TEORI KOMUNIKASI LANJUTAN

TEORI BELAJAR STIMULUS RESPONS DALAM PRAKTIK KOMUNIKASI

A.   Latar Belakang

       Semua benda yang ada di dunia mengalami perubahan, meskipun dalam bentuk dan kadar yang berbeda satu sama lain. Benda mati juga mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Ada yang berubah karena bereaksi dengan zat kimia, dan ada pul karena bereveolusi seperti layaknya makhluk ciptaan Tuhan.

       Perubahan yang terjadi pada makhluk hidup yang bergerak berbeda dengan perubahan yang terjadi pada makhluk yang tidak bergerak. Tumbuh-tumbuhan berubah, namun tidak bergerak seperti manusia atau hewan. Melalaui pengamatan, diketahui bahwa terjadi perbedaan yang hakiki antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain.

        Perubahan yang terjadi pada manusia kondisinya sangat kompleks. Ini disebabkan karena manusia merupakan bagian dari alam. Betapa pun cerdasnya seekor anjing, karena sudah dilatih untuk mencari jejak-jejak penjahat, namun tetap tidak pernah memikirkan cara memperoleh tempat tinggal yang nyaman. Demikian juga dengan hewan-hewan yang lain. Hewan-hewan tersebut, dari dulu hingga sekarang tidak pernah mengalami perubahan kualitatif. Secara naluriah, hewan melakukan hal yang telah menjadi kebiasaannya.

       Manusia juga memiliki sifat-sifatnaluriah yang tampak seperti hewan, namun yang sangat membedakan antara manusia dengan hewan adalah adanya akal. Akal dapat merubah kondisi ilmiah menjadi kondisi lain yang dikehendakinya.

        Secara kodrati, manuai berbeda dalam mengahdapi alam dan lingkungannya dibandingkan dengan hewan. Hewan tidak berusaha mengubah kondisi alamiah untuk kepentingannya. Pada manusia, selain menerima kondisi alam apa adanya, namun ditambah pula dengan berusaha agar kondisi tersebut sesuai dengan keinginannya. Melalui berpikir, manusia berusaha mengubah lingkungannya.

     Rakhmat (Pawit Yusuf, 221:2009) berpendapat bahwa manusia mempunyai sifat berubah yang sangat fundamental dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada hewan. Selain kondisi manusia yang berubah secara alamiah, namun alam sekitarnya pun diubah oleh manusia. Dari perubahan yang terjadi pada manusia banyak yang bisa diamati untuk kepentingan pemahaman perilaku sebagai salah satu informasi yang penting bagi dunia ilmu dan pengetahuan manusia.

        Perubahan-perubahan secara psikis dan kualitatif lebih erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan luar biasa pada manusia yang secara khusus banyak diamati oleh kalangan psikologi guna mengungkapkan potensi manusia.salah satu cabang yang secara khusus menggarap hal-hal yang terjadi seperti itu adalah psikologi.

       Menurut Irwanto, dkk (Pawit Yusuf,222:2009), psikologi adalah cabang ilmu yang mempelajari interaksi antar manusia secara psikologis, interaksi manusia dengan alam sekitar juga secara psikologis, atau dengan kata lain psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia dalam menghadapi manusia lain dan lingkungannya. Istilah perilaku ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa yang dipelajari bukan hanya yang kasat mata, tetapi juga yang tidak kasat mata.

      Perubahan perilaku yang terjadi pada manusia cenderung ke arah positif dan negatif. Hal positif dan negatif dijadikan patokan normatif dalam masyarakat. Berdasarkan dua arah perubahan tersebut, maka diusahakan agar perubahan yang terjadi pada diri manusia lebih diarahkan untuk berubah ke arah yang positif. Hal demikian disebut sebagai konsep perubahan perilaku, yaitu usaha yang dilakukan oleh orang secara sengaja untuk mengarahkan atau mengubah manusia lain yang masih belum dewasa ke arah yang lebih baik. Konsep ini lebih tampak dalam dunia pendidikan. Dunia komunikasi lebih memandang hal itu sebagai perubahan perilaku yang terjadi akibat efek-efek komunikasi dengan lingkungannya. Terjadinya perubahan perilaku atau proses belajar.

     Konsep perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dalam dunia pendidikan disebut belajar. Dalam dunia pendidikan, komunikasi berkedudukan sebagai alat pemroses perubahan perilaku atau proses belajar.

B.   Konsep Teori Belajar Stimulus Respons

     Teori perubahan perilaku (belajar) termasuk dalam kelompok behaviorisme. Teori ini memandang bahwa manusia merupakan produk dari lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkungan juga yang membentuk kepribadian manusia.

     Behaviorisme tidak mempermasalahkan norma-norma pada manusia. Behaviorisme hanya fokus mengakaji perilaku manusia sebagai akibat adanya interaksi dengan lingkungannya dan pola interaksi tersebut dapat diamati dari luar.

       Belajar dalam teori behaviorisme dikenal dengan hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dan respons yang ditampilkan oleh individu. Respons tertentu akan muncul dari individu jika diberi stimulus dari luar.

       Hosland, et al (http://joegolan.wordpress.com/2009/04/13/teori-pembelajaran/) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :

  • Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.
  • Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.
  • Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

      Ahli yang pertama kali mengemukakan teori belajar stimulus respons adalah Edward Lee Thorndike (1874-1949).Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain “Educational Psychology” (1903), “Mental and social Measurements” (1904), “Animal Intelligence” (1911), “A teacher’s Word Book” (1921), “Your City” (1939), dan “Human Nature and The Social Order” (1940).

       Menurut Thorndike (http://trimanjuniarso/wordpress.com), belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.

         Dalam membuktikan teorinya, Thorndike melakukan percobaan terhadap seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh dalam kandang, yang memiliki celah-celah kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat makanan yang berada di luar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam kandang tersebut. Mula-mula kucing tersebut mengitari kandang bebarapa kali sampai ia menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang kucing ini melakukan respon atau tindakan dengan cara coba-coba ia tidak mengetahui jalan keluar dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak-banyaknya sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang ada. Thorndike melakukan percobaan ini berkali-kali pada kucing yang sama dan situasi yang sama pula. Memang dalam menemukan jalan keluar, pertama kali kucing tersebut membutuhkan waktu yang lama dan pastinya mengitari kandang dengan jumlah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji yang menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang. Menurutnya, tindakan kucing tadi untuk mendapatkan makanan tidak lagi perlu mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok, akan tetapi kucing tadi langsung memegang jeruji yang menyebabkannya bisa keluar untuk makan.

         Thorndike menjelaskan bahwa dari berbagai situasi yang diberikan,  seekor hewan akan memberikan sejumlah respon dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan koneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon.

Gambar 1

Kucing Lapar yang Diletakan Dalam Sangkar

Melalui eksperimen ini, Thorndike berpendapat bahwa pembelajaran berlaku hasil daripada gabungan antara S-R, yaitu stimulus  dan respons.

        Percobaan yang dilakukan oleh Thorndike tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap respons menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan respons lagi dan dapat digambarkan sebagai berikut:

S—————-R——————– S1———————-R1————————-S2———————— R2

     Pada umumnya, teori belajar yang termasuk ke dalam keluarga besar behaviorisme memandang manusia sebagai organisme yang netral-pasif-reaktif terhadap stimulus di lingkungan sekitarnya. Orang akan bereaksi jika diberi rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika stimulus dilakukan secara terus-menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan berakibat pada perubahan perilaku. Misalnya, dalam hal kepercayaan sebagian masyarakat tentang obat-obatan yang diiklankan di televisi. Mereka sudah tau dan terbiasa menggunakan obat-obat tertentu yang secara gencar ditayangkan di televise. Ketika orang sakit maag, maka obatnya adalah promag, waisan, Mylanta ataupun atau obat-obat lain yang sering diiklankan di televisi. Jenis obat lain cenderung tidak pernah digunakan untuk penyakit maag, padahal mungkin saja secara higienis obat yang tidak tertampilkan lebih manjur.

        Onong Uchjana Effendy (254:2007), berpandangan bahwa teori stimulus respons mengkaji tentang efek yang ditimbulkan merupakan reaksi khusus terhadap stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Pandangan Onong Uchjana ini mengandung unsur-unsur dari model teori stimulus respons adalah pesan (Stimulus, S), komunikan (Organism,O) dan efek (Response, R). Dalam proses komunikasi berkenaan dengan perubahan sikap adalah aspek “how” bukan “what” dan “why”. Jelasnya, how to communicate dalam hal ini adalah how to change the attitude, yakni kemampuan mengubah sikap komunikan.

       Model S-R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan-tulisan), isyarat-isyarat non verbal, gambar-gambar, dan tindakan-tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu.  Proses ini juga disebut sebagai pertukaran atau pemindahan informasi atau gagasan. Proses ini dapat bersifat timbal balik dan mempunyai banyak efek (Deddy Mulyana,144:2007). Pandangan ini bermakna bahwa setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi (communication act) berikutnya.

