MAKALAH SOSIOLOGI KOMUNIKASI

SOSIOLOGI SEBAGAI LANDASAN ILMIAH KOMUNIKASI

 

A. Latar Belakang

         Sosiologi sebagai landasan ilmu komunikasi dapat dilihat dari fokus sosiologi yang mempelajari manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, pembentukan kelompok terjadi melalui proses interkasi sosial dan pembentukan masyarakat juga terjadi melalui proses interaksi antarkelompok. Proses pembentukan interaksi kelompok dan masyarakat luas itu terjadi melalui komunikasi. Komunikasi menghasilkan interkasi sosial dan memungkinkan adanya kontak sosial.

           Pembahasan komunikasi selalu berkaitan dengan proses sosial, yakni kegiatan pertukaran pikiran dan modifikasi sistem nilai. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa komunikasi sosial di sebuah masyarakat merupakan proses yang tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai masyarakat itu sendiri. Ini yang membuktikan bahwa sosiologi itu berpengaruh besar dalam tataran komunikasi.

        Sosiologi menjelaskan bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia. Kontak sosial menjadi sangat bermakna karena ada komunikasi, sehingga kehidupan sosial akan menjadi hidup. Tanpa komunikasi interaksi sosial tidak akan terjalin.

            Komunikasi dan sosiologi merupakan dua hal yang saling keterkaitan, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang telah lama berkembang, sedangkan komunikasi merupakan proses interaksi yang berada dalam kajian sosiologi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi menjadi landasan kelahiran dan perkembangan ilmu komunikasi untuk mengkaji kualitas interaksi sosial masyarakat. Pengaruh sosiologi terhadap komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat menghasilkan sebuah sub ilmu kajian yang dinamakan sebagai sosiologi komunikasi.

B. Sejarah Kelahiran Sosiologi Komunikasi

         Asal mula kajian komunikasi di dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx. Karl Marx merupakan salah satu pendiri sosiologi yang beraliran Jerman. Sementara Claude Henri Saint-Simon, August Comte dan Emile Durkheim merupakan ahli sosiologi yang beraliran Perancis.

         Gagasan awal Karl Marx tidak pernah lepas dari pemikiran-pemikiran Hegel. Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Karl Marx, bahkan Karl Marx muda menjadi seorang idealisme justru berasal dari pemikiran-pemikiran Hegel tentang idealisme. Karl marx tua kemudian menjadi seorang materialisme.

       Menurut Ritzer (Burhan Bungin, 18:20090, pemikiran Hegel yang paling utama dalam melahirkan pemikiran-pemikiran tradisional konflik dan kritis ajarannya tentang dialektika dan idealisme. Dialektika merupakan suatu cara berpikir dan citra tentang dunia. Sebagai cara berpikir, dialektika menekankan pada cara berpikir yang lebih dinamis tentang arti penting dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Pada sisi lain, dialektika adalah pandangan tentang dunia bukan tersusun dari struktur yang statis, tetapi terdiri dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi.

        Hegel juga dikaitkan dengan filsafat idealisme yang lebih mementingkan pikiran dan produk mental daripada kehidupan material. Dalam bentuknya yang ekstrem, idealisme menegaskan bahwa hanya konstruksi pikiran dan psikologi yang ada, idealisme adalah suatu proses yang kekal dalam kehidupan manusia, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa proses mental tetap ada walaupun kehidupan sosial dan fisik sudah tidak ada lagi. Idealisme merupakan sebuah produk berpikir yang menekankan tidak saja pada proses mental, namun juga gagasan-gagasan yang dihasilkan dari proses mental itu.

