasarkan data BPS 5, jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 8,12 juta orang

    Kondisi lingkungan pun sangat memprihatinkan karena eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekologis. Berdasarkan laporan para ilmuwan di National Oceanographic and Atmospheric Administration (Global Reporting,1:2010), curah hujan mengalami peningkatan di atas rata-rata. Para ilmuwan memprediksi bahwa pada tahun 2011 hujan akan turun lebih sering dengan jangka waktu yang lebih pendek di beberapa bagian dunia, sedangkan bagian dunia yang lain akan mengalami kekeringan, bahkan kelangkaan air. Sisi lain dari kerusakan lingkungan yaitu mengancam kejernihan udara dan sumber air, bahan-bahan makanan, serta kelangsungan produktivitas kekayaan alam flora dan fauna.

     Suhu udara yang lebih panas akan menyebabkan perubahan spesies vegetasi dan ekosistem. Area sekitar gunung akan kehilangan banyak vegetasi asli dan digantikan oleh vegetasi dataran rendah. Lebih jauh lagi, stabilitas dataran di sekitar gunung terganggu dan sulit mempertahankan vegetasi asli.

     Perubahan iklim merupakan penyebab melelehnya gletser, angin ribut, sunami, perbedaan tinggi pada iklim, dan perubahan distribusi hujan. Adanya peningkatan suhu udara menyebabkan pembentukan tekanan rendah dan tinggi di beberapa daerah yang menyebabkan pembentukan angin ribut dan kondisi iklim ekstrim.

      Efek lain dari pemanasan global adalah penipisan lapisan ozon, tidak ada batas penghalang untuk mencegah panas sinar matahari. Sama halnya dengan peningkatan suhu, adanya perubahan pada kulit sehingga menyebabkan kanker kulit disebabkan oleh sinar ultraviolet. Hal ini menyebabkan pembentukan mutasi yang akan ditransmisikan ke generasi selanjutnya dan menyebabkan kerusakan genetik. Pelelehan es menyebabkan peningkatan permukaan laut perlahan-lahan, jika ini berkelanjutan akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dalam beberapa tahun ke depan.

      Kesejahteraan yang dicapai manusia menjadi tidak bermakna bila kekuatan ekologis melemah. Sebab, kesejahteraan tadi harus dibayar dengan recovery cost (biaya pemulihan) untuk memulihkan serta menjaga kelestarian lingkungan dan bahkan dampak sosial yang dirasakan sulit dihitung tingkat kerugiannya. Kondisi ini menunjukkan perlunya model pembangunan berkelanjutan yang dapat menghasilkan keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan secara bersamaan dalam tiga jalur pertumbuhan yang terus bergerak maju (Emil Salim,2010:23).

        Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang tepat dilaksanakan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada sisi ekonomi, namun tidak merusak sisi lingkungan dan sosial. Konsep ini juga relevan dengan perkembangan dunia khususnya Indonesia yang pembangunannya terus meningkat, namun cenderung mengabaikan daya dukung lingkungan serta kondisi sosial.

      Aktivitas manusia menyebabkan perubahan iklim karena pemanasan global. Gas-gas karbondioksida, metana, dan oksida nitrat berbentuk gas sehingga berpengaruh terhadap peningkatan suhu yang dapat meneruskan gelombang pendek yang tak panas menjadi gelombang panjang yang panas. Penyebab utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar minyak, pelepasan gas rumah kaca, pabrik, dan kendaraan bermotor.

        Perubahan iklim memiliki efek yang besar terhadap kehidupan saat ini. Efek yang ditimbulkan dengan adanya perubahan iklim terhadap pertanian adalah menurunnya produktivitas pertanian karena peningkatan kemandulan biji-bijian, penurunan lahan yang dapat menurunkan penyerapan nutrisi dan pemingkatan penyebaran hama dan penyakit. Penstabilan persediaan makanan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Penstabilan membutuhkan perbaikan fasilitas irigasi dan penambahan kondisi faktor pendukung. Efek perubahan iklim mempengaruhi umat manusia, kehidupan liar, dan lingkungan sekitar. Dalam bentuk dasarnya, pemanasan global adalah peningkatan suhu permukaan bumi dan atmosfer.

B. Hakekat Pembangunan dan Pembangunan Berkelanjutan

            Kata “pembangunan” dalam bahasa Inggris selaras dengan kata “development” yang berasal dari kata to develop yang artinya menumbuhkan, mengembangkan, meningkatkan atau mengubah secara bertahap. Everest M.Rogers (2006:163)8, mendefinisikan pembangunan sebagai suatu proses partisipasi di segala bidang dalam perubahan sosial dalam suatu masyarakat, dengan tujuan membuat kemajuan sosial dan material (termasuk pemerataan, kebebasan serta berbagai kualitas lainnya secara lebih besar bagi sebagian besar mayarakat dengan kemampuan mereka yang lebih besar untuk mengatur lingkungannya.

        Inayatullah (Zulkarimen Nasution,2001:28) mengungkapkan bahwa pembangunan adalah perubahan menuju pola-pola masyarakat yang memungkinkan realisasi yang lebih baik dari nilai-nilai kemanusiaan yang memungkinkan suatu masyarakat mempunyai kontrol yang lebih besar terhadap lingkungannya dan terhadap tujuan politiknya, dan yang memungkinkan warganya memperoleh kontrol yang lebih terhadap diri mereka sendiri individu-individu. Sementara Riyadi (Totok Mardikanto,2010:3) menyatakan bahwa pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan, demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu hidup suatu masyarakat (dan individi-individu di dalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pembangunan itu.

       Dissyanake (Sumadi Dilla,58:2007)mendefinisikan pembangunan sebagai proses perubahan sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dari seluruh atau mayoritas masyarakat tanpa merusak  lingkungan alam dan kultural tempat mereka berada dan berusaha melibatkan sebanyak mungkin anggota masyarakat dalam usaha ini dan menjadikan mereka penentu dari tujuan mereka sendiri. Pada sisi lain, Katzs (Abu Huraerah,2008:12)mengartikan pembangunan sebagai proses yang lebih luas dari masyarakat terhadap suatu keadaan kehidupan yang kurang bernilai kepada keadaan yang lebih bernilai.

     Berdasarkan berbagai definisi di atas, maka kami menyimpulkan bahwa hakekat pembangunan adalah suatu proses perubahan nilai-nilai dalam kehidupan melalui proses-proses yang terencana dan berkesinambungan oleh pemerintah bersama masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana untuk kesejahteraan masyarakat.

     Konsep pembangunan berkelanjutan lahir karena kerusakan lingkungan yang semakin  luas dan meningkat. World Commision on Environment and Development atau WCED) yang dibentuk oleh PBB pada tahun 1993, menghimbau tentang pelaksanaan era baru pertumbuhan ekonomi berdasar pada kebijakan pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. Menurut definisi WCED seperti yang dikutip oleh Mas Achmad Santosa (Emil Salim, 2010:125),  pembangunan berkelanjutan adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka.Kutipan lain dari Mas Achmad Santosa (Emil Salim, 2010:142)adalah pada UU No. 32 Tahun 2009 yang merumuskan pembangunan berkelanjutan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

    Emil Salim (2010:23),15merumuskan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang menghasilkan keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan secara bersamaan dalam tiga jalur pertumbuhan yang terus bergerak maju serta saling berinteraksi.