       Pawit Yusuf (278:2009), berpandangan bahwa melalui pembiasaan, respon dihubungkan dengan stimulus tertentu. Pola hubungan atau koneksi ini  bersifat biologis, yakni perubahan dalam sistem saraf. Belajar terjadi jika stimulus mendapatkan respons yang benar, dan respons yang benar diperoleh melalui tindakan respons secara trial and error; mencoba, gagal, mencoba lagi, gagal lagi sampai pada kali tertentu menjadi berhasil.

       Teori stimulus respons pada dasarnya meruapak suatu prinsip belajar yang sederhana, yang efek merupakan reaksi terhadap stimulus tertentu. Seseorang dapat menjelaskan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audience. Mc Quail (Burhan Bungin,281:2009) menjelaskan elemen-elemen utama dari teori ini adalah pesan (stimulus); seorang penerima  atau receiver (organism) dan efek (respon).

        Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka disimpulkan bahwa teori belajar stimulus respons yang dikemukakan oleh Thorndike telah mengabaikan komunikasi sebagai suatu proses, khususnya yang berkenaan dengan faktor manusia. Secara implisit, ada asumsi dalam teori S-R ini  bahwa perilaku (respons) manusia dapat diramalkan.

      Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R adalah adanya unsure dorongan (drive), rangsangan (stimulus), respon (response) dan penguatan (reinforcement). Dorongan adalah suatu keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang sedang dirasakannya. Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan tersedianya sejumlah uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong untuk membelinya dengan cara meminta uang kepada ibu atau bapaknya. Unsur dorongan ini ada pada setiap orang meskipun kadarnya tidak sama.

       Stimulus datang dari luar diri individu dan berbeda dengan dorongan yang datangnya dari dalam. Contohnya: bau masakan yang lezat atau rayuan gombal. Dalam dunia aplikasi komunikasi instruksional, rangsangan bisa terjadi bahkan diupayakan terjadinya yang ditunjukan kepada pihak sasaran agar mereka bereaksi sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kegiatan mengajar atau kuliah, yang banyak pesertanya tidak tertarik atau mengantuk, maka sang komunikator instruksional atau pengajarnya bisa merangsangnya dengan sejumlah cara yang bisa dilakukan. Misalnya dengan bertanya tentang masalah-masalah tertentu yang sedang trend atau bisa juga dengan humor segar untuk membangkitkan kesiagaan pelajar dalam belajar.

        Berdasarkan adanya rangsangan atau stimulus, maka timbul reaksi di pihak sasaran atau komunikan. Bentuk reaksi ini bisa bermacam-macam, tergantung pada situasi, kondisi bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar yang disebut dengan respon dalam dunia teori belajar. Respon ini bisa diamati dari luar. Respon ada yang positif dan ada pula yang negatif. Respon positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukan respon terhadap stimulus yang ada dan tentunya yang sesuai dengan yang diharapkan. Sementara respon yang negatif adalah apabila seseorang justru memberi reaksi sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.

      Unsur yang terakhir adalah penguatan (reinforcement). Unsur ini datangnya dari pihak luar, ditunjukan kepada yang sedang merespon. Ketika respon telah benar, maka diberi penguatan, agar individu tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi. Seorang anak kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba dibentak dengan kasar oleh kakaknya, maka ia bisa terkejut dan bahkan bisa menderita guncangan sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang anak tadi tidak akan mencoreti buku lagi, namun akibat yang paling buruk di kemudian hari adalah bisa menjadi trauma untuk mencoreti buku karena takut bentakan. Bahkan yang lebih dikhawatirkan lagi akibatnya adalah jika ia tidak mau bermain dengan buku lagi atau alat tulis lainnya. Ini penguatan yang salah dari seorang kakak terhadap adiknya yang mamsih kecil ketika sedang mau memulai menulis buku. Akan lebih baik, jika kakaknya tadi tidak dengan cara membentak kasar, tetapi dengan bicara yang halus sambil membawa alat tulis lain berupa selembar kertas kosong sebagai penggantinya. Misalnya “bagus”! coba kalau menggambarnya di tempat ini, pasti lebuh “bagus”.

C.   Prinsip-prinsip Teori Belajar Stimulus Respons

Pendapat Thorndike tentang prinsip – prinsip belajar adalah sebagai berikut:

  • Pada saat seseorang berhadapan dengan sebuah situasi yang termasuk baru, berbagai ragam respon yang ia lakukan. Respon – respon tersebut dapat berbeda antara satu dengan lainnya hingga akhirnya seseorang mendapatkan respon yang benar.
  • Pada diri seseorang sebenarnya terdapat potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur – unsur yang penting dan kurang penting, hingga akhirnya menemukan respon yang tepat.
  •  Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama.
  • Orang cenderung mengadakan assosiatif shift thing yaitu menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tentang tatkala menyadari respon yang penting (http://panjiesantoso.wordpress.com/2010/05/13/karakteristik-belajar-dari thorndike/).

 

D.  Hukum-hukum Teori Belajar Stimulus Respons

Dari percobaan Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut (http://trimanjiarso/wordpress.com):

  • Hukum kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah ketiga adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbul ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
  • Hukum latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang atau dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
  • Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah  jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian.

Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut(http://trimanjiarso/wordpress.com):

  • Hukum reaksi bervariasi (multiple response). Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial and error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
  • Hukum sikap (set/ attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi ,sosial, maupun psikomotornya.
  • Hukum Aktifitas Berat Sebelah (Prepotency of Element). Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).
  • Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
  • Hukum perpindahan Asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

Selain menambahkan hukum-hukum baru, Thorndike   mengemukakan revisi hukum belajar antara lain (http://trimanjiarso/wordpress.com):

  •  Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
  •  Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
  •  Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
  • Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
  • Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.

E.   Transfer Belajar Dalam Teori Belajar Stimulus Respons

      Dalam teori belajar Thorndike, transfer terjadi jika unsure-unsur yang jadi stimulus identik dengan unsur-unsur lainnya sehingga respons terjadi secara langsung. Respons meliputi seluruh komponen dari perilaku organik. Ketika unsur-unsur identik terjadi dalam dua situasi belajar, maka transfer terjadi dari situasi yang pertama kepada situasi yang kedua secara otomatis. Contohnya seseorang yang sedang belajar bahasa Inggris akan lebih cepat menguasai kata-kata yang identik dengan bahasa asal orang yang mempelajarinya itu; orang yang bekerja di lingkungan perpustakaan dan pusat-pusat informasi, lebih mudah dalam menguasai materi ilmu perpustakaan dan informasi.

      Berdasarkan hal tersebut, maka penekanan dalam pelaksanaan instruksionalnya adalah dengan meningkatkan hubungan stimulus respons secara berulang-ulang terutama jika terjadi hubungan S-R yang diinginkan. Seorang guru akan terus mengupayakan terjadinya respons yang benar kepada murid-muridnya. Seorang orator akan lebih bersemangat jika auidiencenya memperhatikan orasinya.

     Untuk mengetahui adanya perubahan perilaku yang terjadi pada diri seseorang, diperlukan pendekatan menyeluruh tentang kondisi yang melatarbelakangi perubahan tersebut. Aspek-aspek psikologis yang banyak kaitannya dengan perubahan perilaku yang dimaksud antara lain, kematangan, struktur kognitif, motivasi, dan transfer belajar juga perlu dipahami sesuai dengan konteksnya.

       Dalam dunia psikologi, khususnya psikologi belajar, ada istilah kematangan (maturation). Ini artinya adalah suatu proses perkembangan yang terjadi pada diri seseorang yang mengungkapkan sifat-sifat berbeda dari waktu ke waktu. Adanya sifat-sifat berbeda dari waktu ke waktu ini mirip dengan perubahan yang dimaksud dengan belajar.

     Dalam proses belajar, menunjukkan perubahan-perubahan yang sistematis dalam berperilaku dan perubahan tersebut tampak setahap demi setahap, yang dimulai dari asalnya, tidak tahu menjadi tahu, dan yang dari asalnya sudah baik menjadi lebih baik lagi. Aspek dan kondisi yang turut memengaruhi proses belajar biasanya dirancang secara khusus untuk tujuan itu. Tidak apa adanya seperti yang sudah tersedia di alam.

      Pada manusia, pengetahuan dan belajar merupakan modal yang sangat besar dalam kehidupannya. Alat dibuat manusia untuk digunakan dalam usahanya mengembangkan kondisi hubungan alam sekitar dengan manusia. Melalui indera yang berupa sentuhan, penciuaman, perasaan, perabaan dan penglihatannya, manusia mencoba megembenagkan kualitas hubungannya dengan alam.

      Potensi manusia untuk menjadi manusia yang berkualitas, sebagian besar terletak pada kemampuannya mengembangkan pengelaman-pengalamannya melalui dunia lambing. Ini tidak dimiliki oleh dunia bintang. Melalui kemampuan tersebut, manusia mampu memenuhi keinginannya sehingga mampu pula menggunakannya dengan baik untuk memuaskan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dunia lambing ini yang merupakan aspek utama dalam kehidupan manusia dalam belajar atau mengubah perilakunya ke arah yang lebih berkualitas. Lambing yang dimaksud adalah lambing-lambang komunikasi yang memiliki pesan informasi.