       Pemikiran-pemikiran Habermas sendiri termasuk dalam kelompok kritis. Habermas sendiri menamakan gagasan-gagasan sebagai rekonstruksi materialism historis. Habermas bertolak dari pemikiran Marx, seperti potensi manusia, spesies makhluk dan aktivitas yang berperasaan. Habermas mengatakan bahwa, Marx telah gagal membedakan antara dua komponen analitik yang berbeda, yaitu kerja dan interaksi. Antara kerja dan interaksi sosial, Marx hanya membahas kerja saja dan mengabaikan interaksi sosial. Ritzer (Burhan Bungin,18:2009) mengutip bahwa Habermas berkata: “ ia hanya mengambil perbedaan antara kerja dengan interaksi sosial sebagai titik awalnya”. Pada sepanjang tulisannya, Habermas menjelaskan perbedaan ini, meski ia cenderung menggunakan istilah tindakan rasional purposive dan tindakan komunikatif (interaksi). Dalam The Theory of Communication Action pun ia menyebut tindakan komunkatif ini sebagai bagian dari dasar-dasar ilmu sosial dan teori komunikasi.

       Selama tahun 1970-an Habermas memperbanyak studi-studinya mengenai ilmu-ilmu sosial dan mulai menata ulang teori ktitik sebagai teori komunikasi. Tahap kunci dari perkembangan initermuat dalam kumpulan studi yang ditulis bersama Niklas Lukhmann, yakni Theori der Gesellchaft der Sozialtechnologie (1971); Legitimations problem des Historischen Materialismus (1976); dan berbagai kumpulan esai.

      Sumbangan pemikiran juga diberikan oleh John Dewey, yang sering disebut sebagai the first philosopher of communication itu dikenal hingga kini dengan filsafat pragmatiknya, suatu keyakinan bahwa sebuah ide itu benar jika ia berfungsi dalam praktik. Pragmatisme menolak dualisme pikiran dan materi, serta subjek dan objek. Gagasan-gagasan seharusnya bermanfaat bagi masyarakat, pesan-pesan ide harus tersampaikan dan memberikan kontribusi pada tingkat perilaku orang. Pesan ide membentuk tindakan dan perilaku di lapangan.

     Penjelasan  tersebut juga menegaskan bahwa sejarah sosiologi komunikasi menempuh dua jalur. Pemikiran Comte, Durkheim, Parsons dan Merton, merupakan sumbangan paradigma fungsional bagi kelahiran teori-teori komunikasi yang beraliran struktural fungsional. Sementara sumbangan-sumbangan pemikiran Karl Marx dan Habermas menyumbangkan paradigma konflik bagi kelahiran teori-teori kritis dalam kajian komunikasi.

      Sejak awal, sosiologi telah menaruh perhatian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan interaksi sosial antara seseorang dan orang lain. Hal yang disebut oleh Comte sebagai “social dynamic”, “kesadaran kolektif” oleh Durkheim , “interkasi sosial” oleh Marx serta “tindakan komunikatif” dan “teori komunikasi” oleh Habermas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi.

        Selain yang disumbangkan oleh Karl Marx dan Habermas mengenai teori kritis dalam komunikasi, sumbangan dari perspektif structural fungsional dalam sosiologi yang diajarkan oleh talcot Parsons dengan teori sistem tindakan maupun dengan skema AGIL, serta kajian Robert K. Merton tentang struktur-struktur fungsional, struktur sosial dan anomie merupakan sumbangan-sumbangan yang sangat pentingterhadap lahirnya teori-teori komunikasi.

         Saat ini perspektif teoritis mengenai sosiologi komunikasi bertumpu pada fokus kajian sosiologi mengenai interaksi sosial dan semua aspek yang bersentuhan dengan kajian tersebut. Narwoko dan Suyanto (Burhan Bungin, 20:2009) mengatakan bahwa, kajian tentang interaksi sosial mengisyaratkan adanya fungsi-fungsi komunikasi yang lebih dalam, seperti adanya kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial terjadi bukan semata-mata tergantung tindakan, tetapi juga tergantung pada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut. Sementara aspek penting dari komunikasi adalah bila seseprang memberikan tafsiran kepada sesuatu atau pada kelakuan orang. Dalam komunikasi, persoalan makna juga menjadi sangat penting ditafsirkan oleh seseorang yang mendapat informasi (pemberitaan0 karena makna yang dikirim oleh komunikator dan penerima informasi menjadi sangat subjektif dan ditentukan oleh konteks sosial ketika informasi disebar dan diterima.