       Menurut Barbier seperti yang dikutip Suharto (Abu Huraerah,2008:18),menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah proses dan upaya peningkatan kesejahteraan umat manusia yang mesti memperhatikan keselarasan proses interaksi antara sistem biologis, ekonomi dan sosial.

       Sementara Sumarwoto (Sugandhy dan Hakim, 2007: 21) yang dikutip oleh Dian Andrianto, pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai: “Perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial di mana masyarakat bergantung kepadanya. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan, perencanaan, dan proses pembelajaran sosial yang terpadu, viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya, kelembagaan sosialnya, dan kegiatan dunia usahanya”.

      Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka kami menyimpulkan bahwa hakekat pembangunan berkelanjutan adalah bahwa generasi yang hidup saat ini harus mampu bersikap arif dan bijaksana terhadap sumber daya alam yang terbentang di darat, laut dan udara untuk dimanfaatkan dengan memperhatikan prinsip dasar ekologis yaitu: menjaga, memelihara, memanfaatkan serta melestarikan lingkungan guna kehidupan generasi mendatang.

C.  Perkembangan Paradigma Pembangunan

            Pembangunan merupakan konsep berdimensi luas dan senantiasa berkembang seiring dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat. Kartasasmita (Totok Mardikanto,2011:18), menjelaskan bahwa paradigma pembangunan yang berkembang terdiri dari delapan paradigma, yaitu:

           Startegi pertumbuhan. Strategi pertumbuhan bertumpu pada pertumbuhan GNP (Gross National Product) per kapita yang cepat. Kenaikan GNP diharapkan akan “menetes ke bawah” (trickle down effect) kepada masyarakat luas dalam bentuk pekerjaan dan kesempatan ekonomi lainnya. Hal itu berhasil, namun tidak bertahan lama karena kemudian terjadi ketimpangan.

  • Pertumbuhan dan distribusi. Menurut paradigma ini, kesejahteraan tidak hanya dilihat dari besarnya pertumbuhan, tetapi juga ratanya distribusi pembangunan.
  • Teknologi tepat guna. Paradigma ini lahir dari kegagalan teknologi yang padat modal untuk menyediakan lapangan pekerjaan.
  • Kebutuhan dasar. Paradigma ini berpandangan bahwa barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat miskin cenderung lebih bersifat padat tenaga kerja dibandingkan dengan konsumsi masyarakat yang lebih tinggi.
  • Paradigma ketergantungan. Paradigma ini menganalisa interaksi antar struktur internal dan eksternal dalam suatu sistem.
  • Pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini, tanpa merugikan generasi akan datang.
  • Pembangunan Berbasis Pada Masyarakat. Paradigma ini menyatakan bahwa pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia, bukan pada pertumbuhan ekonomi.
  • Pemberdayaan dan Pembangunan Partisipatif. Logika paradigma ini adalah suatu ekologi manusia yang seimbang dengan sumber-sumber daya utama, seperti sumber daya informasi dan prakarsa kreatif yang tujuannya untuk pertumbuhan manusia.

Neil (Abu Huraerah,12:2008)19 mengklasifikasikan paradigma pembangunan sebagai berikut:

  • Pendekatan pertumbuhan ekonomi (economic growth approach) yang bertumpu pada laju GNP per kapita yang cepat.
  • Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) yang bertumpu pada usaha pemenuhan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai kesejahteraan.
  • Pendekatan pembangunan berkelanjutan (sustainable development approach) yang bertumpu pada pilar pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan.
  • Pendekatan pembangunan sosial (social development approach) yang bertujuan untuk membuat mata rantai usaha pembangunan sosial dengan ekonomi.

Menurut Zulkarimen Nasution (43:2001)20paradigma pembangunan terdiri dari:

  • Teori ketergantungan yang menjelaskan tentang keadaan yang mempengaruhi kemajuan ekonomi di negara berkembang yang dibuat oleh individu atau institusi di luar Negara yang bersangkutan
  • Pendekatan kebutuhan pokok yang mengkur kemajuan pembangunan berdasarkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyat yang paling mendasar.
  • Pembangunan berkelanjutan yang memadukan proses produksi dengan konservasi sumber daya manusia dan peningkatan mutu lingkungan.
  • Pendekatan pembangunan manusia yang menekankan pada peningkatan kualitas hidup manusia.
  • Pendekatan pengetahuan untuk pembangunan dan pembangunan berbasis pengetahuan yang mengawinkan pemahaman mengenai peran teknologi dalam pertumbuhan ekonomi.Berdasarkan definisi di atas, maka kami menyimpulkan bahwa paradigma pembangunan yang tepat untuk dilaksanakan di Indonesia adalah paradigma pembangunan berkelanjutan. Paradigma ini mencakup tiga dimensi utama yakni lingkungan sosial dan ekonomi untuk keberlanjutan kehidupan manusia di masa ini dan masa akan datang. Paradigma ini juga sangat tepat untuk dilaksanakan di berbagai Negara di belahan dunia, terlebih lagi dengan terus meningkatnya pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

D. Sejarah Perkembangan Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

      Laju pembangunan telah menimbulkan permasalahan lingkungan hidup Kasus-kasus pencemaran lingkungan juga cenderung meningkat. Kemajuan transportasi dan industrialisasi yang tidak diiringi dengan penerapan teknologi bersih memberikan dampak negatif terutama pada lingkungan perkotaan.Sungai-sungai di perkotaan tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga. Kondisi tanah semakin tercemar oleh bahan kimia baik dari sampah padat, pupuk maupun pestisida

       Masalah pencemaran ini disebabkan masih rendahnya kesadaran para pelaku dunia usaha ataupun kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan kualitas lingkungan yang baik. Mulai tahun 1950-an masalah lingkungan mendapat perhatian serius dari kalangan ilmuwan, politisi maupun masyarakat umum. Perhatian tersebut tidak saja diarahkan pada terjadinya berbagai kasus pencemaran terhadap lingkungan hidup tetapi juga banyaknya korban jiwa manusia.

       Saifullah mencatat bahwa Beberapa kasus lingkungan hidup yang menimbulkan korban manusia seperti pada akhir tahun 1950 yaitu terjadinya pencemaran di Jepang yang menimbulkan penyakit sangat mengerikan yang disebut penyakit itai-itai (aduh-aduh). Penyakit ini terdapat di daerah 3 Km sepanjang sungai Jintsu yang tercemari oleh Kadmium (Cd) dari limbah sebuah pertambangan Seng (Zn). Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kadar Cd dalam beras di daerah yang mendapat pengairan dari sungai itu mengandung kadmium 10 kali lebih tinggi daripada daerah lain. Pada tahun 1953 penduduk yang bermukim disekitar Teluk Minamata, Jepang mendapat wabah penyakit neurologik yang berakhir dengan kematian. Setelah dilakukan penelitian terbukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh air raksa (Hg) yang terdapat di dalam limbah sebuah pabrik kimia. Air yang dikonsumsi tersebut pada tubuh manusia mengalami kenaikan kadar ambang batas keracunan dan mengakibatkan korban jiwa. Pencemaran itu telah menyebabkan penyakit keracunan yang disebut penyakit Minamata.

       Setelah berbagai kemunculan masalah lingkungan yang semakin meningkat dalam setiap tahun, maka kemudian muncul kesadaran masyarakat untuk melaksanakana pembangunan dengan tetap memperhatiakn daya dukung lingkungan. Isu lingkungan hidup kemudian pertama kali menjadi agenda resmi internasional pada Stockholm Conference on the Human Environment tahun 1972. Konferensi ini melahirkan kelembagaan tingkat internasional yang dinamakan United Nations Environment Programme (UNEP). Pada tahun 1980, bersama  International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) mulai memperkenalkan model pembangunan berkelanjutan.