      Orang tidak hanya mempelajari sesuatu, tetapi juga terdorong untuk mengetahui cara belajarnya, alasan belajar dan cara belajarnya. Sejak dahulu, beberapa kelompok masyarakat yang berbudaya, sudah ada orang yang mengembangkan sifat dan ide tentang belajar yang kemudian berkembang menjadi proses belajar.

    Dalam pemahaman selanjutanya, ada transfer yang memperkuat dan ada transfer yang memperlemah dalam belajar. Transfer yang memperkuat misalnya terjadi jika adanya pengalaman dan pengetahuan masa lalu yang mampu memperkuat semangat untuk memahami konsep yang sedang dipelajarinya. Sementara yang memperlemah adalah yang berlaku sebaliknya.

 

 F.   Aplikasi Teori Belajar Stimulus Respons Dalam Praktik Komunikasi

   Prinsip stimulus respon merupakan dasar dari teori jarum hipodermik, teori klasik mengenai proses terjadinya efek media massa yang sangat berpengaruh. Teori jarum hipodermik memandang bahwa sebuah pemberitaan media massa diibaratkan sebagai obat yang disuntikan ke dalam pembuluh darah audience, yang kemudian audience akan bereaksi  seperti yang diharapkan. Dalam masyarakat massa, prinsip stimulus respons mengasumsikan bahwa pesan informasi disiapkan oleh media dan didistribusikan secara sistematis dan dalam skala yang luas. Hasilnya adalah secara serempak pesan tersebut dapat diterima oleh sejumlah besar individu, bukan ditujukan pada orang perorang. Kemudian sejumlah besar individu itu akan merespon pesan informasi itu. Penggunaan teknologi telematika yang semakin luas dimaksudkan untuk reproduksi dan distribusi pesan informasi itu sehingga diharapkan dapat memaksimalkan jumlah penerima dan respon oleh audience sekaligus meningkatkan respons oleh audience.

     Pada tahun 1970, Melvin Defleur melakukan modifikasi  terhadap teori stimulus respons dengan teorinya yang dikenal sebagai perbedaan individu dalam komunikasi massa (individual differences). Diasumsikan bahwa pesan-pesan media berisi stimulus tertentu yang berinteraksi secara berbeda-beda dengan karakteristik pribadi para anggota audience. Teori Defleur ini secara eksplisit telah mengakui adanya interfensi variable-variabel psikologis yang berinteraksi dengan terpaan media massa dalam menghasilkan efek. Berdasarkan teori perbedaan individu dan stimulus respons ini, Defleur mengembangkan model psikodinamik yang didasarkan pada keyakinan bahwa kunci dari persuasi yang efektif terletak pada modifikasi struktur psikologis internal dan individu. Melalui modifikasi ini, respons tertentu yang diharapkan muncul dalam perilaku individu akan tercapai. Esensi dari model ini adalah fokusnya pada variabel-variabel yang berhubungan dengan individu sebagai penerima pesan, suatu kelanjutan dari asumsi sebab akibat dan mendasarkan pada perubahan sikap sebagai ukuran bagi perubahan perilaku (Sendjaja, 514:2002).

    Iklan televisi merupakan sarana memperkenalkan produk kepada konsumen. Keberadaanya sangat membantu pihak perusahaan dalam mempengaruhi afeksi pemirsa. Ia menjadi kekuatan dalam menstimulus pemirsa agar mau melakukan tindakan yang diinginkan.

      Secara substansi iklan televisi memiliki kontribusi dalam memformulasikan pesan-pesan kepada pemirsa. Akibatnya secara tidak langsung pemirsa telah melakukan proses belajar dalam mencerna serta mengingat pesan yang telah diterimanya. Kondisi ini tentunya tanpa disadari sebagai upaya mengubah sikap pemirsa.

      Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap. Dalam hal ini, perubahan sikap terjadi ketika komunikan memiliki keinginan untuk membeli atau memakai produk yang iklannya telah disaksikan di televisi.

       Pendekatan teori stimulus respons lebih mengutamakan cara-cara pemberian imbalan yang efektif agar komponen konasi dapat diarahkan pada sasaran yang dikehendaki. Sementara pemberian informasi penting untuk dapat berubahnya komponen kognisi. Komponen kognisi itu merupakan dasar untuk memahami dan mengambil keputusan agar dalam keputusan itu terjadi keseimbangan. Keseimbangan inilah yang merupakan system dalam menentukan arah dan tingkah laku seseorang. Dalam penentuan arah itu terbentuk pula motif yang mendorong terjadinya tingkah laku tersebut. Dinamika tingkah laku disebabkan pengaruh internal dan eksternal.

       Dalam teori stimulus respons, pengaruh eksternal ini yang dapat menjadi stimulus dan memberikan rangsangan sehingga berubahnya sikap dan tingkah laku seseorang. Untuk keberhasilan dalam mengubah sikap maka komunikator perlu memberikan tambahan stimulus agar penerima berita mau mengubah sikap. Hal ini dapat dilakukan dalam barbagai cara seperti dengan pemberian imbalan atau hukuman. Dengan cara demikian ini penerima informasi akan mempersepsikannya sebagai suatu arti yang bermanfaat bagi dirinya dan adanya sanksi jika hak ini dilakukan atau tidak. Dengan sendirinya penguatan ini harus dapat dimengerti, dan diterima sebagai hal yang mempunyai efek langsung terhadap sikap. Untuk tercapainya ini perlu cara penyampaian yang efektif dan efisien.

     Pada pengamatan dari sisi keterpengaruhan, secara pragmatis iklan televisi mudah mempengaruhi kelompok remaja dibandingkan kelompok dewasa. Artinya, jika teori stimulus respons dihubungkan dengan keberadaan remaja, maka kekuatan rangsangan iklan televisi sangat kental dalam memantulkan respon yang sebanding. Sistem seleksi yang semestinya melalui proses penyaringan yang ketat terkalahkan oleh sifat mudah dipengaruhi.

       Kontribusi teori stimulus respons begitu terlihat dalam iklan televisi. Dilihat dari sudut pandang target sasaran, secara kondisional yang gampang dipersuasi adalah remaja. Remaja. Remaja yang masih berada pada masa transisi memiliki tingkat selekivitas yang lebih rendah di bandingkan dengan dengan orang dewasa. Konsekuensinya, wajar jika remaja menjadi kelompok sasaran utama iklan televisi. Akibatnya, tanpa disadari remaja telah memposisikan diri sebagai kelompok hedonis dengan rating tinggi. Keinginan yang selalu menggebu-gebu dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah indikasi yang pas sekaligus menggambarkan betapa remaja begitu sukar untuk menunda desakan kebutuhan emosinya.

      Membeli dan mencoba seakan menjadi bagian hidup remaja yang sejalan dengan mengkristalnya kognisi tentang aneka ragam kebutuhan yang ditawarkan televisi melalui iklannya yang akomodatif dan fantastis.

       Teori stimulus respons bisa juga diaplikasikan dalam proses pembelajaran siswa. Para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.

    Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori stimulus respons ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Contoh aplikasi stimulus seperti guru mengadakan ulangan yang teratur atau dengan ulangan yang ketat. Guru juga memberikan bimbingan, pemberian hadiah, dan pujian.

      Adanya bahan dan pelaksanaan kegiatan komunikasi serta instruksional terprogram sekarang ini di lingkungan sekolah, pendidikan, lembaga non pendidikan dan lembaga sosial lainnya, itu menggambarkan pola belajar dan mengajar yang dipengaruhi oleh bahaviorisme. Instruksional terprogram adalah system belajar dan mengajar tentang suatu bidang studi tertentu yang dipecah-pecah menjadi beberapa bagian kecil, dipisahkan secara hati-hati, serta diorganisasikan ke dalam suatu urutan yang logis sehingga mempermudah murid mempelajarinya. Misalnya, bab kuliah dibuat per bab dan sub bab. Dosen membuat SAP dalam perkuliahannya.

      Setiap langkah dalam pengajaran terprogram ini harus tersusun dari yang mudah dan sederhana kepada yang sulit dan kompleks. Setiap respon yang dilakukan oleh murid sekaligus mendapatkan penguatannya. Pada saat sasaran dibidik merespons secara positif atas stimulus yang disampaikan, maka harus segera diberi penguatan positif. Demikian juga jika komunikan merespons secara negatif atau salah maka kita harus segera memberikan penguatan negatif berupa hukuman (punishment). Melalaui hal itu, proses stimulus dan respons bisa berlangsung secara terus-menerus sehingga terjadi transfer belajar secara otomatis.