C. Konseptualisasi dan Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi

Interaksi sosial dalam berkelompok dan bermasyarakat, yang oleh Habermas disebut sebagai tindakan komunikasi, tidak lain merupakan persepektif sosiologi. Perspektif itu pula yang menjadi objek pengamatan sosiologi komunikasi. Fokus interaksi sosial dalam masyarakat dalam masyarakat adalah komunikasi. Sehubungan dengan hal itu, maka konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep tentang sosiologi, community, communication dan telematika. Konsep-konsep tersebut yang kemudian melahirkan studi-studi integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan studi-studi interelasi sekaligus juga sebagai ruang lingkup dalam studi sosiologi komunikasi.

1)   Sosiologi

     Kata Sosiologi  adalah  berasal  dari  kata  sofie,  yang berarti bercocok  tanam  atau bertanam,  kemudian  berkembang  menjadi  socius  (Bahasa Latin)  yang  berarti  teman atau kawan.  Selanjutnya berkembang  lagi  menjadi  kata  social  yang  berarti berteman,  bersama atau berserikat.

    Hasan Shadily (Burhan Bungin,27:2009), secara khusus kata sosial maksudnya adalah kata sosial secara khusus adalah hal-hal mengenai berbagai kejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Pengertian ini juga mengandung makna bahwa Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakatnya (tidak  sebagai  individu  yang  terlepas    dari  golongan  atau masyarakatnya), dengan  ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agamanya,

Pitirim Sorokin (Soekanto,1:9200) mengemukakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:

  • Hubungan dan pengaruh  timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik).
  • Hubungan  dengan  pengaruh  timbal  balik  antara  gejala  sosial  dengan gejala non sosial (misalnya gejala geografis dan biologis).

       Roucek  dan Warren  (Soekanto,19:2003)  mengemukakan  bahwa  sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff  (Soekanto,19:2003) berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara  ilmiah  terhadap  interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.

       Selo Soermadjan dan Soelaman seomardi (Soekanto,20;2003) mengatakan bahwa, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Sturktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, seperti pengaruh hubungan timbal balik antara segi kehidupan hukum dengan kehidupan ekonomi. Salah satu proses sosial yang bersifat tersendiri adalah dalam perubahan-perubahan di struktur sosial. Pembentukan struktur sosial, terjadinya proses sosial dan perubahan-perubahan sosial tidak lepas dari adanya aktivitas interaksi sosial yang menjadi salah satu ruang lingkup sosiologi. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara timbal balik antar manusia, struktur sosial dan proses-proses sosial.

2)   Community (Masyarakat)

      Menurut Ralph linton (Soekanto:24:2003), masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka  dan  menganggap  diri  mereka  sebagai    suatu  kesatuan  sosial  dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Selo Soemardjan (Soekanto,24:2003) menyatakan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

       Sementara menurut Mac Iver dan Page,masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah disebut masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan masyarakat selalu berubah(http://dechyku.wordpress.com/2010/12/12/definisi masyarakat).

     Berdasarkan berbagai definisi tersebut, maka disimpulkan bahwa masyarakat adalah kumpulan manusia yang hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut. Pengertian  manusia  yang  hidup  bersama  dalam  ilmu  sosial  tidak  mutlak jumlahnya,  bisa saja dua  orang  atau  lebih,  tetapi minimal adalah dua  orang. Manusia tersebut hidup  bersama  dalam waktu  cukup  lama,  dan  akhirnya melahirkan manusia-manusia baru yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Hubungan antara manusia,  kemudian  melahirkan  keinginan,  kepentingan,  perasaan,  kesan dan penilaian. Keseluruhan  itu  kemudian  mewujudkan  adanya  system  komunikasi  dan peraturan-peraturan  yang  mengatur  hubungan  antara  manusia  dalam  masyarakat tersebut. Dalam system hidup  tersebut, maka muncul budaya yang mengikat antara satu manusia dengan yang lain.