     Pada tahun 1982, UNEP menyelenggarakan sidang istimewa untuk memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan atas penanganan masalah lingkungan saat itu. Dalam sidang istimewa tersebut disepakati pembentukan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission Environment and Development - WCED). WCED adalah komisi independen yang membahsa serta memberikan rekomendasi terhadap persoalan-persoalan lingkungan global. PBB memilih PM Norwegia Nyonya Harlem Brundtland dan mantan Menlu Sudan Mansyur Khaled, masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua WCED (yang dikenal sebagai Komisi Bruntland). Komisi ini mengahasilkan laporan dengan judul “ Our Common Future”, yang membahas berbagai program nyata untuk mengintegrasikan kepedulian lingkungan dan pembangunan ekonomi pada tingkat internasional, nasional serta lokal.

       Pada tahun 1992, 10 tahun setelah penyelenggaraan Konferensi Stockholm, PBB menyelenggarakan Conference on Environment and Development (UNCED). Konferensi ini merupakan konferensi internasional terbesar yang membahas lingkungan hidup pada era itu. UNCED juga merupakan tonggak sejarah bagi pengembangan kebijakan dan hukum lingkungan di tingkat internasional, nasional maupun lokal. Dokumen-dokumen utama yang dihasilkan UNCED adalah: (1) Rio Declaration on Environment and Development (Deklarasi Rio); Agenda 21 (Rencana aksi untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Deklarasi Rio); (3) Konvensi tentang keanekaragaman hayati; (4) the Framework Convention on Climate Change (UNFCC); dan (5) Statement of Principles for a Global Consensus on the Management, Conservation, and Sustainable Development off All Types of Forest (Statement of Forest Principles). Deklarasi Rio yang berisi 27 prinsip merupakan pengembangan dari prinsip Stockholm dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Sementara agenda 21, memuat kebijakan, program, rencana dan pedoman rencana aksi bagi pemerintah di tingkat nasional dalam melaksanakan Deklarasi Rio.

         Perkembangan berikutnya, pada September 2000, 186 pemimpin dunia menghadiri United Nations Millenium Summit. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi Milenium yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari kondisi kemiskinan. Dalam konferensi ini tercetus Millenium Development Goals (MDGs). Deklarasi ini bertekad untuk bersama-sama melawan kemiskinan dan kelaparan, mendorong pendidikan, kesetaraan gender, mengurangi angka kematian bayi, memperbaiki kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya, mendorong keberlanjutan lingkungan dan mendorong kerjasama global dalam pembangunan.

       Setelah pelaksanaan konferensi UNCED, kemudian diselenggarakan World Summit on Sustainable Development (WSSD) di Johannesburg, Afrika Selatan pada tahun 2002. Pada acara ini dibahas evaluasi terhadap efektivitas hasil pertemuan di Deklarasi Rio. Hasil penting dari konferensi ini adalah Political Declaration dan Johannseburg Plan of Implementation (JPOI). Political Declaration tersebut terdiri atas enam bagian yang intinya berupa komitmen untuk melaksanakan JPOI dengan penetapan kerangka waktu untuk mewujudkan capaian-capaian yang terkandung dalam konferensi WSSD. JPOI atau Rencana Aksi Johannesburg terdiri atas 170 paragraf dan secara umum mencakup hal-hal berikut:

  • Mengurangi angka kemiskinan
  • Mengubah pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan
  • Melindungi dan mengelola sumber daya alam sebagai basis pembangunan ekonomi dan sosial
  • Pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan efektif (good governance)
  • Upaya sunguh-sungguh di tingkat global; termasuk di antara para pelaku utama seperti perwakilan Negara-negara, wilayah, badan-badan PBB, multinational development banks dan kelompok masyarakat sipil
  • Kelembagaan di tingkat nasional yang kuat dan partisipatif untuk mengarustamakan pembangunan berkelanjutan.

       Pengelolaan sumberdaya merupakan upaya yang dinamis. Hal ini sesuai dengan perspektif para stakeholder yang senantiasa berkembang. Sebagai implikasi dari perkembangan perspektif tersebut, penyesuaian atau perubahan dapat terjadi pada tujuan, strategi dan kegiatan pengelolaan sumberdaya. Oleh karena itu, berdasarkan konsep-konsep pembangunan berkelanjutan, pemanfaatan sumber daya harus memperhatikan dimensi lain agar lebih komprehensif.

         Paradigma pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meniadakan atau meminimalisir persoalan lingkungan dengan merubah paradigma pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan dan kemajuan ekonomi, yang diganti dengan sebuah pendekatan yang lebih holistik dan integratif dengan memberi perhatian serius, mensinkronkan dan memberi bobot yang sama kepada pembangunan sosial budaya dan pembangunan lingkungan hidup. Pembangunan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup harus dipandang sebagai terkait erat satu sama lain, sehingga unsur-unsur dari kesatuan yang saling terkait tersebut tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan yang lainnya.

      Setelah dikeluarkannya deklarasi tersebut, sejarah juga mencatat akan banyaknya peristiwa lingkungan hidup seperti : pencemaran di darat, air dan udara, pemanasan global, pelubangan lapisan ozon, sampai pada berkurangnya sumber daya alam dan energi. Gangguan terhadap mata rantai ekosistem ini terjadi salah satunya disebabkan oleh kegiatan perekonomian yang menjadikan sumber daya alam dan energi menjadi modal utama berlangsungnya proses pembangunan ekonomi. Keberpihakan akan kemajuan ekonomi inilah yang mengakibatkan sumber daya alam dan energi menjadi korban bagi kemajuan pembangunan.

         Menyadari akan hal tersebut maka aspek kelestarian lingkungan hidup untuk kesinambungan kehidupan antar generasi menjadi komitmen mutlak yang mendasari setiap kebijakan pengelolaan lingkungan hidup setiap negara di masa kini maupun masa mendatang. Prinsip dasar seperti ini diharapkan setiap negara mampu untuk mengaktualisasikan komitmen ini agar dapat mengantisipasi segala akibat yang akan terjadi sehingga dapat memperkecil malapetaka lingkungan bagi umat manusia. Hal ini disebabkan masalah lingkungan hidup yang terjadi di suatu negara dapat memberikan dampak buruk bagi negara lain, dalam arti masalah lingkungan sudah tidak mengenal lagi akan batas-batas negara atau lintas negara dan bersifat global.

Gambar 1

Hubungan Antar Kepentingan Ekonomi, Sosial Dan Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

       Dalam pembangunan berkelanjutan, konsep pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan berusaha untuk diintegrasikan agar pembangunan tetap menjamin kehidupan yang layak bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan.

       Emil Salim ( Sugandhy dan Hakim, 2007: x) yang dikutip oleh Dian Andrianto22 mengatakan bahwa: “Supaya pembangunan dapat berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan generasi masa kini tanpa memperkecil kesempatan bagi generasi masa depan menaikkan kesejahteraan mereka nanti, maka sasaran pembangunan ekonomi perlu menunjang, dan ditunjang oleh sasaran pembangunan sosial, dan lingkungan. Begitu pula sasaran pembangunan sosial menunjang tercapainya sasaran pembangunan ekonomi dan lingkungan dan pembangunan lingkungan menopang tercapainya sasaran pembangunan ekonomi, dan sosial”.

