TEORI KOMUNIKASI LANJUTAN

TEORI BELAJAR STIMULUS RESPONS DALAM PRAKTIK KOMUNIKASI

A.   Latar Belakang

       Semua benda yang ada di dunia mengalami perubahan, meskipun dalam bentuk dan kadar yang berbeda satu sama lain. Benda mati juga mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Ada yang berubah karena bereaksi dengan zat kimia, dan ada pul karena bereveolusi seperti layaknya makhluk ciptaan Tuhan.

       Perubahan yang terjadi pada makhluk hidup yang bergerak berbeda dengan perubahan yang terjadi pada makhluk yang tidak bergerak. Tumbuh-tumbuhan berubah, namun tidak bergerak seperti manusia atau hewan. Melalaui pengamatan, diketahui bahwa terjadi perbedaan yang hakiki antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain.

        Perubahan yang terjadi pada manusia kondisinya sangat kompleks. Ini disebabkan karena manusia merupakan bagian dari alam. Betapa pun cerdasnya seekor anjing, karena sudah dilatih untuk mencari jejak-jejak penjahat, namun tetap tidak pernah memikirkan cara memperoleh tempat tinggal yang nyaman. Demikian juga dengan hewan-hewan yang lain. Hewan-hewan tersebut, dari dulu hingga sekarang tidak pernah mengalami perubahan kualitatif. Secara naluriah, hewan melakukan hal yang telah menjadi kebiasaannya.

       Manusia juga memiliki sifat-sifatnaluriah yang tampak seperti hewan, namun yang sangat membedakan antara manusia dengan hewan adalah adanya akal. Akal dapat merubah kondisi ilmiah menjadi kondisi lain yang dikehendakinya.

        Secara kodrati, manuai berbeda dalam mengahdapi alam dan lingkungannya dibandingkan dengan hewan. Hewan tidak berusaha mengubah kondisi alamiah untuk kepentingannya. Pada manusia, selain menerima kondisi alam apa adanya, namun ditambah pula dengan berusaha agar kondisi tersebut sesuai dengan keinginannya. Melalui berpikir, manusia berusaha mengubah lingkungannya.

     Rakhmat (Pawit Yusuf, 221:2009) berpendapat bahwa manusia mempunyai sifat berubah yang sangat fundamental dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada hewan. Selain kondisi manusia yang berubah secara alamiah, namun alam sekitarnya pun diubah oleh manusia. Dari perubahan yang terjadi pada manusia banyak yang bisa diamati untuk kepentingan pemahaman perilaku sebagai salah satu informasi yang penting bagi dunia ilmu dan pengetahuan manusia.

        Perubahan-perubahan secara psikis dan kualitatif lebih erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan luar biasa pada manusia yang secara khusus banyak diamati oleh kalangan psikologi guna mengungkapkan potensi manusia.salah satu cabang yang secara khusus menggarap hal-hal yang terjadi seperti itu adalah psikologi.

       Menurut Irwanto, dkk (Pawit Yusuf,222:2009), psikologi adalah cabang ilmu yang mempelajari interaksi antar manusia secara psikologis, interaksi manusia dengan alam sekitar juga secara psikologis, atau dengan kata lain psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia dalam menghadapi manusia lain dan lingkungannya. Istilah perilaku ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa yang dipelajari bukan hanya yang kasat mata, tetapi juga yang tidak kasat mata.

      Perubahan perilaku yang terjadi pada manusia cenderung ke arah positif dan negatif. Hal positif dan negatif dijadikan patokan normatif dalam masyarakat. Berdasarkan dua arah perubahan tersebut, maka diusahakan agar perubahan yang terjadi pada diri manusia lebih diarahkan untuk berubah ke arah yang positif. Hal demikian disebut sebagai konsep perubahan perilaku, yaitu usaha yang dilakukan oleh orang secara sengaja untuk mengarahkan atau mengubah manusia lain yang masih belum dewasa ke arah yang lebih baik. Konsep ini lebih tampak dalam dunia pendidikan. Dunia komunikasi lebih memandang hal itu sebagai perubahan perilaku yang terjadi akibat efek-efek komunikasi dengan lingkungannya. Terjadinya perubahan perilaku atau proses belajar.