      Dalam hal pelaksanaannya dalam dunia pendidikan, sebagian guru atau para pengajar sering menerapkan disiplin yang terkesan kaku terhadap masalah-masalah belajar muridnya. System kredit semester di perguruan tinggi sering tidak pas dengan system tersebut. Paket-paket belajar atau bidang studi masih banyak yang diberikan kepada sejumlah mahasiswa tanpa bisa menolaknya. Sistem disiplin memang baik untuk menanamkan kebiasaan mahasiswa dalam kehadiran, namun situasi dan kondisi yang sering menjadi penghambat terlaksananya disiplin juga perlu diperhatikan sehingga dosen pun perlu memperhatikan ini.

 

G.   Analisis Kelebihan dan Kelemahan Teori Belajar Stimulus Respons

       Berdasarkan berbagai uraian pada pembahasan makalah ini, maka penulis menganalisis kelebihan teori belajar stimulus respona sebagai berikut:

  • Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
  • Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi dan daya tahan.
  • Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Ketika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan.
  • Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan , suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
  • Mampu membentuk suatu perilaku yang diinginkan mendapatkan penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif, yang didasari pada perilaku yang tampak.
  • Melalui pengulangan dan pelatihan yang kontinyu dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Ketika anak sudah mahir dalam satu bidang tertentu maka akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang kontinyu tersebut dan lebih optimal.
  • Bahan pelajaran yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilkan sustu perilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu.

Sementara kelemahan teori belajar stimulus respons adalah sebagai berikut:

  • Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
  • Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
  •  Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
  •  Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu kondisi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah guru melatih dan menetukan apa yang harus dipelajari murid sehingga dapat menekan kreatifitas siswa.
  • Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan meghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatif siswa terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.

 

H.  Kesimpulan

       Teori belajar stimulus respons berpandangan bahwa perubahan perilaku manusia merupakan produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat dari pengaruh lingkungan. Dalam teori stimulus respons, belajar dipandang sebagai proses hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dengan respons yang ditampilkan oleh individu.

      Dalam praktik komunikasi, teori stimulus respon sangat erat kaitannya dengan teori jarum hipodermik. Penggunaan teknologi telematika yang semakin berkembang pesat, berhubungan erat dengan teori stimulus respon yang kemudian menjadi landasan teori jarum hipodermik. Audience yang disuntikan dengan berbagai berita dari media massa secara terus-menerus akan mendapat respons yang cepat dari audience. Selain dalam praktik komunikasi massa, teori stimulus respons juga diterapkan dalam bidang pendidikan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Bungin, Burhan. 2009. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.

Effendy, Onong Uchjana. 2007. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosadakarya.

Sendjaja, Sasa Djuarsa. 2005. Paradigma Baru Pendidikan Ilmu Komunikasi di Indonesia. Jakarta: Komunika.

Yusuf, Pawit M. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Sumber Internet

(http://trimanjuniarso/wordpress.com). 16 Mei 2011

(http://panjiesantoso.wordpress.com/2010/05/13/karakteristik-belajar-dari thorndike/).16 Mei 2011

MAKALAH SOSIOLOGI KOMUNIKASI

SOSIOLOGI SEBAGAI LANDASAN ILMIAH KOMUNIKASI

 

A. Latar Belakang

         Sosiologi sebagai landasan ilmu komunikasi dapat dilihat dari fokus sosiologi yang mempelajari manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat, pembentukan kelompok terjadi melalui proses interkasi sosial dan pembentukan masyarakat juga terjadi melalui proses interaksi antarkelompok. Proses pembentukan interaksi kelompok dan masyarakat luas itu terjadi melalui komunikasi. Komunikasi menghasilkan interkasi sosial dan memungkinkan adanya kontak sosial.

           Pembahasan komunikasi selalu berkaitan dengan proses sosial, yakni kegiatan pertukaran pikiran dan modifikasi sistem nilai. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa komunikasi sosial di sebuah masyarakat merupakan proses yang tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai masyarakat itu sendiri. Ini yang membuktikan bahwa sosiologi itu berpengaruh besar dalam tataran komunikasi.

        Sosiologi menjelaskan bahwa komunikasi menjadi unsur terpenting dalam seluruh kehidupan manusia. Kontak sosial menjadi sangat bermakna karena ada komunikasi, sehingga kehidupan sosial akan menjadi hidup. Tanpa komunikasi interaksi sosial tidak akan terjalin.

            Komunikasi dan sosiologi merupakan dua hal yang saling keterkaitan, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang telah lama berkembang, sedangkan komunikasi merupakan proses interaksi yang berada dalam kajian sosiologi. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi menjadi landasan kelahiran dan perkembangan ilmu komunikasi untuk mengkaji kualitas interaksi sosial masyarakat. Pengaruh sosiologi terhadap komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat menghasilkan sebuah sub ilmu kajian yang dinamakan sebagai sosiologi komunikasi.

B. Sejarah Kelahiran Sosiologi Komunikasi

         Asal mula kajian komunikasi di dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl Marx. Karl Marx merupakan salah satu pendiri sosiologi yang beraliran Jerman. Sementara Claude Henri Saint-Simon, August Comte dan Emile Durkheim merupakan ahli sosiologi yang beraliran Perancis.

         Gagasan awal Karl Marx tidak pernah lepas dari pemikiran-pemikiran Hegel. Hegel memiliki pengaruh yang kuat terhadap Karl Marx, bahkan Karl Marx muda menjadi seorang idealisme justru berasal dari pemikiran-pemikiran Hegel tentang idealisme. Karl marx tua kemudian menjadi seorang materialisme.

       Menurut Ritzer (Burhan Bungin, 18:20090, pemikiran Hegel yang paling utama dalam melahirkan pemikiran-pemikiran tradisional konflik dan kritis ajarannya tentang dialektika dan idealisme. Dialektika merupakan suatu cara berpikir dan citra tentang dunia. Sebagai cara berpikir, dialektika menekankan pada cara berpikir yang lebih dinamis tentang arti penting dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi. Pada sisi lain, dialektika adalah pandangan tentang dunia bukan tersusun dari struktur yang statis, tetapi terdiri dari proses, hubungan, dinamika, konflik dan kontradiksi.

        Hegel juga dikaitkan dengan filsafat idealisme yang lebih mementingkan pikiran dan produk mental daripada kehidupan material. Dalam bentuknya yang ekstrem, idealisme menegaskan bahwa hanya konstruksi pikiran dan psikologi yang ada, idealisme adalah suatu proses yang kekal dalam kehidupan manusia, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa proses mental tetap ada walaupun kehidupan sosial dan fisik sudah tidak ada lagi. Idealisme merupakan sebuah produk berpikir yang menekankan tidak saja pada proses mental, namun juga gagasan-gagasan yang dihasilkan dari proses mental itu.

       Pemikiran-pemikiran Habermas sendiri termasuk dalam kelompok kritis. Habermas sendiri menamakan gagasan-gagasan sebagai rekonstruksi materialism historis. Habermas bertolak dari pemikiran Marx, seperti potensi manusia, spesies makhluk dan aktivitas yang berperasaan. Habermas mengatakan bahwa, Marx telah gagal membedakan antara dua komponen analitik yang berbeda, yaitu kerja dan interaksi. Antara kerja dan interaksi sosial, Marx hanya membahas kerja saja dan mengabaikan interaksi sosial. Ritzer (Burhan Bungin,18:2009) mengutip bahwa Habermas berkata: “ ia hanya mengambil perbedaan antara kerja dengan interaksi sosial sebagai titik awalnya”. Pada sepanjang tulisannya, Habermas menjelaskan perbedaan ini, meski ia cenderung menggunakan istilah tindakan rasional purposive dan tindakan komunikatif (interaksi). Dalam The Theory of Communication Action pun ia menyebut tindakan komunkatif ini sebagai bagian dari dasar-dasar ilmu sosial dan teori komunikasi.

       Selama tahun 1970-an Habermas memperbanyak studi-studinya mengenai ilmu-ilmu sosial dan mulai menata ulang teori ktitik sebagai teori komunikasi. Tahap kunci dari perkembangan initermuat dalam kumpulan studi yang ditulis bersama Niklas Lukhmann, yakni Theori der Gesellchaft der Sozialtechnologie (1971); Legitimations problem des Historischen Materialismus (1976); dan berbagai kumpulan esai.

      Sumbangan pemikiran juga diberikan oleh John Dewey, yang sering disebut sebagai the first philosopher of communication itu dikenal hingga kini dengan filsafat pragmatiknya, suatu keyakinan bahwa sebuah ide itu benar jika ia berfungsi dalam praktik. Pragmatisme menolak dualisme pikiran dan materi, serta subjek dan objek. Gagasan-gagasan seharusnya bermanfaat bagi masyarakat, pesan-pesan ide harus tersampaikan dan memberikan kontribusi pada tingkat perilaku orang. Pesan ide membentuk tindakan dan perilaku di lapangan.

     Penjelasan  tersebut juga menegaskan bahwa sejarah sosiologi komunikasi menempuh dua jalur. Pemikiran Comte, Durkheim, Parsons dan Merton, merupakan sumbangan paradigma fungsional bagi kelahiran teori-teori komunikasi yang beraliran struktural fungsional. Sementara sumbangan-sumbangan pemikiran Karl Marx dan Habermas menyumbangkan paradigma konflik bagi kelahiran teori-teori kritis dalam kajian komunikasi.