3)   Teknologi Telematika

       Istilah teknologi telematika (telekomunikasi, media dan informatika) berawal dari istilah teknologi informasi (Information Technology atau IT). Istilah ini mulai popular di akhir decade 70-an. Pada masa sebelumnya, teknologi informasi masih disebut dengan istilah teknologi komputer atau pengolahan data elektronik atau Electronic Data Processing (Burhan Bungin:29:2009).

        Istilah telematika lebih ke arah penyebutan kelompok teknologi yang disebutkan secara bersama-sama, namun sebenarnya yang dimaksud adalah teknologi informasi yang digunakan di media massa serta teknologi telekomunikasi yang umumnya digunakan dalam bidang komunikasi lainnya. Sementara itu, istilah teknologi seringkali rancu dengan sistem informasi. Ada yang menggunakan istilah teknologi informasi untuk menjabarkan sekumpulan sistem informasi, pemakai, dan manajemen. Pendapat ini menggambarkan teknologi dalam perspektif yang luas.

         Menurut Alter (Burhan Bungin,30:2009), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, mentrasmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi atau menampilkan data. Martin (Burhan Bungin,30:2009), mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.

           Secara lebih luas, Lucas (Burhan Bungin,30:2009) menyatakan bahwa teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis. Berdasarkan berbagai uraian tersebut, maka disimpulkan bahwa teknologi telematika adalah teknologi yang dapat memproses hingga mengrim informasi secara elektronis.

4)   Communication (Komunikasi)

         Thedornson and Theodornson (Burhan bungin,30:2009), memberi batasan lingkup berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap atau emosi dari seorang atau sekelompok kepada yang lain terutama melalui symbol-simbol. Garbner yang dikutip olleh Mcquail dan Windhal (Burhan Bungin,31:20090, mendefinisikan komunikasi sebagai interaksi sosial melalui pesan-pesan.

            Onong Uchyana (2002:11), mengatakan bahwa komunikasi sebagai proses, pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran ata perasaan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informas atau opini yang muncul dari benak komunikator. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, maupun kegairahan yang muncul dari dalam hati.

          Berdasarkan berbagai definisi tersebut, maka disimpulkan bahwa lingkup komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang terkait dengan substansi interaksi sosial orang-orang dalam masyarakat; termasuk komunikasi yang dilakukan secara langusung maupun dengan menggunakan media komunikasi.

5)   Sosiologi Komunikasi

       Menurut Soerjono Sokeanto (1992:471), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial, yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Stephen F. Steele (Petrus Andung), mengungkapkan bahwa sosiologi komunikasi adalah studi yang mempelajari perilaku kolektif akibat media.

          Liliwery (Petrus Andung) memahami sosiologi komunikasi dalam dua bagian yakni level makro dan mikro. Dalam arti luas (makro), Liliwery berpendapat bahwa sosiologi komunikasi merupakan cabang dari sosiologi yang mempelajari atau menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam kelompok atau masyarakat. Sementara dalam artian sempit (mikro), Liliwery mendefinisikan sosiologi komunikasi sebagai cabang dari sosiologi yang mempelajari atau yang menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam konteks komunikasi massa dari suatu masyarakat.