     Konsep perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dalam dunia pendidikan disebut belajar. Dalam dunia pendidikan, komunikasi berkedudukan sebagai alat pemroses perubahan perilaku atau proses belajar.

B.   Konsep Teori Belajar Stimulus Respons

     Teori perubahan perilaku (belajar) termasuk dalam kelompok behaviorisme. Teori ini memandang bahwa manusia merupakan produk dari lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkungan juga yang membentuk kepribadian manusia.

     Behaviorisme tidak mempermasalahkan norma-norma pada manusia. Behaviorisme hanya fokus mengakaji perilaku manusia sebagai akibat adanya interaksi dengan lingkungannya dan pola interaksi tersebut dapat diamati dari luar.

       Belajar dalam teori behaviorisme dikenal dengan hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dan respons yang ditampilkan oleh individu. Respons tertentu akan muncul dari individu jika diberi stimulus dari luar.

       Hosland, et al (http://joegolan.wordpress.com/2009/04/13/teori-pembelajaran/) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :

  • Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
  • Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
  • Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

      Ahli yang pertama kali mengemukakan teori belajar stimulus respons adalah Edward Lee Thorndike (1874-1949).Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain “Educational Psychology” (1903), “Mental and social Measurements” (1904), “Animal Intelligence” (1911), “A teacher’s Word Book” (1921), “Your City” (1939), dan “Human Nature and The Social Order” (1940).

       Menurut Thorndike (http://trimanjuniarso/wordpress.com), belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.

         Dalam membuktikan teorinya, Thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh dalam kandang, yang memiliki celah-celah kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makanan yang berada di luar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut. Mula-mula kucing tersebut mengitari kandang bebarapa kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang kucing ini melakukan respon atau tindakan dengan cara coba-coba ia tidak mengetahui jalan keluar dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada. Thorndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Memang dalam menemukan jalan keluar, pertama kali kucing tersebut membutuhkan waktu yang lama dan pastinya mengitari kandang dengan jumlah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang. Menurutnya, tindakan kucing tadi untuk mendapatkan makanan tidak lagi perlu mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok, akan tetapi kucing tadi langsung memegang jeruji yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.

         Thorndike menjelaskan bahwa dari berbagai situasi yang diberikan,  seekor hewan akan memberikan sejumlah respon dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan koneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon.

Gambar 1

Kucing Lapar yang Diletakan Dalam Sangkar

Melalui eksperimen ini, Thorndike berpendapat bahwa pembelajaran berlaku hasil daripada gabungan antara S-R, yaitu stimulus  dan respons.

        Percobaan yang dilakukan oleh Thorndike tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi dan dapat digambarkan sebagai berikut:

S—————-R——————– S1———————-R1————————-S2———————— R2

     Pada umumnya, teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga besar behaviorisme memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif terhadap stimulus di lingkungan sekitarnya. Orang akan bereaksi jika diberi rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika stimulus dilakukan secara terus-menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan berakibat pada perubahan perilaku. Misalnya, dalam hal kepercayaan sebagian masyarakat tentang obat-obatan yang diiklankan di televisi. Mereka sudah tau dan terbiasa menggunakan obat-obat tertentu yang secara gencar ditayangkan di televise. Ketika orang sakit maag, maka obatnya adalah promag, waisan, Mylanta ataupun atau obat-obat lain yang sering diiklankan di televisi. Jenis obat lain cenderung tidak pernah digunakan untuk penyakit maag, padahal mungkin saja secara higienis obat yang tidak tertampilkan lebih manjur.

        Onong Uchjana Effendy (254:2007), berpandangan bahwa teori stimulus respons mengkaji tentang efek yang ditimbulkan merupakan reaksi khusus terhadap stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Pandangan Onong Uchjana ini mengandung unsur-unsur dari model teori stimulus respons adalah pesan (Stimulus, S), komunikan (Organism,O) dan efek (Response, R). Dalam proses komunikasi berkenaan dengan perubahan sikap adalah aspek “how” bukan “what” dan “why”. Jelasnya, how to communicate dalam hal ini adalah how to change the attitude, yakni kemampuan mengubah sikap komunikan.