      Sejak awal, sosiologi telah menaruh perhatian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan interaksi sosial antara seseorang dan orang lain. Hal yang disebut oleh Comte sebagai “social dynamic”, “kesadaran kolektif” oleh Durkheim , “interkasi sosial” oleh Marx serta “tindakan komunikatif” dan “teori komunikasi” oleh Habermas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi.

        Selain yang disumbangkan oleh Karl Marx dan Habermas mengenai teori kritis dalam komunikasi, sumbangan dari perspektif structural fungsional dalam sosiologi yang diajarkan oleh talcot Parsons dengan teori sistem tindakan maupun dengan skema AGIL, serta kajian Robert K. Merton tentang struktur-struktur fungsional, struktur sosial dan anomie merupakan sumbangan-sumbangan yang sangat pentingterhadap lahirnya teori-teori komunikasi.

         Saat ini perspektif teoritis mengenai sosiologi komunikasi bertumpu pada fokus kajian sosiologi mengenai interaksi sosial dan semua aspek yang bersentuhan dengan kajian tersebut. Narwoko dan Suyanto (Burhan Bungin, 20:2009) mengatakan bahwa, kajian tentang interaksi sosial mengisyaratkan adanya fungsi-fungsi komunikasi yang lebih dalam, seperti adanya kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial terjadi bukan semata-mata tergantung tindakan, tetapi juga tergantung pada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut. Sementara aspek penting dari komunikasi adalah bila seseprang memberikan tafsiran kepada sesuatu atau pada kelakuan orang. Dalam komunikasi, persoalan makna juga menjadi sangat penting ditafsirkan oleh seseorang yang mendapat informasi (pemberitaan0 karena makna yang dikirim oleh komunikator dan penerima informasi menjadi sangat subjektif dan ditentukan oleh konteks sosial ketika informasi disebar dan diterima.

C. Konseptualisasi dan Ruang Lingkup Sosiologi Komunikasi

Interaksi sosial dalam berkelompok dan bermasyarakat, yang oleh Habermas disebut sebagai tindakan komunikasi, tidak lain merupakan persepektif sosiologi. Perspektif itu pula yang menjadi objek pengamatan sosiologi komunikasi. Fokus interaksi sosial dalam masyarakat dalam masyarakat adalah komunikasi. Sehubungan dengan hal itu, maka konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep tentang sosiologi, community, communication dan telematika. Konsep-konsep tersebut yang kemudian melahirkan studi-studi integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan studi-studi interelasi sekaligus juga sebagai ruang lingkup dalam studi sosiologi komunikasi.

1)   Sosiologi

     Kata Sosiologi  adalah  berasal  dari  kata  sofie,  yang berarti bercocok  tanam  atau bertanam,  kemudian  berkembang  menjadi  socius  (Bahasa Latin)  yang  berarti  teman atau kawan.  Selanjutnya berkembang  lagi  menjadi  kata  social  yang  berarti berteman,  bersama atau berserikat.

    Hasan Shadily (Burhan Bungin,27:2009), secara khusus kata sosial maksudnya adalah kata sosial secara khusus adalah hal-hal mengenai berbagai kejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Pengertian ini juga mengandung makna bahwa Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakatnya (tidak  sebagai  individu  yang  terlepas    dari  golongan  atau masyarakatnya), dengan  ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agamanya,

Pitirim Sorokin (Soekanto,1:9200) mengemukakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:

  • Hubungan dan pengaruh  timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik).
  • Hubungan  dengan  pengaruh  timbal  balik  antara  gejala  sosial  dengan gejala non sosial (misalnya gejala geografis dan biologis).

       Roucek  dan Warren  (Soekanto,19:2003)  mengemukakan  bahwa  sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff  (Soekanto,19:2003) berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara  ilmiah  terhadap  interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial.

       Selo Soermadjan dan Soelaman seomardi (Soekanto,20;2003) mengatakan bahwa, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Sturktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, seperti pengaruh hubungan timbal balik antara segi kehidupan hukum dengan kehidupan ekonomi. Salah satu proses sosial yang bersifat tersendiri adalah dalam perubahan-perubahan di struktur sosial. Pembentukan struktur sosial, terjadinya proses sosial dan perubahan-perubahan sosial tidak lepas dari adanya aktivitas interaksi sosial yang menjadi salah satu ruang lingkup sosiologi. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara timbal balik antar manusia, struktur sosial dan proses-proses sosial.

2)   Community (Masyarakat)

      Menurut Ralph linton (Soekanto:24:2003), masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka  dan  menganggap  diri  mereka  sebagai    suatu  kesatuan  sosial  dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Selo Soemardjan (Soekanto,24:2003) menyatakan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.

       Sementara menurut Mac Iver dan Page,masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah disebut masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan masyarakat selalu berubah(http://dechyku.wordpress.com/2010/12/12/definisi masyarakat).

     Berdasarkan berbagai definisi tersebut, maka disimpulkan bahwa masyarakat adalah kumpulan manusia yang hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut. Pengertian  manusia  yang  hidup  bersama  dalam  ilmu  sosial  tidak  mutlak jumlahnya,  bisa saja dua  orang  atau  lebih,  tetapi minimal adalah dua  orang. Manusia tersebut hidup  bersama  dalam waktu  cukup  lama,  dan  akhirnya melahirkan manusia-manusia baru yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Hubungan antara manusia,  kemudian  melahirkan  keinginan,  kepentingan,  perasaan,  kesan dan penilaian. Keseluruhan  itu  kemudian  mewujudkan  adanya  system  komunikasi  dan peraturan-peraturan  yang  mengatur  hubungan  antara  manusia  dalam  masyarakat tersebut. Dalam system hidup  tersebut, maka muncul budaya yang mengikat antara satu manusia dengan yang lain.

3)   Teknologi Telematika

       Istilah teknologi telematika (telekomunikasi, media dan informatika) berawal dari istilah teknologi informasi (Information Technology atau IT). Istilah ini mulai popular di akhir decade 70-an. Pada masa sebelumnya, teknologi informasi masih disebut dengan istilah teknologi komputer atau pengolahan data elektronik atau Electronic Data Processing (Burhan Bungin:29:2009).

        Istilah telematika lebih ke arah penyebutan kelompok teknologi yang disebutkan secara bersama-sama, namun sebenarnya yang dimaksud adalah teknologi informasi yang digunakan di media massa serta teknologi telekomunikasi yang umumnya digunakan dalam bidang komunikasi lainnya. Sementara itu, istilah teknologi seringkali rancu dengan sistem informasi. Ada yang menggunakan istilah teknologi informasi untuk menjabarkan sekumpulan sistem informasi, pemakai, dan manajemen. Pendapat ini menggambarkan teknologi dalam perspektif yang luas.

         Menurut Alter (Burhan Bungin,30:2009), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, mentrasmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi atau menampilkan data. Martin (Burhan Bungin,30:2009), mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.

           Secara lebih luas, Lucas (Burhan Bungin,30:2009) menyatakan bahwa teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis. Berdasarkan berbagai uraian tersebut, maka disimpulkan bahwa teknologi telematika adalah teknologi yang dapat memproses hingga mengrim informasi secara elektronis.

4)   Communication (Komunikasi)

         Thedornson and Theodornson (Burhan bungin,30:2009), memberi batasan lingkup berupa penyebaran informasi, ide-ide, sikap-sikap atau emosi dari seorang atau sekelompok kepada yang lain terutama melalui symbol-simbol. Garbner yang dikutip olleh Mcquail dan Windhal (Burhan Bungin,31:20090, mendefinisikan komunikasi sebagai interaksi sosial melalui pesan-pesan.

            Onong Uchyana (2002:11), mengatakan bahwa komunikasi sebagai proses, pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran ata perasaan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informas atau opini yang muncul dari benak komunikator. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, maupun kegairahan yang muncul dari dalam hati.

          Berdasarkan berbagai definisi tersebut, maka disimpulkan bahwa lingkup komunikasi menyangkut persoalan-persoalan yang terkait dengan substansi interaksi sosial orang-orang dalam masyarakat; termasuk komunikasi yang dilakukan secara langusung maupun dengan menggunakan media komunikasi.

5)   Sosiologi Komunikasi

       Menurut Soerjono Sokeanto (1992:471), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial, yaitu suatu hubungan atau komunikasi yang menimbulkan proses saling pengaruh-mempengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Stephen F. Steele (Petrus Andung), mengungkapkan bahwa sosiologi komunikasi adalah studi yang mempelajari perilaku kolektif akibat media.