       Dalam penjelasan di awal telah digambarkan bahwa  pembangunan berkelanjutan berkonsentrasi pada pilar pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara sekaligus. Menurut Kemp dan Martens (Dian Andrianto)Akhir-akhir ini, ketiga pilar tersebut kadang disamakan dengan P3 Concept, yaitu people, planet, and profits tetapi mereka tidaklah berbeda secara prinsipil. Secara sederhana, hubungan ketiga pilar tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

      Pilar lingkungan (environment) adalah wilayah yang mengalami dampak ekologis langsung akibat usulan kebijakan atau proyek. Sementara itu, lingkup keberlanjutan ekonomi (economic) dan sosial (social) adalah batas administratif lokal. Bila dampak ekonomi dan sosial dirasakan lintas wilayah, maka batas administrasi yang digunakan adalah semua wilayah yang terkena dampak.

       Dalam pernyataan yang hampir senada, Kemp dan Martens juga mengatakan bahwa: “economy refers to jobs and wealth; environment to environmental qualities, biodiversity, and nature’s resources; and society to health, social cohesion, and opportunities for self-development attributable to education and freedom” (ekonomi menunjuk pada pekerjaan dan kesejahteraan; lingkungan pada kualitas lingkungan, biodiversitas, dan sumber daya alamiah; dan sosial pada kesehatan, kekerabatan sosial, dan kesempatan bagi self-development attributable untuk pendidikan dan kebebasan).

    Kus Adi Nugroho menjelaskan bahwa pola hubungan indikator  ekonomi, sosial dan lingkungan mempengaruhi sustainability index, yaitu suatu nilai yang digunakan dalam pembuatan keputusan suatu sistem. Pola hubungan ini dapat dilihat pada gambar berikut.

      Pola tersebut dapat diartikan: Suatu pembangunan dikatakan “bearable“ atau „nyaman“ apabila pembangunan tersebut memenuhi kriteria sosial dan lingkungan sehingga manusia dan alam dapat berkesinambungan. Namun kondisi ini belum dikatakan “sustainable“ atau „berkelanjutan“ karena secara ekonomi tidak memenuhi. Suatu pembangunan juga dikatakan sebagai “viable“ atau „dapat berjalan“ apabila pembangunan tersebut memenuhi kriteria lingkungan dan ekonomi. Namun, karena kondisi ini tidak dapat disinambungkan dengan kondisi sosial manusia, maka kondisi ini belum disebut sustainable. Pembangunan yang hanya memenuhi kriteria sosial dan ekonomi saja disebut sebagai “equitable“ atau dalam terjemahan kasarnya sebagai “adil“ secara ekonomi dan sosial, namun karena tidak memnuhi kriteria lingkungan, kondisi ini tidak sustainable. Untuk mencapai kondisi yang sustainable, kriteria sosial yaitu persamaan hak antara manusia, kriteria lingkungan yaitu preservasi dan konservasi alam, dan juga ekonomi yaitu efisiensi yang tinggi, harus dipenuhi.

       Berdasarkan uraian tersebut, maka kami menyimpulkan bahwa pola hubungan antara pilar ekonomi, sosial dan ekologi atau lingkungan saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan. Bila satu pilar saja yang dibangun dan pilar lain diabaikan, maka akan terjadi ketimpangan. Akibatnya kelangsungan hidup seluruh makhluk penghuni bumi pun terancam dan jauh dari kesejahteraan. Pembangunan yang bergerak maju dalam waktu yang bersamaan akan menjamin keberlanjutan hidup.

E. Ciri dan Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

        Pembangunan berkelanjutan perlu dilakukan karena dorongan berbagai hal, salah satunya adalah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pelaksanaan pembangunan. Pengalaman negara maju dan negara berkembang menunjukkan bahwa pembangunan selain mendorong kemajuan juga menyebabkan kemunduran karena dapat mengakibatkan kondisi lingkungan rusak sehingga tidak lagi dapat mendukung pembangunan. Pelaksanaan pembangunan akan berhasil baik apabila didukung oleh lingkungan (sumber daya alam) secara memadai.

      Kesadaran umat manusia pada masalah lingkungan hidup semakin meluas yaitu dengan diadakannya Konferensi PBB tentang lingkungan hidup manusia di Stockholm, Swedia tanggal 5-16 Juni 1972. Konferensi ini merupakan perwujudan kepedulian bangsa-bangsa di dunia akan masalah lingkungan hidup dan merupakan komitmen prima bagi tanggung jawab setiap warga negara untuk memformulasikannya dalam setiap kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Hasil dari konferensi ini adalah : (1) Deklarasi tentang Lingkungan Hidup Manusia, terdiri atas mukadimah  dan 26 prinsip dalam Stockholm Declaration ; (2) Rencana Aksi Lingkungan Hidup Manusia (Action Plan) yang terdiri dari 109 rekomendasi. Deklarasi dan rekomendasi dari konferensi ini dapat dikelompokkan menjadi lima bidang utama yaitu pemukiman, pengelolaan sumber daya alam, pencemaran, pendidikaan dan pembangunan. Deklarasi Stockholm juga menyerukan agar bangsa-bangsa di dunia mempunyai kesepakatan untuk melindungi kelestarian dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup bagi kehidupan manusia.

Ciri-ciri Pembangunan Berkelanjutanmenurut Yudi Pramanayaitu:

  • Menjamin pemerataan dan keadilan, yaitu generasi mendatang memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam sehingga berkelanjutan.
  • Menghargai dan melestarikan keanekaragaman hayati, spesies, habitat, dan ekosistem agar tercipta keseimbangan lingkungan.
  • Menggunakan pendekatan intergratif sehingga terjadi keterkaitan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan untuk masa kini dan mendatang.
  • Menggunakan padangan jangka panjang untuk merencanakan rancangan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang mendukung pembangunan.
  • Meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
  • Memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang dan mengaitkan bahwa pembangunan ekonomi harus seimbang dengan konservasi lingkungan.

     Maria Ningsihmenyebutkan bahwa ciri-ciri suatu pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan berkelanjutan adalah sebagai berikut:

  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu meminimalkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.
  • Pembangunan yang dilaksanakan harus memerhatikan keseimbangan antara lingkungan fisik dan lingkungan emosi.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan serta memerhatikan moral atau nilai-nilai adat yang dianut dalam masyarakat.
  • Pembangunan yang dilaksanakan harus memiliki sifat-sifat fundamental dan ideal serta berjangka pendek dan panjang.
  • Pembangunan yang dilaksanakan harus memperluas lapangan dan kesempatan kerja.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu melakukan pemerataan atau keseimbangan kesejahteraan hidup antargolongan dan antardaerah.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu menunjukkan peningkatan produksi nasional, ditunjukkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi.
  • Pembangunan nasional harus berpedoman untuk selalu mempertahankan stabilitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan nasional.

Soegiharsono menjelaskan bahwa ciri-ciri pembangunan berkelanjutan adalah:

  • Menjamin pemerataan dan keadilan; strategi pembangunan yang berkelanjutan dilandasi oleh pemerataan distribusi lahan dan faktor produksi, lebih meratanya kesempatan perempuan, dan pemerataan ekonomi untuk kesejahteraan.
  • Menghargai keanekaragaman hayati; keanekaragaman hayati merupakan dasar bagi tatanan lingkungan. Pemeliharaan keanekaragaman hayati memiliki kepastian bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berlanjut untuk masa kini dan masa yang akan datang.
  • Menggunakan pendekatan integratif; dengan menggunakan pendekatan integratif, maka keterkaitan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan dapat dimungkinkan untuk masa kini dan yang akan datang.
  • Menggunakan pandangan jangka panjang; untuk merencanakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang mendukung pembangunan agar secara berlanjut dapat digunakan dan dimanfaatkan.