          Secara komprehensif Sosiologi Komunikasi mempelajari  tentang  interaksi sosial sebagai aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari  interaksi  tersebut, samapai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di masyarakat  yang  didorong  oleh  efek  media  berkembang  serta  konsekuensi  sosial yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dai perubahan-perubahan yang didorong oleh media. (Burhan Bungin,31:2009)

          Berdasarkan berbagai definisi di atas, disimpulkan bahwa sosiologi komunikasi adalah cabang dari ilmu sosiologi yang khusus mempelajari proses komunikasi dalam masyarakat (interaksi sosial). Uraian di atas juga menegaskan bahwa pokok kajian dalam sosiologi komunikasi adalah komunikasi  yang  terjadi  dalam  kehidupan  masyarakat,  baik  komunikasi  yang  terjadi dalam masyarakat  perkotaan maupun masyarakat  pedesaan,  komunikasi massa  dan efeknya, komunikasi yang terjadi antar masyarakat yang berbeda budaya, hubungan antara komunikasi dan perubahan sosial serta pembangunan bagi masyarakat serta teknologi komunikasi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat dan efeknya bagi masyarakat itu sendiri.

Burhan Bungin (31:2009), membagi komunikasi dalam masyarakat menjadi lima jenis, sebagai berikut:

  • Komunikasi individu dengan individu (antar pribadi). Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, yang terjadi secara langsung (tanpa medium) atau tidak langsung (melalui medium). Contohnya kegiatan percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon atau surat menyurat pribadi. Fokus pengamatannya adalah bentuk-bentuk dan sifat hubungan-hubungan (relationship), percakapan (discourse), interaksi dan karakteristik komunikator.
  • Komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok memfokuskan pembahasannya pada interaksi di antara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antar pribadi. Bahasan teoritis meliputi meliputi dinamika kelompok, efisiensi dan efektifitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interkasi serta pembuatan keputusan.
  • Komunikasi organisasi. Komunikasi menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan Jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasannya meliputi struktur dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta kebudayaan organisasi.
  • Komunikasi sosial. Menurut Astrid (Burhan Bungin,32:2009), adalah salah satu bentuk komunikasi yang lebih intensif, komunikasi terjadi secara langsung antara komunikator dengan komunikan, sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu integrasi sosial. Komunikasi sosial sekaligus sutau proses sosialisasi dan untuk pencapaian stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleh sutau masyarakat melalui komunikasi sosial kesadaran masyarakat dipupuk, dibina dan diperluas. Melalui komunikasi sosial, masalah-masalah sosial dipecahkan melalui konsensus.
  • Komunikasi massa. Menurut Josep A. Devito (Nurudin,11:2009), komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya yang medianya melalui pemancar-pemancar audio dan visual.  Lingkup komunikasi massa meliputi sumber pemberitaan, pesan komunikasi, hubungan komunikan dengan komunikator serta dampak pemberitaan terhadap masyarakat.

D.Ranah Sosiologi Komunikasi

          Ranah  sosiologi  Komunikasi  berbeda  dengan  studi-studi  komunikasi  dan sosiologi secara keseluruhan, dengan kata  lain objek sosiologi komunikasi  tidak sama dengan  sosiologi  secara  umum  dan  tidak  mengambil  objek  komunikasi  secara  utuh, akan  tetapi  sosiologi  komunikasi  menjembatani  studi  sosiologi  dan  studi  komunikasi. Jembatan  itu  dibangun  berdasarkan  kajian  sosiologi  tentang  interaksi  sosial, yang dalam sosiologi juga dikenal dengan subkajian masalah-masalah komunikasi, kemudian menariknya ke dalam studi komunikasi yang berkaitan erat dengan sosiologi yaitu studi-studi media, dampak media maupun perkembangan teknologi komunikasi. Dalam perkembangan selanjutanya, studi-studi sosiologi dan studi-studi komunikasi, maka kajian sosiologi komunikasi ini berkembang menjadi satu kajian yang tidak bisa lagi dibedakan secara sosiologis dengan komunikasa. Dalam  arti  ketika  membahas  kasus-kasus  sosiologi  komunikasi,  maka  akan ditemukan  sebuah  kenyataan  bahwa yang  menjadi  perhatian  komunikasi  juga menjadi  perhatian  sosiologi.  Hal  ini  terjadi  karena  ranah  sosiologi  komunikasi  adalah kajian sosiologi dan kajian komunikasi  seperti individu, kelompok, masyarakat, dunia dan interaksinya.