          Liliwery (Petrus Andung) memahami sosiologi komunikasi dalam dua bagian yakni level makro dan mikro. Dalam arti luas (makro), Liliwery berpendapat bahwa sosiologi komunikasi merupakan cabang dari sosiologi yang mempelajari atau menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam kelompok atau masyarakat. Sementara dalam artian sempit (mikro), Liliwery mendefinisikan sosiologi komunikasi sebagai cabang dari sosiologi yang mempelajari atau yang menerangkan mengenai prinsip-prinsip keilmuan (ilmu sosial, sosiologi) tentang bagaimana proses komunikasi manusia dalam konteks komunikasi massa dari suatu masyarakat.

          Secara komprehensif Sosiologi Komunikasi mempelajari  tentang  interaksi sosial sebagai aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi) itu dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari  interaksi  tersebut, samapai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di masyarakat  yang  didorong  oleh  efek  media  berkembang  serta  konsekuensi  sosial yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dai perubahan-perubahan yang didorong oleh media. (Burhan Bungin,31:2009)

          Berdasarkan berbagai definisi di atas, disimpulkan bahwa sosiologi komunikasi adalah cabang dari ilmu sosiologi yang khusus mempelajari proses komunikasi dalam masyarakat (interaksi sosial). Uraian di atas juga menegaskan bahwa pokok kajian dalam sosiologi komunikasi adalah komunikasi  yang  terjadi  dalam  kehidupan  masyarakat,  baik  komunikasi  yang  terjadi dalam masyarakat  perkotaan maupun masyarakat  pedesaan,  komunikasi massa  dan efeknya, komunikasi yang terjadi antar masyarakat yang berbeda budaya, hubungan antara komunikasi dan perubahan sosial serta pembangunan bagi masyarakat serta teknologi komunikasi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat dan efeknya bagi masyarakat itu sendiri.

Burhan Bungin (31:2009), membagi komunikasi dalam masyarakat menjadi lima jenis, sebagai berikut:

  • Komunikasi individu dengan individu (antar pribadi). Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi, yang terjadi secara langsung (tanpa medium) atau tidak langsung (melalui medium). Contohnya kegiatan percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon atau surat menyurat pribadi. Fokus pengamatannya adalah bentuk-bentuk dan sifat hubungan-hubungan (relationship), percakapan (discourse), interaksi dan karakteristik komunikator.
  • Komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok memfokuskan pembahasannya pada interaksi di antara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antar pribadi. Bahasan teoritis meliputi meliputi dinamika kelompok, efisiensi dan efektifitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interkasi serta pembuatan keputusan.
  • Komunikasi organisasi. Komunikasi menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan Jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasannya meliputi struktur dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta kebudayaan organisasi.
  • Komunikasi sosial. Menurut Astrid (Burhan Bungin,32:2009), adalah salah satu bentuk komunikasi yang lebih intensif, komunikasi terjadi secara langsung antara komunikator dengan komunikan, sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu integrasi sosial. Komunikasi sosial sekaligus sutau proses sosialisasi dan untuk pencapaian stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleh sutau masyarakat melalui komunikasi sosial kesadaran masyarakat dipupuk, dibina dan diperluas. Melalui komunikasi sosial, masalah-masalah sosial dipecahkan melalui konsensus.
  • Komunikasi massa. Menurut Josep A. Devito (Nurudin,11:2009), komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya yang medianya melalui pemancar-pemancar audio dan visual.  Lingkup komunikasi massa meliputi sumber pemberitaan, pesan komunikasi, hubungan komunikan dengan komunikator serta dampak pemberitaan terhadap masyarakat.

D.Ranah Sosiologi Komunikasi

          Ranah  sosiologi  Komunikasi  berbeda  dengan  studi-studi  komunikasi  dan sosiologi secara keseluruhan, dengan kata  lain objek sosiologi komunikasi  tidak sama dengan  sosiologi  secara  umum  dan  tidak  mengambil  objek  komunikasi  secara  utuh, akan  tetapi  sosiologi  komunikasi  menjembatani  studi  sosiologi  dan  studi  komunikasi. Jembatan  itu  dibangun  berdasarkan  kajian  sosiologi  tentang  interaksi  sosial, yang dalam sosiologi juga dikenal dengan subkajian masalah-masalah komunikasi, kemudian menariknya ke dalam studi komunikasi yang berkaitan erat dengan sosiologi yaitu studi-studi media, dampak media maupun perkembangan teknologi komunikasi. Dalam perkembangan selanjutanya, studi-studi sosiologi dan studi-studi komunikasi, maka kajian sosiologi komunikasi ini berkembang menjadi satu kajian yang tidak bisa lagi dibedakan secara sosiologis dengan komunikasa. Dalam  arti  ketika  membahas  kasus-kasus  sosiologi  komunikasi,  maka  akan ditemukan  sebuah  kenyataan  bahwa yang  menjadi  perhatian  komunikasi  juga menjadi  perhatian  sosiologi.  Hal  ini  terjadi  karena  ranah  sosiologi  komunikasi  adalah kajian sosiologi dan kajian komunikasi  seperti individu, kelompok, masyarakat, dunia dan interaksinya.

        Ranah  sosiologi  komunikasi  berada  pada  wilayah  individu,  kelompok, masyarakat,  dan  sistem  dunia.  Ranah  ini  bersentuhan  dengan  wilayah  lain, seperti  teknologi  telematika,  komunikasi,  proses  interaksi  sosial  serta  budaya kosmopolitan, seperti terlihat pada gambar  di bawah ini.

Gambar 1

Ranah Sosiologi Komunikasi

 

 

 E.   Objek Sosiologi Komunikasi

         Setiap bidang ilmu dalam rumpun ilmu-ilmu sosial memiliki objek kajian formal yang sama yaitu manusia. Manusia adalah objek yang tidak pernah habis dibahas dari berbagai aspek dan sudut pandang dalam konteks mikro, makro, fisik, metafisika, bahkan dalam konteks spiritualnya. Objek formal manusia yang dimaksud adalah dalam konteks individu, kelompok, masyarakat, dunia serta aspek-aspek sosiologis yang mengitarinya.

          Objek formal dalam studi sosiologi komunikasi menekankan pada aspek aktivitas manusia sebagai makhluk sosial yang melakukan aktivitas sosiologis yaitu proses sosial dan komunikasi, aspek ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan bersama orang lain. Aspek lainnya adalah telematika dan realitasnya. Aspek ini menyangkut persoalan teknologi media, teknologi komunikasi dan merupakan berbagai persoalan konvergensi yang ditimbulkan termasuk realitas maya yang dihasilkan oleh telematika sebagai ruang publik baru yang tanpa batas dan memiliki masa depan yang cerah bagi ruang kehidupan. Sebaliknya perkembangan telematika dan aspek-aspeknya serta pengaruhnya terhadap perkembanagn media massa memberikan efek yang luar biasa pada masyarakat.

          Efek media memiliki ruang bahasan yang luas terhadap konsekuensinya pada proses-proses sosial, menyangkut individu, kelompok, masyarakat maupun dunia, termasuk aspek-aspek yang merusak seperti kekerasan, pelecehan, penghinaan, bahkan sampai pada masalah-masalah kriminal. Pengaruh efek media juga ikut membentuk life style dan kelahiran norma sosial baru di masyarakat terutama pada masyarakat kosmopolitan, sekuler, cerdas, professional, materialis, hedonis serta modis.

         Perkembangan telematika tidak saja memasuki ranah sosial, namun juga memasuki ranah hukum dan bisnis. Hal ini disebabkan oleh konsekuensi dominasi telematika dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Ketika telematika sampai pada kemampuannya menciptakan masyarakat baru yaitu cybercommunity, maka kebutuhan pada cyberlaw menjadi mutlak ada dan mengatur seluruh fungsi sirkulasi serta peredaran aspek-aspek kehidupan sosial sebagaimana kebutuhan suatu sistem sosial.

Gambar 2

Objek Sosiologi Komunikasi

  F.   Kompleksitas Sosiologi Komunikasi

         Studi sosiologi komunikasi bersifat interdisipliner. Artinya, sosiologi tidak saja membatasi diri pada persoalan komunikasi dan seluk beluknya, tetapi juga membuka diri pada kontribusi disiplin ilmu lainnya seiring dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman. Karena bersentuhan langsung dengan berbagai disiplin ilmu, maka studi sosiologi komunikasi menjadi rumit atau kompleks.

     Studi sosiologi komunikasi ikut dipengaruhi oleh perkembangan berbagai bidang ilmu di sekitarnya mulai dari perkembangan teknologi, budaya, sosiologi, hukum, ekonomi, dan bahkan negara. Bidang ilmu yang paling mempengaruhi perkembangan sosiologi komunikasi adalah teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini terjadi karena perubahan dan kemajuan teknologi komunikasi cenderung membawa dampak yang cukup besar terhadap kemajuan dan perubahan pada bidang-bidang ilmu lainnya seperti budaya dan ekonomi.