     Berdasarkan ulasan tentang ciri-ciri pembangunan berkelanjutan seperti di atas, maka kami menyimpulkan bahwa ciri-ciri pembanguan berkelanjutan adalah:

  • Memperhatikan daya dukung lingkungan sehingga dapat mendukung kesinambungan pembangunan.
  • Meminimalisasi dampak pencemaran dan kerusakan lingkungan.
  • Dilakukan dengan perencanaan yang matang dengan mengetahui dan memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki dan yang mungkin timbul di belakang hari.
  • Melibatkan partisipasi warga masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di sekitar lokasi pembangunan.

       Setelah dikeluarkannya Deklarasi Stockholm, sejarah juga mencatat akan banyaknya peristiwa lingkungan hidup seperti: pencemaran di darat, air dan udara, pemanasan global, pelubangan lapisan ozon, sampai pada berkurangnya sumber daya alam dan energi. Gangguan terhadap mata rantai ekosistem ini terjadi salah satunya disebabkan oleh kegiatan perekonomian yang menjadikan sumber daya alam dan energi menjadi modal utama berlangsungnya proses pembangunan ekonomi. Keberpihakan akan kemajuan ekonomi ini yang mengakibatkan sumber daya alam dan energi menjadi korban bagi kemajuan pembangunan.

      Dalam pelaksanaannya, pembangunan berkelanjutan menganut berbagai prinsip. Menurut United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang dikutip oleh Mas Achmad Santosa (Emil Salim,127;2010)prinsip pembangunan berkelanjutan adalah:

  • Prinsip keadilan dalam satu generasi (intragenerational equity) yang menekankan pada keadilan dalam sebuah generasi umat manusia dalam pemenuhan kualitas hidup.
  • Prinsip pencegahan dini (precautionary principle) yang mengandung pengertian bahwa apabila terdapat ancaman berarti atau adanya acaman kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan, ketiadaan temuan alasan untuk pembuktian ilmiah yang konkluksif dan pasti, tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan tersebut.
  • Prinsip perlindungan keragaman hayati (conservation of biological diversity); yang memandang potensi keragaman hayati memberikan arti penting bagi kesinambungan kehidupan umat manusia. Apalagi laju kerusakan dan kepunahan keragaman hayati semakin besar maka akan berakibat fatal bagi kelangsungan kehidupan umat manusia.
  • Internalisasi biaya lingkungan (Internalisation of environmental cost and incentive mechanism); Rasio pentingnya diberlakukan prinsip ini berangkat dari suatu keadaan di mana penggunaan sumber daya alam kini merupakan kencenderungan atau reaksi dari dorongan pasar.

     Pemikiran Supardi yang dikutip oleh Akhmad Solihin menyebutkan bahwa prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan adalah:

  • Menghormati dan memelihara komunitas kehidupan
  • Memperbaiki kualitas hidup manusia
  • Melestarikan daya hidup dan keragaman bumi
  • Menghindari sumber daya – sumber daya yang tidak terbarukan
  • Berusaha tidak melampaui kapasitas daya dukung bumi
  • Mengubah sikap dan gaya hidup orang per orang
  • Mendukung kreativitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri
  • Menyediakan kerangka kerja nasional untuk memadukan upaya pembangunan pelestarian
  • Menciptakan kerja sama global.

       Sementara WCED (Abu Huraerah,17:2008) menyebutkan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan adalah menjamin terciptanya kesempatan yang merata dan adil bagi semua orang serta meningkatkan potensi produksi dengan pengelolaan yang ramah lingkungan hidup.

       Berdasarkan berbagai uraian di atas, maka kami menyimpulkan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan melestarikan, memelihara, menjaga serta meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menyeimbangkan pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan. Menyadari akan hal tersebut pula, maka aspek kelestarian lingkungan hidup untuk kesinambungan kehidupan antar generasi menjadi komitmen mutlak yang mendasari setiap kebijakan pengelolaan lingkungan hidup setiap negara di masa kini maupun masa mendatang. Dengan prinsip dasar seperti ini diharapkan setiap negara mampu untuk mengaktualisasikan komitmen ini agar dapat mengantisipasi sejauh mungkin segala akibat yang akan terjadi sehingga dapat memperkecil malapetaka lingkungan bagi umat manusia.

F. Pendekatan dan Strategi Pembangunan Berkelanjutan 

      Pendekatan dalam pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk membantu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Pendekatan yang dilakukan WCED seperti dikutip oleh Saifullah terhadap lingkungan dan pembangunan dari enam aspek yaitu : keterkaitan, berkelanjutan, pemerataan, sekuriti dan resiko lingkungan, pendidikan dan komunikasi serta kerjasama internasional. Untuk itu haruslah diterap. Pertama adalah kebutuhan untuk menjamin penyebarluasan etika mengenai kehidupan yang berkesinambungan serta terciptanya komitmen masyarakat secara mendalam terhadap etika baru tersebut. Kedua adalah upaya untuk mengejawantahkan prinsip-prinsip dalam etika tersebut ke dalam tindakan nyata. Selain itu yang sangat diperlukan adalah memadukan konservasi dan pembangunan; konservasi untuk menjaga agar aktivitas kehidupan kita tetap berada di dalam kapasitas daya dukung bumi, dan pembangunan yang memungkinkan semua orang di manapun juga dapat menikmati hidup yang panjang, sehat sejahtera dan bermakna.

         Menurut Emil Salim seperti yang juga dikutip oleh Absori31, untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dibutuhkan pendekatan ekosistem dengan melihat interdepedensi dari setiap komponen ekosistem. Agar keberlanjutan tetap terjaga harus ada komitmen setiap komponen penyangga kehidupan dan campur tangan pemerintah dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat. Dunia usaha yang selama ini dituduh sebagai pelaku yang menimbulkan kerusakan dan pencemaran harus dipahamkan akan tangung jawabnya terhadap lingkungan yang dapat diwujudkan dalam bentuk membayar kompensasi jasa lingkungan yang nantinya dapat digunakan untuk membiayai pemulihan lingkungan yang rusak atau tercemar.

           Berdasarkan berbagai uraian tersebut, maka kami menyimpulkan bahwa pendekatan konservasi, kemitraan dan integratif akan sangat mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Berbagai pendekatan ini akan menunjang  keberhasilan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

             Selain pendekatan, hal lain yang juga sangat penting untuk mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan adalah adanya strategi pembangunan berkelanjutan. Strategi Pembangunan Berkelanjutan adalah strategi pembangunan yang disatu pihak mengacu pada pemanfaatan sumber-sumber alam maupun sumber daya manusia secara optimal, dan di lain pihak pada saat yang sama memelihara keseimbangan optimal diantara berbagai tuntutan yang saling bertentangan terhadap sumber-sumber daya tersebut. Di sini ada dua pihak yang saling berkait yaitu: (a) Daya dukung sumber daya dan (b) solidaritas transgenerasi. Bagaimana kita mengekang diri untuk tidak merusak sumber daya yang ada, agar dapat bersikap adil terhadap masa depan umat manusia atau generasi mendatang (Ignas Kleden, 1992; Emil Salim, 1992).