        Ranah  sosiologi  komunikasi  berada  pada  wilayah  individu,  kelompok, masyarakat,  dan  sistem  dunia.  Ranah  ini  bersentuhan  dengan  wilayah  lain, seperti  teknologi  telematika,  komunikasi,  proses  interaksi  sosial  serta  budaya kosmopolitan, seperti terlihat pada gambar  di bawah ini.

Gambar 1

Ranah Sosiologi Komunikasi

 

 

 E.   Objek Sosiologi Komunikasi

         Setiap bidang ilmu dalam rumpun ilmu-ilmu sosial memiliki objek kajian formal yang sama yaitu manusia. Manusia adalah objek yang tidak pernah habis dibahas dari berbagai aspek dan sudut pandang dalam konteks mikro, makro, fisik, metafisika, bahkan dalam konteks spiritualnya. Objek formal manusia yang dimaksud adalah dalam konteks individu, kelompok, masyarakat, dunia serta aspek-aspek sosiologis yang mengitarinya.

          Objek formal dalam studi sosiologi komunikasi menekankan pada aspek aktivitas manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan aktivitas sosiologis yaitu proses sosial dan komunikasi, aspek ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan bersama orang lain. Aspek lainnya adalah telematika dan realitasnya. Aspek ini menyangkut persoalan teknologi media, teknologi komunikasi dan merupakan berbagai persoalan konvergensi yang ditimbulkan termasuk realitas maya yang dihasilkan oleh telematika sebagai ruang publik baru yang tanpa batas dan memiliki masa depan yang cerah bagi ruang kehidupan. Sebaliknya perkembangan telematika dan aspek-aspeknya serta pengaruhnya terhadap perkembanagn media massa memberikan efek yang luar biasa pada masyarakat.

          Efek media memiliki ruang bahasan yang luas terhadap konsekuensinya pada proses-proses sosial, menyangkut individu, kelompok, masyarakat maupun dunia, termasuk aspek-aspek yang merusak seperti kekerasan, pelecehan, penghinaan, bahkan sampai pada masalah-masalah kriminal. Pengaruh efek media juga ikut membentuk life style dan kelahiran norma sosial baru di masyarakat terutama pada masyarakat kosmopolitan, sekuler, cerdas, professional, materialis, hedonis serta modis.

         Perkembangan telematika tidak saja memasuki ranah sosial, namun juga memasuki ranah hukum dan bisnis. Hal ini disebabkan oleh konsekuensi dominasi telematika dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Ketika telematika sampai pada kemampuannya menciptakan masyarakat baru yaitu cybercommunity, maka kebutuhan pada cyberlaw menjadi mutlak ada dan mengatur seluruh fungsi sirkulasi serta peredaran aspek-aspek kehidupan sosial sebagaimana kebutuhan suatu sistem sosial.

Gambar 2

Objek Sosiologi Komunikasi

  F.   Kompleksitas Sosiologi Komunikasi

         Studi sosiologi komunikasi bersifat interdisipliner. Artinya, sosiologi tidak saja membatasi diri pada persoalan komunikasi dan seluk beluknya, tetapi juga membuka diri pada kontribusi disiplin ilmu lainnya seiring dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman. Karena bersentuhan langsung dengan berbagai disiplin ilmu, maka studi sosiologi komunikasi menjadi rumit atau kompleks.

     Studi sosiologi komunikasi ikut dipengaruhi oleh perkembangan berbagai bidang ilmu di sekitarnya mulai dari perkembangan teknologi, budaya, sosiologi, hukum, ekonomi, dan bahkan negara. Bidang ilmu yang paling mempengaruhi perkembangan sosiologi komunikasi adalah teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini terjadi karena perubahan dan kemajuan teknologi komunikasi cenderung membawa dampak yang cukup besar terhadap kemajuan dan perubahan pada bidang-bidang ilmu lainnya seperti budaya dan ekonomi.