       Model S-R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan), isyarat-isyarat non verbal, gambar-gambar, dan tindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu.  Proses ini juga disebut sebagai pertukaran atau pemindahan informasi atau gagasan. Proses ini dapat bersifat timbal balik dan mempunyai banyak efek (Deddy Mulyana,144:2007). Pandangan ini bermakna bahwa setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi (communication act) berikutnya.

       Pawit Yusuf (278:2009), berpandangan bahwa melalui pembiasaan, respon dihubungkan dengan stimulus tertentu. Pola hubungan atau koneksi ini  bersifat biologis, yakni perubahan dalam sistem saraf. Belajar terjadi jika stimulus mendapatkan respons yang benar, dan respons yang benar diperoleh melalui tindakan respons secara trial and error; mencoba, gagal, mencoba lagi, gagal lagi sampai pada kali tertentu menjadi berhasil.

       Teori stimulus respons pada dasarnya meruapak suatu prinsip belajar yang sederhana, yang efek merupakan reaksi terhadap stimulus tertentu. Seseorang dapat menjelaskan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audience. Mc Quail (Burhan Bungin,281:2009) menjelaskan elemen-elemen utama dari teori ini adalah pesan (stimulus); seorang penerima  atau receiver (organism) dan efek (respon).

        Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka disimpulkan bahwa teori belajar stimulus respons yang dikemukakan oleh Thorndike telah mengabaikan komunikasi sebagai suatu proses, khususnya yang berkenaan dengan faktor manusia. Secara implisit, ada asumsi dalam teori S-R ini  bahwa perilaku (respons) manusia dapat diramalkan.

      Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R adalah adanya unsure dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respon (response) dan penguatan (reinforcement). Dorongan adalah suatu keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sedang dirasakannya. Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan tersedianya sejumlah uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong untuk membelinya dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya. Unsur dorongan ini ada pada setiap orang meskipun kadarnya tidak sama.

       Stimulus datang dari luar diri individu dan berbeda dengan dorongan yang datangnya dari dalam. Contohnya: bau masakan yang lezat atau rayuan gombal. Dalam dunia aplikasi komunikasi instruksional, rangsangan bisa terjadi bahkan diupayakan terjadinya yang ditunjukan kepada pihak sasaran agar mereka bereaksi sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan mengajar atau kuliah, yang banyak pesertanya tidak tertarik atau mengantuk, maka sang komunikator instruksional atau pengajarnya bisa merangsangnya dengan sejumlah cara yang bisa dilakukan. Misalnya dengan bertanya tentang masalah-masalah tertentu yang sedang trend atau bisa juga dengan humor segar untuk membangkitkan kesiagaan pelajar dalam belajar.

        Berdasarkan adanya rangsangan atau stimulus, maka timbul reaksi di pihak sasaran atau komunikan. Bentuk reaksi ini bisa bermacam-macam, tergantung pada situasi, kondisi bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar yang disebut dengan respon dalam dunia teori belajar. Respon ini bisa diamati dari luar. Respon ada yang positif dan ada pula yang negatif. Respon positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respon terhadap stimulus yang ada dan tentunya yang sesuai dengan yang diharapkan. Sementara respon yang negatif adalah apabila seseorang justru memberi reaksi sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.

      Unsur yang terakhir adalah penguatan (reinforcement). Unsur ini datangnya dari pihak luar, ditunjukan kepada yang sedang merespon. Ketika respon telah benar, maka diberi penguatan, agar individu tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi. Seorang anak kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba dibentak dengan kasar oleh kakaknya, maka ia bisa terkejut dan bahkan bisa menderita guncangan sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang anak tadi tidak akan mencoreti buku lagi, namun akibat yang paling buruk di kemudian hari adalah bisa menjadi trauma untuk mencoreti buku karena takut bentakan. Bahkan yang lebih dikhawatirkan lagi akibatnya adalah jika ia tidak mau bermain dengan buku lagi atau alat tulis lainnya. Ini penguatan yang salah dari seorang kakak terhadap adiknya yang mamsih kecil ketika sedang mau memulai menulis buku. Akan lebih baik, jika kakaknya tadi tidak dengan cara membentak kasar, tetapi dengan bicara yang halus sambil membawa alat tulis lain berupa selembar kertas kosong sebagai penggantinya. Misalnya “bagus”! coba kalau menggambarnya di tempat ini, pasti lebuh “bagus”.