Gambar 4

Kompleksitas Sosiologi Komunikasi

     

  Hingga saat ini kajian sosiologi selalu tertinggal jauh dari perkembangan tekenologi telekomunikasi. Berbagai teori dirsakan cepat usang dan sudah tidak up-to date lagi, begitupula perspektif yang semula dianggap penting untuk dikembangkan dalam studi-studi komunikasi menjadi semakin kompleks dalam waktu singkat. Begitupula kaitan studi sosiologi komunikasi dengan disiplin ilmu lain setiap saat dipandang sangat membantu kajian-kajian sosiologi komunikasi. Sementara kekhawatiran yang ada bahwa terasa begitu sedikit para ahli yang ikut memikirkan kajian ini, padahal kenyataannya sudah sangat banyak di masyarakat. salah satu pemicu perkembangan sosiologi komunikasi yang cepat ini disebabkan karena sosiologi komunikasi tidak berkembang pesat seperti perkembangan teknologi. Pacu memacu antara teknologi dan teori di ranah wacana, aplikasi dan masyarakat ini yang kemudian setiap saat melebarkan arena objek sosiologi komunikasi.

G. Kesimpulan

  • Gagasan-gagasan perspektif sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi  itu sendiri baik dalam perspektif struktural  fungsional maupun dalam perspektif konflik.
  • Konsep-konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi adalah konsep sosiologi, masyarakat dan komunikasi dan teknologi telematika.
  • Kehidupan bermasyarakat, merupakan obyek pengamatan sosiologi yang masuk dalam  rumpun  ilmu  sosial.  Sosiologi  mempelajari  berbagai  segi  kehidupan manusia yang bermasyarakat dan salah satu ruang lingkup yang diamati adalah interaksi sosial yang  terjadi dalam masyarakat.    Inti dari  interaksi sosial adalah komunikasi,  karenanya  muncul  kekhususan  dalam  sosiologi  yang  dinamakan Sosiologi  Komunikasi, yaitu  ilmu  yang  mempelajari  atau  menganalisa komunikasi dari sisi sosiologis.
  • Sosiologi  komunikasi  ini  kita  akan mempelajari  komunikasi  yang  terjadi  dalam kehidupan  masyarakat,  baik  komunikasi  yang  terjadi  dalam  masyarakat  perkotaan  maupun  masyarakat  pedesaan,  komunikasi  massa  dan  efeknya, komunikasi yang  terjadi antar masyarakat yang berbeda budayanya, hubungan antara komunikasi dan  perubahan sosial serta  pembangunan bagi masyarakat, dan  juga  teknologi komunikasi  yang berkembang dalam kehidupan masyarakat dan efeknya bagi masyarakat.
  • Ranah  sosiologi  komunikasi  berada  pada  wilayah  individu,  kelompok, masyarakat,  dan  sistem  dunia. Dimana  ranah  ini  bersentuhan  dengan wilayah lain,  seperti  teknologi  telematika,  komunikasi,  proses  interaksi  sosial  serta budaya kosmopolitan.
  • Kompleksitas  sosiologi  komunikasi  selain  bersifat  interdisipliner  dan  terbuka terhadap sumbangan disiplin ilmu lain, seperti budaya, ekonomi, agama, hukum negara sampai pada teknologi.
  • Objek  sosiologi  komunikasi  adalah  manusia  yang  menekankan  pada  aspek aktivitas manusia  sebagai makhluk  sosial  yang melakukan  aktivitas  sosiologis yaitu aspek sosial dan komunikasi, aspek  ini merupakan aspek dominan dalam kehidupan manusia  bersama  orang  lain.  Aspek  lainnya  adalah  telematika  dan realitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.

Effendy, Onong Uchjana. 2002. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo.

Nurudin. 2007.Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Soekanto, Soerjono.2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

MAKALAH KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

PARADIGMA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN SEBAGAI PENYEIMBANG KEPENTINGAN EKONOMI, SOSIAL DAN EKOLOGI

A. Pendahuluan

        Dalam rangka memenuhi berbagai macam kebutuhannya, manusia menyelenggarakan suatu kegiatan yang disebut dengan pembangunan. Melalui pembangunan, manusia mencoba untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan seluruh potensi dan sumber daya alam, kemudian memberikan berbagai nilai tambah atas pemanfaatan sumber daya tersebut, sehingga melahirkan kepuasan pada diri manusia.

       Pendekatan pembangunan di dunia maupun di Indonesia yang dilakukan selama ini masih berorientasi pada pembangunan ekonomi yang fokus pada pertumbuhan output  seperti sumber daya alam, tenaga kerja, modal dan teknologi. Hasil yang baik itu kemudian mengalami ketimpangan dalam bidang sosial dan lingkungan.

            Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan pertumbuhan pada bidang sosial. Menurut Dirjen FAO (Food and Agriculture Organization), pada tahun 2010 diperkirakan total seluruh jumlah manusia di muka yang mengalami kekurangan pangan dan gizi adalah 925 juta manusia sementara penduduk yang kekuaranga pangan dan gizi di seluruh dunia mencapai 1,02 miliar. 

          Peningkatan luasan kawasan kumuh juga menjadi bukti terjadinya ketimpangan sosial yang tidak bisa dihindari. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), warga miskin yang menempati rumah tidak layak huni mencapai 26,9 juta orang pada tahun 2010. Pada sisi lain juga terjadi pengangguran yang tinggi. Berdasarkan data BPS 5, jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 8,12 juta orang

    Kondisi lingkungan pun sangat memprihatinkan karena eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekologis. Berdasarkan laporan para ilmuwan di National Oceanographic and Atmospheric Administration (Global Reporting,1:2010), curah hujan mengalami peningkatan di atas rata-rata. Para ilmuwan memprediksi bahwa pada tahun 2011 hujan akan turun lebih sering dengan jangka waktu yang lebih pendek di beberapa bagian dunia, sedangkan bagian dunia yang lain akan mengalami kekeringan, bahkan kelangkaan air. Sisi lain dari kerusakan lingkungan yaitu mengancam kejernihan udara dan sumber air, bahan-bahan makanan, serta kelangsungan produktivitas kekayaan alam flora dan fauna.

     Suhu udara yang lebih panas akan menyebabkan perubahan spesies vegetasi dan ekosistem. Area sekitar gunung akan kehilangan banyak vegetasi asli dan digantikan oleh vegetasi dataran rendah. Lebih jauh lagi, stabilitas dataran di sekitar gunung terganggu dan sulit mempertahankan vegetasi asli.

     Perubahan iklim merupakan penyebab melelehnya gletser, angin ribut, sunami, perbedaan tinggi pada iklim, dan perubahan distribusi hujan. Adanya peningkatan suhu udara menyebabkan pembentukan tekanan rendah dan tinggi di beberapa daerah yang menyebabkan pembentukan angin ribut dan kondisi iklim ekstrim.

      Efek lain dari pemanasan global adalah penipisan lapisan ozon, tidak ada batas penghalang untuk mencegah panas sinar matahari. Sama halnya dengan peningkatan suhu, adanya perubahan pada kulit sehingga menyebabkan kanker kulit disebabkan oleh sinar ultraviolet. Hal ini menyebabkan pembentukan mutasi yang akan ditransmisikan ke generasi selanjutnya dan menyebabkan kerusakan genetik. Pelelehan es menyebabkan peningkatan permukaan laut perlahan-lahan, jika ini berkelanjutan akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dalam beberapa tahun ke depan.

      Kesejahteraan yang dicapai manusia menjadi tidak bermakna bila kekuatan ekologis melemah. Sebab, kesejahteraan tadi harus dibayar dengan recovery cost (biaya pemulihan) untuk memulihkan serta menjaga kelestarian lingkungan dan bahkan dampak sosial yang dirasakan sulit dihitung tingkat kerugiannya. Kondisi ini menunjukkan perlunya model pembangunan berkelanjutan yang dapat menghasilkan keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan secara bersamaan dalam tiga jalur pertumbuhan yang terus bergerak maju (Emil Salim,2010:23).

        Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang tepat dilaksanakan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada sisi ekonomi, namun tidak merusak sisi lingkungan dan sosial. Konsep ini juga relevan dengan perkembangan dunia khususnya Indonesia yang pembangunannya terus meningkat, namun cenderung mengabaikan daya dukung lingkungan serta kondisi sosial.

      Aktivitas manusia menyebabkan perubahan iklim karena pemanasan global. Gas-gas karbondioksida, metana, dan oksida nitrat berbentuk gas sehingga berpengaruh terhadap peningkatan suhu yang dapat meneruskan gelombang pendek yang tak panas menjadi gelombang panjang yang panas. Penyebab utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar minyak, pelepasan gas rumah kaca, pabrik, dan kendaraan bermotor.

        Perubahan iklim memiliki efek yang besar terhadap kehidupan saat ini. Efek yang ditimbulkan dengan adanya perubahan iklim terhadap pertanian adalah menurunnya produktivitas pertanian karena peningkatan kemandulan biji-bijian, penurunan lahan yang dapat menurunkan penyerapan nutrisi dan pemingkatan penyebaran hama dan penyakit. Penstabilan persediaan makanan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Penstabilan membutuhkan perbaikan fasilitas irigasi dan penambahan kondisi faktor pendukung. Efek perubahan iklim mempengaruhi umat manusia, kehidupan liar, dan lingkungan sekitar. Dalam bentuk dasarnya, pemanasan global adalah peningkatan suhu permukaan bumi dan atmosfer.