Gambar 4

Kompleksitas Sosiologi Komunikasi

     

  Hingga saat ini kajian sosiologi selalu tertinggal jauh dari perkembangan tekenologi telekomunikasi. Berbagai teori dirsakan cepat usang dan sudah tidak up-to date lagi, begitupula perspektif yang semula dianggap penting untuk dikembangkan dalam studi-studi komunikasi menjadi semakin kompleks dalam waktu singkat. Begitupula kaitan studi sosiologi komunikasi dengan disiplin ilmu lain setiap saat dipandang sangat membantu kajian-kajian sosiologi komunikasi. Sementara kekhawatiran yang ada bahwa terasa begitu sedikit para ahli yang ikut memikirkan kajian ini, padahal kenyataannya sudah sangat banyak di masyarakat. salah satu pemicu perkembangan sosiologi komunikasi yang cepat ini disebabkan karena sosiologi komunikasi tidak berkembang pesat seperti perkembangan teknologi. Pacu memacu antara teknologi dan teori di ranah wacana, aplikasi dan masyarakat ini yang kemudian setiap saat melebarkan arena objek sosiologi komunikasi.

G. Kesimpulan

  • Gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi  itu sendiri baik dalam perspektif struktural  fungsional maupun dalam perspektif konflik.
  • Konsep-konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep sosiologi, masyarakat dan komunikasi dan teknologi telematika.
  • Kehidupan bermasyarakat, merupakan obyek pengamatan sosiologi yang masuk dalam  rumpun  ilmu  sosial.  Sosiologi  mempelajari  berbagai  segi  kehidupan manusia yang bermasyarakat dan salah satu ruang lingkup yang diamati adalah interaksi sosial yang  terjadi dalam masyarakat.    Inti dari  interaksi sosial adalah komunikasi,  karenanya  muncul  kekhususan  dalam  sosiologi  yang  dinamakan Sosiologi  Komunikasi, yaitu  ilmu  yang  mempelajari  atau  menganalisa komunikasi dari sisi sosiologis.
  • Sosiologi  komunikasi  ini  kita  akan mempelajari  komunikasi  yang  terjadi  dalam kehidupan  masyarakat,  baik  komunikasi  yang  terjadi  dalam  masyarakat  perkotaan  maupun  masyarakat  pedesaan,  komunikasi  massa  dan  efeknya, komunikasi yang  terjadi antar masyarakat yang berbeda budayanya, hubungan antara komunikasi dan  perubahan sosial serta  pembangunan bagi masyarakat, dan  juga  teknologi komunikasi  yang berkembang dalam kehidupan masyarakat dan efeknya bagi masyarakat.
  • Ranah  sosiologi  komunikasi  berada  pada  wilayah  individu,  kelompok, masyarakat,  dan  sistem  dunia. Dimana  ranah  ini  bersentuhan  dengan wilayah lain,  seperti  teknologi  telematika,  komunikasi,  proses  interaksi  sosial  serta budaya kosmopolitan.
  • Kompleksitas  sosiologi  komunikasi  selain  bersifat  interdisipliner  dan  terbuka terhadap sumbangan disiplin ilmu lain, seperti budaya, ekonomi, agama, hukum negara sampai pada teknologi.
  • Objek  sosiologi  komunikasi  adalah  manusia  yang  menekankan  pada  aspek aktivitas manusia  sebagai makhluk  sosial  yang melakukan  aktivitas  sosiologis yaitu aspek sosial dan komunikasi, aspek  ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan manusia  bersama  orang  lain.  Aspek  lainnya  adalah  telematika  dan realitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo.

Nurudin. 2007.Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Soekanto, Soerjono.2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s