C.   Prinsip-prinsip Teori Belajar Stimulus Respons

Pendapat Thorndike tentang prinsip – prinsip belajar adalah sebagai berikut:

  • Pada saat seseorang berhadapan dengan sebuah situasi yang termasuk baru, berbagai ragam respon yang ia lakukan. Respon – respon tersebut dapat berbeda antara satu dengan lainnya hingga akhirnya seseorang mendapatkan respon yang benar.
  • Pada diri seseorang sebenarnya terdapat potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur – unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat.
  •  Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama.
  • Orang cenderung mengadakan assosiatif shift thing yaitu menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tentang tatkala menyadari respon yang penting (http://panjiesantoso.wordpress.com/2010/05/13/karakteristik-belajar-dari thorndike/).

 

D.  Hukum-hukum Teori Belajar Stimulus Respons

Dari percobaan Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut (http://trimanjiarso/wordpress.com):

  • Hukum kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah ketiga adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbul ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
  • Hukum latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang atau dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
  • Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah  jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian.

Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut(http://trimanjiarso/wordpress.com):

  • Hukum reaksi bervariasi (multiple response). Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial and error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
  • Hukum sikap (set/ attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi ,sosial, maupun psikomotornya.
  • Hukum Aktifitas Berat Sebelah (Prepotency of Element). Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).
  • Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
  • Hukum perpindahan Asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

Selain menambahkan hukum-hukum baru, Thorndike   mengemukakan revisi hukum belajar antara lain (http://trimanjiarso/wordpress.com):

  •  Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
  •  Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
  •  Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
  • Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
  • Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.

E.   Transfer Belajar Dalam Teori Belajar Stimulus Respons

      Dalam teori belajar Thorndike, transfer terjadi jika unsure-unsur yang jadi stimulus identik dengan unsur-unsur lainnya sehingga respons terjadi secara langsung. Respons meliputi seluruh komponen dari perilaku organik. Ketika unsur-unsur identik terjadi dalam dua situasi belajar, maka transfer terjadi dari situasi yang pertama kepada situasi yang kedua secara otomatis. Contohnya seseorang yang sedang belajar bahasa Inggris akan lebih cepat menguasai kata-kata yang identik dengan bahasa asal orang yang mempelajarinya itu; orang yang bekerja di lingkungan perpustakaan dan pusat-pusat informasi, lebih mudah dalam menguasai materi ilmu perpustakaan dan informasi.

      Berdasarkan hal tersebut, maka penekanan dalam pelaksanaan instruksionalnya adalah dengan meningkatkan hubungan stimulus respons secara berulang-ulang terutama jika terjadi hubungan S-R yang diinginkan. Seorang guru akan terus mengupayakan terjadinya respons yang benar kepada murid-muridnya. Seorang orator akan lebih bersemangat jika auidiencenya memperhatikan orasinya.

     Untuk mengetahui adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri seseorang, diperlukan pendekatan menyeluruh tentang kondisi yang melatarbelakangi perubahan tersebut. Aspek-aspek psikologis yang banyak kaitannya dengan perubahan perilaku yang dimaksud antara lain, kematangan, struktur kognitif, motivasi, dan transfer belajar juga perlu dipahami sesuai dengan konteksnya.

       Dalam dunia psikologi, khususnya psikologi belajar, ada istilah kematangan (maturation). Ini artinya adalah suatu proses perkembangan yang terjadi pada diri seseorang yang mengungkapkan sifat-sifat berbeda dari waktu ke waktu. Adanya sifat-sifat berbeda dari waktu ke waktu ini mirip dengan perubahan yang dimaksud dengan belajar.

     Dalam proses belajar, menunjukkan perubahan-perubahan yang sistematis dalam berperilaku dan perubahan tersebut tampak setahap demi setahap, yang dimulai dari asalnya, tidak tahu menjadi tahu, dan yang dari asalnya sudah baik menjadi lebih baik lagi. Aspek dan kondisi yang turut memengaruhi proses belajar biasanya dirancang secara khusus untuk tujuan itu. Tidak apa adanya seperti yang sudah tersedia di alam.