        Strategi Pembangunan berkelanjutan seringkali juga disebut sebagai strategi pembangunan yang berwawaskan lingkungan atau yang memperhatikan kelestarian. Ada dua macam kelestarian yang harus dicapai yaitu: (a) Kelestarian fisik yang mengacu kepada daya dukung sumber daya alam, (meliputi pengelolaan sumber daya alam, analisa dampak lingkungan, dan pengembangan sumber daya manusia; dan (b) Ketahanan sosial (berkaitan dengan tekanan demografi terhadap lahan pertanian, desentralisasi pemerintahan dan kebijakan, dan perlunya penataan institusi yang dapat menciptakan kesempatan yang sama terhadap semua orang (Kleden, 1992). Strategi integrasi tersebut meliputi (i); pengembangan pendekatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan; (ii), pengembangan pendekatan pencegahan pencemaran; (iii) , pengembangan sistem neraca ekonomi, sumber daya alam dan lingkungan ( Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1997 ).

           Menarik untuk mereview tiga isu strategis pembangunan yang dulu lebih dikenal dengan istilah Trilogi Pembangunan dan memodifikasi salah satu logi ” paradigma stabilitas menjadi sustainabilitas”. Menurut Imansyah, urutanya adalah (1) Pemerataan, (2) Pertumbuhan, (3) Sustainabilitas.Pemerataan (Equity), merupakan isu strategis pemerataan menyangkut aset, proses, dan hasil pembangunan. Pemerataan aset – aset produksi seperti lahan, modal/kredit, teknologi, informasi, dan kesempatan usaha yang didukung kebijakan dan kepastian hukum, sebagai modal dasar pembangunan. Sinergi yang dicapai anatar aktor dan sektor pembangunan menjadi dasar bagi pertumbuhan dan keberlanjutan. Pertumbuhan (Growth), merupakan isu strategis dalam mengembangkan potensi dan mengakselerasikan dinamika pembanguan dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya dan inovasi, guna mencapai pertumbuhan yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Keberlanjutan (Sustainability), merupakan isu strategis dalam mengharmoniskan daya dukung lingkungan dan dinamika pembangunan agar dapat dicapai manfaat antar kelompok masyarakat maupun antar generasi secara adil.

      Berdasarkan uraian di atas, maka kami menyimpulkan bahwa strategi pembangunan berkelanjutan terdiri dari analisis dampak lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan. Berbagai strategi pembangunan berkelanjutan akan menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

G. Perencanaan Partisipatif Dalam Pembangunan Berkelanjutan

      Dalam proses pembangunan berkelanjutan terdapat proses perubahan yang terencana, yang di dalamnya terdapat eksploitasi sumberdaya, arah investasi orientasi pengembangan teknologi,perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam keadaan yang selaras, serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan.

          Perencanaan pembangunan merupakan hal yang paling penting bagi keberhasilan pembangunan. Perencanaan yang tepat akan akan menghasilkan dampak yang baik terhadap masyarakat dalam konteks dapat mencapai tujuan pembangunan. Sebaliknya, perencanaan yang tidak tepat akan membawa yang tidak baik terhadap keberhasilan tujuan pembangunan.

       Dalam realitasnya, perencanaan pembangunan yang telah disusun dan dilaksanakan seringkali tidak dapat memuaskan keinginan masyarakat. Masyarakat mempersoalkan tentang program atau rencana kegiatan yang tidak mereka perlukan, tidak menyetujui kebijakan yang diambil pemerintah atau keluhan tidak dapat menikmati hasil pembangunan yang telah direncanakan tersebut. Atas dasar itu, maka seharusnya perencanaan partisipatif dijalankan agar dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat. Melalui perencanaan partisipatif, masyarakat sendiri yang terlibat penuh dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan perumusan program. Dalam proses perencanaan partisipatif, masyarakat akan lebih bebas dan terbuka dalam mengartikulasikan keinginan-keinginan dan kebutuhannya. Begitupula perencanaan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan. Perencanaan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan akan sangat membantu keberhasilan dalam mengintegrasikan pilar ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai kesejahteraan.

    Abu Huraerah (67:2008) menyatakan bahwa perencanaan partisipatif  adalah suatu proses perencanaan program pengembangan masyarakat yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat dan stakeholders seperti: tokoh masyarakat (tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh wanita, tokoh pemuda) dan aparat pemerintahan. Keterlibatan masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam mengidentifikasi masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, merumuskan dan menyeleksi alternatif tindakan atau program dan mengimplementasikan program, serta melakukan monitoring dan evaluasi program.

     Andi Satyumitramengutip pernyataan Bahua tentangperencanaan pembangunan partisipatif yang dirumuskan sebagai upaya untuk meberdayakan potensi masyarakat dalam merencanakan pembangunan yang berkaitan dengan potensi masyarakat dalam merencanakan pembangunan yang berkaitan denngan potensi sumber daya lokal berdasarkan kajian musyawarah, yaitu peningkatan aspirasi berupa keinginan dan kebutuhan nyata yang ada dalam masyarkat, peningkatan motivasi dan peran serta kelompok masyarakat dalam proses pembangunan dan peningkatan rasa memiliki terhadap program kegiatan yang telah disusun

        Wicaksono dan Sugiarto yang dikutip oleh Agus Harto Wibowo yang mendefinisikan perencanaan pembangunan partisipatif sebagai usaha yang dilakukan masyarakat untuk memecahkan salah yang dihadapi agar mencapai kondisi yang diharapkan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat secara mandiri.

         Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, maka kami menyimpulkan bahwa perencanaan partisipatif pembangunan adalah usaha suatu perencanaan yang secara sadar disusun bersama oleh pemerintah, masyarakat, pihak swasta maupun perguruan tinggi untuk memilih alternatif terbaik dalam pelaksanaan pembangunan, agar pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

      Perencaaan partispatif memiliki berbagai siklus. Menurut Abu Huraerah (67:2008) 37 perencanaan partisipatif memiliki lima tahap, yaitu:

  • Identifikasi masalah dan needs assessment. Identifikasi masalah sangat erat kaitannya dengan needs assessment (penilaian kebutuhan). Kebutuhan dapat didefiniskan sebagai kekurangan yang mendorong masyarakat untuk mengatasinya. Penilaian kebutuhan adalah penentuan besar atau luasnya suatu kondisi dalam suatu populasi sasaran (masyarakat) yang ingin diperbaiki atau penentuan kekurangan dalam kondisi yang ingin direalisasikan. Metode yang digunakan untuk identifikasi masalah dan penilaian kebutuhan adalah:
  • Brainstorming. Metode untuk menampung berbagai aspirai, pendapat, saran-saran dar populasi sasaran (masyarakat) dana membahasnya secara bersama-sama.
  • Focus Group Discussion. Diskusi yang dirancang khusus membicarakan suatu masalah secara terfokus.
  • Participatory Decision Making. Metode pengambilan keputusan yang dilakukan secara bersama-sama populasi sasaran dan stakeholders.
  • Stakeholders Analysis. Analisis terhadap peserta atau pengurus dan anggota suatu program, suatu proyek pembangunan atau organisasi sosial tertentu tentang isu-isu yang terjadi di lingkungan seperti relasi kekuasaan, pengaruh, dan kepentingan-kepentingan berbagai pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan.
  • Beneficiary Assessment. Pengidentifikasian masalah sosial yang melibatkan konsultasi secara sistematis dengan para penerima pelayanan sosial.
  • Penentuan Tujuan. Tujuan perencanaan partisipatif:
    • Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya proses partisipasi.
    • Menggali masukan, pendapat, usulan dan saran-saran dari masyarakat guna memperkuat dan mendukung program pengembangan masyarakat.
    • Menumbuhkan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan kebutuhannya.
    • Mampu merumuskan dan meyeleksi alternatif tindakan dan mengimpelmentasikan program.
    • Mampu melakukan monitoring dan evaluasi program secara partisipatif.
  • Penyusunan dan pengembangan perencanaan partisipatif. Para perencana bersama-sama masyarakat menyusun pola rencana intervensi yang komprehensif. Pola tersebut menyangkut strategi-strategi, tugas-tugas dan prosedur-prosedur yang ditujukan untuk membantu kebutuhan-kebutuhan dan pemecahan masalah.
  • Pelaksanaan. Impelementasi program pembangunan pada dasarnya merupakan proses penerapan metode dan pendayagunaan sumber-sumber (sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya finansial) untuk menghasilkan barang-barang pelayanan sosial bagi kepentingan sosial sesuai dengan tujuan dan sasaran program.
  • Monitoring dan evaluasi. Monitoring adalah pemantauan secara terus-menerus dalam proses perencanaan dan pelaksaan kegiatan. Evaluasi adalah kegiatan menilai secara keseluruhan tentang suatu kegiatan yang telah dilaksnakan sesuai rencana atau ketentuan yang telah disusun sebelumnya.

Alexander Abe yang dikutip oleh Agus Harto Wibowo, merumuskan tahapan perencanaan partisipatif sebagai berikut:

  • Penyelidikan. Penyelidikan adalah sebuah proses untuk mengetahui, menggali dan mengumpulkan persoalan-persoalan bersifat lokal yang berkembang di masyarakat.
  • Perumusan masalah. Perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penyelidikan. Data atau informasi yang telah dikumpulkan diolah sedemikian rupa sehingga diperoleh gambaran yang lebih lengkap, utuh dan mendalam. Untuk mencapai perumusan, pada dasarnya dilakukan suatu proses analisis atas informasi, data dan pengalaman hidup masyarakat. Tidak semua yang disampaikan masyarakat harus diterima, namun pada saat inilah momentum untuk bersama-sama masyarakat memilah-milah segi yang merupakan kebutuhan dan yang sekedar keinginan.
  • Identifikasi daya dukung. Daya didukung tidak diartikan sebagai dana kongkrit (uang), melainkan keseluruhan aspek yang bisa memungkinkan terselenggaranya aktifitas dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Pemahaman mengenai daya dukung ini diperlukan agar rencana kerja yang disusun tidak bersifat asal-asalan, tetapi benar-benar merupakan hasil perhitungan yang matang.
  • Perumusan tujuan. Tujuan adalah kondisi yang hendak dicapai, sesuatu keadaan yang diinginkan (diharapkan), dan karena itu dilakukan sejumlah upaya untuk mencapainya.
  • Menetapkan langkah-langkah secara rinci. Penetapan langkah-langkah adalah proses menyusun hal yang akan dilakukan. Proses ini merupakan proses membuat rumusan yang lebih utuh atau sebuah rencana tindak. Suatu rencana tindakan memuat: (1) hal yang akan dicapai, (2) kegiatan yang hendak dilakukan, (3) pembagian tugas atau pembagian tanggung jawab (siapa bertanggung jawab atas apa), dan (4) waktu (kapan dan berapa lama kegiatan akan dilakukan).
  • Merancang anggaran. Perencanaan anggaran adalah suatu usaha untuk menyusun alokasi anggaran atau sumber daya yang tersedia. Kekeliruan dalam menyusun alokasi, akan membuat suatu rencana kandas di tengah jalan. Anggaran juga bisa bermakna sebagai sarana kontrol.

        Tjokroamidjojo yang dikutip oleh Agus Harto Wibowo39,merumuskan bahwa tahap-tahap dalam suatu proses perencanaan terdiri dari:v Penyusunan rencana yang meliputi tinjauan keadaan sebelum memulai suatu rencana (review before take off) maupun tinjauan terhadap pelaksanaan rencana sebelumnya (review of performance), perkiraan keadaan masa yang akan dilalui rencana (forecasting), penetapan tujuan rencana (plan objectives) dan pemilihan cara-cara pencapaian tujuan rencana, identifikasi kebijakanatau kegiatan usaha yang perlu dilakukan dalam rencana serta pengambilan keputusan sebagai persetujuan atas suatu rencana.

  • Penyusunan program rencana yang dilakukan melalui perumusan yang lebih terperinci mengenai tujuan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu, suatu perincian jadwal kegiatan, jumlah dan jadwal pembiayaan serta penentuan.
  • Pelaksanaan rencana yang terdiri atas eksplorasi, konstruksi dan operasi. Dalam tahap ini, kebijakan-kebijakan perlu diikuti implikasi pelaksanaannya.
  • Pengawasan atas pelaksanaan rencana yang bertujuan untuk mengusahakan supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan rencana, apabila terdapat penyimpangan maka perlu diketahui penyimpangan tersebut, penyebabnya serta dilakukannya tindakan korektif terhadap adanya penyimpangan. Untuk maksud tersebut, maka diperlukan sustu sistem monitoring dengan mengusahakan pelaporan dan feedback yang baik daripada pelaksana rencana.
  • Evaluasi untuk membantu kegiatan pengawasan, yang dilakukan melalui suatu tinjauan yang berjalan secara terus menerus (concurrent review).

    Seluruh tahap atau siklus perencanaan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk mengintegrasikan keberlanjutan pada bidang ekonomi, sosial dan ekologi. Masyarakat akan semakin merasakan pentingnya berpartispasi untuk meningkatkan taraf hidupnya dan menyelesaikan berbagai masalah ketimpangan sosial dan lingkungan yang terjadi dalam kehidupannya.

H. Peranan Komunikasi Dalam Pembangunan Berkelanjutan

         Komunikasi dan pembangunan adalah dua hal yang tidak dapat pisahkan. Komunikasi merupakan instrument untuk mencapai tujuan pembangunan. Melalui komunikasi, maka masalah-masalah atau tantangan dalam pembangunan akan dapat diselesaikan secara bersama. Komunikasi yang terjalin antara pemerintah dengan seluruh stakaholders pun akan membangun partisipasi masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan.

          Sama halnya dengan pembangunan pada umumnya, maka pembangunan berkelanjutan juga membutuhkan komunikasi yang intensif antara berbagai pihak dalam pelaksanaan pembangunan. Komunikasi juga memiliki peranan yang tidak dapat diabaikan dalam pembangunan berkelanjutan, terlebih lagi untuk mengintegrasikan pilar ekonomi, sosial dan ekologi dalam pembangunan. Tentu komunikasi menjadi instrument yang paling vital dalam merencanakan pembangunan berkelanjutan hingga mencapai tujuan yang diharapkan.

        Everett M. Rogers (Mukti Sitompul) mengatakan komunikasi tetap dianggap sebagai perpanjangan tangan para perencana pemerintah, dan fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat dan partisipasi mereka dalam pelaksanaan rencana-rencana pembangunan.

Gugum Gumilar, mengutip karya Schramm yang merumuskan peranan komunikasi dalam pembangunan, yaitu :

  • Menyampaikan kepada masyarakat, informasi tentang pembangunan nasional, agar mereka memusatkan perhatian pada kebutuhan akan perubahan, kesempatan dan cara mengadakan perubahan, sarana-sarana perubahan, dan membangkitkan aspirasi nasional.
  • Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan keputusan, memperluas dialog agar melibatkan semua pihak yang membuat keputusan mengenai perubahan, memberikesempatan kepada para pemimpin masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan pendapat rakyat kecil, dan menciptakan arus informasi yang berjalan lancar dari bawah ke atas.

Hedebro (Gugum Gumilar)merumuskan 12 peran yang dapat dilakukan komunikasi dalam pembangunan, yaitu:

  • Komunikasi dapat menciptakan iklim bagi perubahan dengan membujukkan nilai-nilai, sikap mental, dan bentuk perilku yang menunjang modernisasi.
  • Komunikasi dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan baru, mulai dari baca-tulis ke pertanian, hingga ke keberhasilan lingkungan.
  • Media massa dapat bertindak sebagai pengganda sumber-sumber daya pengetahuan.
  • Media massa dapat mengantarkan pengalaman-pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri, sehingga mengurangi biaya psikis yang ekonomis untuk menciptakan kepribadian yang mobile.
  • Komunikasi dapat meningkatkan aspirasi yang merupakan perangsang untuk bertindak nyata.
  • Komunikasi dapat membantu masyarakat menemukan norma-norma baru dan keharmonisan dari masa transisi.
  • Komunikasi dapat membuat orang lebih condong untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di tengah kehidupan bermasyarakat.
  • Komunikasi dapat mengubah struktur kekuasaan pada masyarakat yang bercirikan tradisional, dengan membawakan pengetahuan kepada massa. Mereka yang beroleh informasi, akan menjadi orang yang berarti, dan para pemimpin tradisional akan tertantang oleh kenyataan bahwa ada orang-orang lain yang juga mempunyai kelebihan dalam hal memiliki informasi.
  • Komunikasi dapat menciptakan rasa kebangsaan sebagai sesuatu yang mengatasi kesetiaan-kesetiaan lokal.

         Berdasarkan uraian para ahli tentang peranan komunikasi dalam pembangunan, maka kami merumuskan bahwa peranan komunikasi dalam pembangunan berkelanjutan adalah sebagai alat untuk menyampaikan berbagai informasi tentang pembangunan berkelanjutan, sehingga seluruh stakeholder dapat berpartisipasi aktif untuk terlibat dalam perencanaan hingga implementasi program pembangunan berkelanjutan.

I. Penutup

         Meningkatnya kebutuhan hidup manusia karena pertambahan jumlah penduduk dunia serta meningkatnya kebutuhan hidup manusia di satu pihak, dan kemapuan teknologi modern yang mempermudah manusia mengolah sumberdaya alam yang terbatas, seringkali melupakan kearifan lingkungan. Untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial dan ekologi, maka konsep pembangunan yang tepat untuk dilaksanakan adalah pembangunan berkelanjutan. Pelaksanaan konsep pembangunan berkelanjutan akan mengikis kecemburuan sosial, meningkatkan perekonomian serta melestarikan keanekaragaman hayati sebagai sumber bahan makanan manusia di bumi. Pilar ekonomi, sosial dan lingkungan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Penyatuan ketiga pilar tersebut juga akan mengurangi dampak kerusakan lingkungan dan sosial yang terus meningkat.

       Pembangunan berkelanjutan harus direncanakan melalui perencanaan partisipatif yang melibatkan seluruh stakeholders dalam kehidupan masyarakat. Segenap stakeholders pembangunan perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan agar dapat merumuskan berbagai tujuan, indikator dan sasaran pembangunan secara tepat. Pembangunan berkelanjutan tanpa didukung oleh komunikasi pasti tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Melalui komunikasi, semua stakeholders pembangunan akan aktif untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan pembangunan berkelanjutan hingga pada pengawasan pembangunan berkelanjutan. Komunikasi juga berperan menghilangkan batas pemisah antara pemerintah dengan stakeholder pembangunan yang lain. Komunikasi menjadi alat vital yang akhirnya menentukan keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU

Abu Hurerah. 2008. Pengoragnisasian dan Pengembangan Masyarakat: Model & Strategi Pembangunan Berbasis Kerakyatan. Bandung: Humaniora.

Dilla, Sumadi. 2007. Komunikasi Pembangunan: Pendekatan Terpadu. Bandung. Simbiosa Rekatama Media.

Edi Suharto. 2005. Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Emil Salim. 2010. Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Everest M.Rogers. Komunikasi dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

Totok Mardikanto. 2010. Pembangunan Komunikasi. Sukoharjo: Sebelas Maret University Press.

Zulkarimen Nasution. 2000. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya.Edisi Revisi. Jakarta.PT Raja Grafindo Persada.

SUMBER INTERNET

Absori.http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1629:Paradigma-pembangunan-lingkungan-hidup&catid=36:kolom-pr2. 21 Maret 2011

AgusHarto wibowo.http://eprints.undip.ac.id/24263/1/AGUS_HARTO_WIBOWO.pdf—ANALISIS PERENCANAAN PARTISIPATIF.21 Maret 2011

AndiPerdanaGumilang.http://suarapembaca.detik.com/read/2010/10/18/075130/471/hari-pangan-sedunia-dan-kelaparan-di -negara-beras.21 Maret 2011.

AndiSayumitrahttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14900/1/09E01051.pdf—–IMPLEMENTASI PERENCANAAN PARTISIPATIF.21 Maret 2011

Anonim.http://metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/06/07/19827/Kawasan-Pemukiman-Kumuh-Semakin-Banyak. 21 Maret 2011.

Anonim.http://www.globalreporting.org/NR/rdonlyres/F54E1AF8-71C6-4ACB-AD2C 726607091D0C/4590/G3_RG_BahasaIndonesia.pdf.21 Maret 2011.

Anonim.http://www.investor.co.id/macroeconomics/penurunan-jumlah-pengangguran-dinilai-belum-memadai/11324.21 Maret 2011.

Dian “Aan” Andrianto http://aanforsmart.blogspot.com/2009/07/konsep-pembangunan-berkelanjutan.html. 21 Maret 2011.

GugumGumilarhttp://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/32319/ Makalah%20Kelompok%20A.pdf?sequence=2.21 Maret 2011

Imansyah.http://savetheworld-now.blogspot.com/2009/09/dari-pembangunan-bertumpu-pada.html.21 Maret 2011.

KusAdiNugroho.http://konversi.wordpress.com/2010/04/30/pembangunan-berkelanjutan-bag-1/.21 Maret 2011.

MariaNingsih.http://www.dokterkimia.com/2010/06/konsep-pembangunan-dan-pembangunan.html.6 April 2011.

Mukti sitompul.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3778/1/komunikasi-mukti.pdf.21 Maret 2011

Saifullah.http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1629:paradigma-pembangunan-lingkungan-hidup&catid=36:kolom-pr2. 21 maret 2011.

Soegiharsono.http://www.crayonpedia.org/mw/LINGKUNGAN_HIDUP_DAN_PEMBANGUNAN_BERKELANJUTAN. 6 April 2011.

Tarmijah.http://tarmijah.blogspot.com/2010/11/strategi-pembangunan-berkelanjutan.html.21     Maret 2011

Yudipramana.http://yudipramana.blogspot.com/2009/04/pembangunan-berkelanjutan-dan-masalah.html.6 April 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s