      Pada manusia, pengetahuan dan belajar merupakan modal yang sangat besar dalam kehidupannya. Alat dibuat manusia untuk digunakan dalam usahanya mengembangkan kondisi hubungan alam sekitar dengan manusia. Melalui indera yang berupa sentuhan, penciuaman, perasaan, perabaan dan penglihatannya, manusia mencoba megembenagkan kualitas hubungannya dengan alam.

      Potensi manusia untuk menjadi manusia yang berkualitas, sebagian besar terletak pada kemampuannya mengembangkan pengelaman-pengalamannya melalui dunia lambing. Ini tidak dimiliki oleh dunia bintang. Melalui kemampuan tersebut, manusia mampu memenuhi keinginannya sehingga mampu pula menggunakannya dengan baik untuk memuaskan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dunia lambing ini yang merupakan aspek utama dalam kehidupan manusia dalam belajar atau mengubah perilakunya ke arah yang lebih berkualitas. Lambing yang dimaksud adalah lambing-lambang komunikasi yang memiliki pesan informasi.

      Orang tidak hanya mempelajari sesuatu, tetapi juga terdorong untuk mengetahui cara belajarnya, alasan belajar dan cara belajarnya. Sejak dahulu, beberapa kelompok masyarakat yang berbudaya, sudah ada orang yang mengembangkan sifat dan ide tentang belajar yang kemudian berkembang menjadi proses belajar.

    Dalam pemahaman selanjutanya, ada transfer yang memperkuat dan ada transfer yang memperlemah dalam belajar. Transfer yang memperkuat misalnya terjadi jika adanya pengalaman dan pengetahuan masa lalu yang mampu memperkuat semangat untuk memahami konsep yang sedang dipelajarinya. Sementara yang memperlemah adalah yang berlaku sebaliknya.

 

 F.   Aplikasi Teori Belajar Stimulus Respons Dalam Praktik Komunikasi

   Prinsip stimulus respon merupakan dasar dari teori jarum hipodermik, teori klasik mengenai proses terjadinya efek media massa yang sangat berpengaruh. Teori jarum hipodermik memandang bahwa sebuah pemberitaan media massa diibaratkan sebagai obat yang disuntikan ke dalam pembuluh darah audience, yang kemudian audience akan bereaksi  seperti yang diharapkan. Dalam masyarakat massa, prinsip stimulus respons mengasumsikan bahwa pesan informasi disiapkan oleh media dan didistribusikan secara sistematis dan dalam skala yang luas. Hasilnya adalah secara serempak pesan tersebut dapat diterima oleh sejumlah besar individu, bukan ditujukan pada orang perorang. Kemudian sejumlah besar individu itu akan merespon pesan informasi itu. Penggunaan teknologi telematika yang semakin luas dimaksudkan untuk reproduksi dan distribusi pesan informasi itu sehingga diharapkan dapat memaksimalkan jumlah penerima dan respon oleh audience sekaligus meningkatkan respons oleh audience.

     Pada tahun 1970, Melvin Defleur melakukan modifikasi  terhadap teori stimulus respons dengan teorinya yang dikenal sebagai perbedaan individu dalam komunikasi massa (individual differences). Diasumsikan bahwa pesan-pesan media berisi stimulus tertentu yang berinteraksi secara berbeda-beda dengan karakteristik pribadi para anggota audience. Teori Defleur ini secara eksplisit telah mengakui adanya interfensi variable-variabel psikologis yang berinteraksi dengan terpaan media massa dalam menghasilkan efek. Berdasarkan teori perbedaan individu dan stimulus respons ini, Defleur mengembangkan model psikodinamik yang didasarkan pada keyakinan bahwa kunci dari persuasi yang efektif terletak pada modifikasi struktur psikologis internal dan individu. Melalui modifikasi ini, respons tertentu yang diharapkan muncul dalam perilaku individu akan tercapai. Esensi dari model ini adalah fokusnya pada variabel-variabel yang berhubungan dengan individu sebagai penerima pesan, suatu kelanjutan dari asumsi sebab akibat dan mendasarkan pada perubahan sikap sebagai ukuran bagi perubahan perilaku (Sendjaja, 514:2002).

    Iklan televisi merupakan sarana memperkenalkan produk kepada konsumen. Keberadaanya sangat membantu pihak perusahaan dalam mempengaruhi afeksi pemirsa. Ia menjadi kekuatan dalam menstimulus pemirsa agar mau melakukan tindakan yang diinginkan.

      Secara substansi iklan televisi memiliki kontribusi dalam memformulasikan pesan-pesan kepada pemirsa. Akibatnya secara tidak langsung pemirsa telah melakukan proses belajar dalam mencerna serta mengingat pesan yang telah diterimanya. Kondisi ini tentunya tanpa disadari sebagai upaya mengubah sikap pemirsa.

      Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap. Dalam hal ini, perubahan sikap terjadi ketika komunikan memiliki keinginan untuk membeli atau memakai produk yang iklannya telah disaksikan di televisi.

       Pendekatan teori stimulus respons lebih mengutamakan cara-cara pemberian imbalan yang efektif agar komponen konasi dapat diarahkan pada sasaran yang dikehendaki. Sementara pemberian informasi penting untuk dapat berubahnya komponen kognisi. Komponen kognisi itu merupakan dasar untuk memahami dan mengambil keputusan agar dalam keputusan itu terjadi keseimbangan. Keseimbangan inilah yang merupakan system dalam menentukan arah dan tingkah laku seseorang. Dalam penentuan arah itu terbentuk pula motif yang mendorong terjadinya tingkah laku tersebut. Dinamika tingkah laku disebabkan pengaruh internal dan eksternal.

       Dalam teori stimulus respons, pengaruh eksternal ini yang dapat menjadi stimulus dan memberikan rangsangan sehingga berubahnya sikap dan tingkah laku seseorang. Untuk keberhasilan dalam mengubah sikap maka komunikator perlu memberikan tambahan stimulus agar penerima berita mau mengubah sikap. Hal ini dapat dilakukan dalam barbagai cara seperti dengan pemberian imbalan atau hukuman. Dengan cara demikian ini penerima informasi akan mempersepsikannya sebagai suatu arti yang bermanfaat bagi dirinya dan adanya sanksi jika hak ini dilakukan atau tidak. Dengan sendirinya penguatan ini harus dapat dimengerti, dan diterima sebagai hal yang mempunyai efek langsung terhadap sikap. Untuk tercapainya ini perlu cara penyampaian yang efektif dan efisien.

     Pada pengamatan dari sisi keterpengaruhan, secara pragmatis iklan televisi mudah mempengaruhi kelompok remaja dibandingkan kelompok dewasa. Artinya, jika teori stimulus respons dihubungkan dengan keberadaan remaja, maka kekuatan rangsangan iklan televisi sangat kental dalam memantulkan respon yang sebanding. Sistem seleksi yang semestinya melalui proses penyaringan yang ketat terkalahkan oleh sifat mudah dipengaruhi.

       Kontribusi teori stimulus respons begitu terlihat dalam iklan televisi. Dilihat dari sudut pandang target sasaran, secara kondisional yang gampang dipersuasi adalah remaja. Remaja. Remaja yang masih berada pada masa transisi memiliki tingkat selekivitas yang lebih rendah di bandingkan dengan dengan orang dewasa. Konsekuensinya, wajar jika remaja menjadi kelompok sasaran utama iklan televisi. Akibatnya, tanpa disadari remaja telah memposisikan diri sebagai kelompok hedonis dengan rating tinggi. Keinginan yang selalu menggebu-gebu dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah indikasi yang pas sekaligus menggambarkan betapa remaja begitu sukar untuk menunda desakan kebutuhan emosinya.

      Membeli dan mencoba seakan menjadi bagian hidup remaja yang sejalan dengan mengkristalnya kognisi tentang aneka ragam kebutuhan yang ditawarkan televisi melalui iklannya yang akomodatif dan fantastis.

       Teori stimulus respons bisa juga diaplikasikan dalam proses pembelajaran siswa. Para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.

    Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori stimulus respons ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Contoh aplikasi stimulus seperti guru mengadakan ulangan yang teratur atau dengan ulangan yang ketat. Guru juga memberikan bimbingan, pemberian hadiah, dan pujian.

      Adanya bahan dan pelaksanaan kegiatan komunikasi serta instruksional terprogram sekarang ini di lingkungan sekolah, pendidikan, lembaga non pendidikan dan lembaga sosial lainnya, itu menggambarkan pola belajar dan mengajar yang dipengaruhi oleh bahaviorisme. Instruksional terprogram adalah system belajar dan mengajar tentang suatu bidang studi tertentu yang dipecah-pecah menjadi beberapa bagian kecil, dipisahkan secara hati-hati, serta diorganisasikan ke dalam suatu urutan yang logis sehingga mempermudah murid mempelajarinya. Misalnya, bab kuliah dibuat per bab dan sub bab. Dosen membuat SAP dalam perkuliahannya.

      Setiap langkah dalam pengajaran terprogram ini harus tersusun dari yang mudah dan sederhana kepada yang sulit dan kompleks. Setiap respon yang dilakukan oleh murid sekaligus mendapatkan penguatannya. Pada saat sasaran dibidik merespons secara positif atas stimulus yang disampaikan, maka harus segera diberi penguatan positif. Demikian juga jika komunikan merespons secara negatif atau salah maka kita harus segera memberikan penguatan negatif berupa hukuman (punishment). Melalaui hal itu, proses stimulus dan respons bisa berlangsung secara terus-menerus sehingga terjadi transfer belajar secara otomatis.

      Dalam hal pelaksanaannya dalam dunia pendidikan, sebagian guru atau para pengajar sering menerapkan disiplin yang terkesan kaku terhadap masalah-masalah belajar muridnya. System kredit semester di perguruan tinggi sering tidak pas dengan system tersebut. Paket-paket belajar atau bidang studi masih banyak yang diberikan kepada sejumlah mahasiswa tanpa bisa menolaknya. Sistem disiplin memang baik untuk menanamkan kebiasaan mahasiswa dalam kehadiran, namun situasi dan kondisi yang sering menjadi penghambat terlaksananya disiplin juga perlu diperhatikan sehingga dosen pun perlu memperhatikan ini.

 

G.   Analisis Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Stimulus Respons

       Berdasarkan berbagai uraian pada pembahasan makalah ini, maka penulis menganalisis kelebihan teori belajar stimulus respona sebagai berikut:

  • Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
  • Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi dan daya tahan.
  • Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Ketika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan.
  • Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
  • Mampu membentuk suatu perilaku yang diinginkan mendapatkan penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif, yang didasari pada perilaku yang tampak.
  • Melalui pengulangan dan pelatihan yang kontinyu dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Ketika anak sudah mahir dalam satu bidang tertentu maka akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang kontinyu tersebut dan lebih optimal.
  • Bahan pelajaran yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilkan sustu perilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu.

Sementara kelemahan teori belajar stimulus respons adalah sebagai berikut:

  • Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
  • Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
  •  Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
  •  Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu kondisi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah guru melatih dan menetukan apa yang harus dipelajari murid sehingga dapat menekan kreatifitas siswa.
  • Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan meghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatif siswa terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.

 

H.  Kesimpulan

       Teori belajar stimulus respons berpandangan bahwa perubahan perilaku manusia merupakan produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat dari pengaruh lingkungan. Dalam teori stimulus respons, belajar dipandang sebagai proses hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dengan respons yang ditampilkan oleh individu.

      Dalam praktik komunikasi, teori stimulus respon sangat erat kaitannya dengan teori jarum hipodermik. Penggunaan teknologi telematika yang semakin berkembang pesat, berhubungan erat dengan teori stimulus respon yang kemudian menjadi landasan teori jarum hipodermik. Audience yang disuntikan dengan berbagai berita dari media massa secara terus-menerus akan mendapat respons yang cepat dari audience. Selain dalam praktik komunikasi massa, teori stimulus respons juga diterapkan dalam bidang pendidikan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Bungin, Burhan. 2009. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.

Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosadakarya.

Sendjaja, Sasa Djuarsa. 2005. Paradigma Baru Pendidikan Ilmu Komunikasi di Indonesia. Jakarta: Komunika.

Yusuf, Pawit M. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Sumber Internet

(http://trimanjuniarso/wordpress.com). 16 Mei 2011

(http://panjiesantoso.wordpress.com/2010/05/13/karakteristik-belajar-dari thorndike/).16 Mei 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s