B. Hakekat Pembangunan dan Pembangunan Berkelanjutan

            Kata “pembangunan” dalam bahasa Inggris selaras dengan kata “development” yang berasal dari kata to develop yang artinya menumbuhkan, mengembangkan, meningkatkan atau mengubah secara bertahap. Everest M.Rogers (2006:163)8, mendefinisikan pembangunan sebagai suatu proses partisipasi di segala bidang dalam perubahan sosial dalam suatu masyarakat, dengan tujuan membuat kemajuan sosial dan material (termasuk pemerataan, kebebasan serta berbagai kualitas lainnya secara lebih besar bagi sebagian besar mayarakat dengan kemampuan mereka yang lebih besar untuk mengatur lingkungannya.

        Inayatullah (Zulkarimen Nasution,2001:28) mengungkapkan bahwa pembangunan adalah perubahan menuju pola-pola masyarakat yang memungkinkan realisasi yang lebih baik dari nilai-nilai kemanusiaan yang memungkinkan suatu masyarakat mempunyai kontrol yang lebih besar terhadap lingkungannya dan terhadap tujuan politiknya, dan yang memungkinkan warganya memperoleh kontrol yang lebih terhadap diri mereka sendiri individu-individu. Sementara Riyadi (Totok Mardikanto,2010:3) menyatakan bahwa pembangunan adalah suatu usaha atau proses perubahan, demi tercapainya tingkat kesejahteraan atau mutu hidup suatu masyarakat (dan individi-individu di dalamnya) yang berkehendak dan melaksanakan pembangunan itu.

       Dissyanake (Sumadi Dilla,58:2007)mendefinisikan pembangunan sebagai proses perubahan sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dari seluruh atau mayoritas masyarakat tanpa merusak  lingkungan alam dan kultural tempat mereka berada dan berusaha melibatkan sebanyak mungkin anggota masyarakat dalam usaha ini dan menjadikan mereka penentu dari tujuan mereka sendiri. Pada sisi lain, Katzs (Abu Huraerah,2008:12)mengartikan pembangunan sebagai proses yang lebih luas dari masyarakat terhadap suatu keadaan kehidupan yang kurang bernilai kepada keadaan yang lebih bernilai.

     Berdasarkan berbagai definisi di atas, maka kami menyimpulkan bahwa hakekat pembangunan adalah suatu proses perubahan nilai-nilai dalam kehidupan melalui proses-proses yang terencana dan berkesinambungan oleh pemerintah bersama masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya secara bijaksana untuk kesejahteraan masyarakat.

     Konsep pembangunan berkelanjutan lahir karena kerusakan lingkungan yang semakin  luas dan meningkat. World Commision on Environment and Development atau WCED) yang dibentuk oleh PBB pada tahun 1993, menghimbau tentang pelaksanaan era baru pertumbuhan ekonomi berdasar pada kebijakan pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. Menurut definisi WCED seperti yang dikutip oleh Mas Achmad Santosa (Emil Salim, 2010:125),  pembangunan berkelanjutan adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka.Kutipan lain dari Mas Achmad Santosa (Emil Salim, 2010:142)adalah pada UU No. 32 Tahun 2009 yang merumuskan pembangunan berkelanjutan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

    Emil Salim (2010:23),15merumuskan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang menghasilkan keberlanjutan dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan secara bersamaan dalam tiga jalur pertumbuhan yang terus bergerak maju serta saling berinteraksi.

       Menurut Barbier seperti yang dikutip Suharto (Abu Huraerah,2008:18),menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah proses dan upaya peningkatan kesejahteraan umat manusia yang mesti memperhatikan keselarasan proses interaksi antara sistem biologis, ekonomi dan sosial.

       Sementara Sumarwoto (Sugandhy dan Hakim, 2007: 21) yang dikutip oleh Dian Andrianto, pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai: “Perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial di mana masyarakat bergantung kepadanya. Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan, perencanaan, dan proses pembelajaran sosial yang terpadu, viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya, kelembagaan sosialnya, dan kegiatan dunia usahanya”.

      Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka kami menyimpulkan bahwa hakekat pembangunan berkelanjutan adalah bahwa generasi yang hidup saat ini harus mampu bersikap arif dan bijaksana terhadap sumber daya alam yang terbentang di darat, laut dan udara untuk dimanfaatkan dengan memperhatikan prinsip dasar ekologis yaitu: menjaga, memelihara, memanfaatkan serta melestarikan lingkungan guna kehidupan generasi mendatang.

C.  Perkembangan Paradigma Pembangunan

            Pembangunan merupakan konsep berdimensi luas dan senantiasa berkembang seiring dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat. Kartasasmita (Totok Mardikanto,2011:18), menjelaskan bahwa paradigma pembangunan yang berkembang terdiri dari delapan paradigma, yaitu:

           Startegi pertumbuhan. Strategi pertumbuhan bertumpu pada pertumbuhan GNP (Gross National Product) per kapita yang cepat. Kenaikan GNP diharapkan akan “menetes ke bawah” (trickle down effect) kepada masyarakat luas dalam bentuk pekerjaan dan kesempatan ekonomi lainnya. Hal itu berhasil, namun tidak bertahan lama karena kemudian terjadi ketimpangan.

  • Pertumbuhan dan distribusi. Menurut paradigma ini, kesejahteraan tidak hanya dilihat dari besarnya pertumbuhan, tetapi juga ratanya distribusi pembangunan.
  • Teknologi tepat guna. Paradigma ini lahir dari kegagalan teknologi yang padat modal untuk menyediakan lapangan pekerjaan.
  • Kebutuhan dasar. Paradigma ini berpandangan bahwa barang-barang yang dikonsumsi oleh masyarakat miskin cenderung lebih bersifat padat tenaga kerja dibandingkan dengan konsumsi masyarakat yang lebih tinggi.
  • Paradigma ketergantungan. Paradigma ini menganalisa interaksi antar struktur internal dan eksternal dalam suatu sistem.
  • Pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini, tanpa merugikan generasi akan datang.
  • Pembangunan Berbasis Pada Masyarakat. Paradigma ini menyatakan bahwa pembangunan harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia, bukan pada pertumbuhan ekonomi.
  • Pemberdayaan dan Pembangunan Partisipatif. Logika paradigma ini adalah suatu ekologi manusia yang seimbang dengan sumber-sumber daya utama, seperti sumber daya informasi dan prakarsa kreatif yang tujuannya untuk pertumbuhan manusia.

Neil (Abu Huraerah,12:2008)19 mengklasifikasikan paradigma pembangunan sebagai berikut:

  • Pendekatan pertumbuhan ekonomi (economic growth approach) yang bertumpu pada laju GNP per kapita yang cepat.
  • Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) yang bertumpu pada usaha pemenuhan kebutuhan dasar manusia untuk mencapai kesejahteraan.
  • Pendekatan pembangunan berkelanjutan (sustainable development approach) yang bertumpu pada pilar pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan.
  • Pendekatan pembangunan sosial (social development approach) yang bertujuan untuk membuat mata rantai usaha pembangunan sosial dengan ekonomi.

Menurut Zulkarimen Nasution (43:2001)20paradigma pembangunan terdiri dari:

  • Teori ketergantungan yang menjelaskan tentang keadaan yang mempengaruhi kemajuan ekonomi di negara berkembang yang dibuat oleh individu atau institusi di luar Negara yang bersangkutan
  • Pendekatan kebutuhan pokok yang mengkur kemajuan pembangunan berdasarkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyat yang paling mendasar.
  • Pembangunan berkelanjutan yang memadukan proses produksi dengan konservasi sumber daya manusia dan peningkatan mutu lingkungan.
  • Pendekatan pembangunan manusia yang menekankan pada peningkatan kualitas hidup manusia.
  • Pendekatan pengetahuan untuk pembangunan dan pembangunan berbasis pengetahuan yang mengawinkan pemahaman mengenai peran teknologi dalam pertumbuhan ekonomi.Berdasarkan definisi di atas, maka kami menyimpulkan bahwa paradigma pembangunan yang tepat untuk dilaksanakan di Indonesia adalah paradigma pembangunan berkelanjutan. Paradigma ini mencakup tiga dimensi utama yakni lingkungan sosial dan ekonomi untuk keberlanjutan kehidupan manusia di masa ini dan masa akan datang. Paradigma ini juga sangat tepat untuk dilaksanakan di berbagai Negara di belahan dunia, terlebih lagi dengan terus meningkatnya pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

D. Sejarah Perkembangan Paradigma Pembangunan Berkelanjutan

      Laju pembangunan telah menimbulkan permasalahan lingkungan hidup Kasus-kasus pencemaran lingkungan juga cenderung meningkat. Kemajuan transportasi dan industrialisasi yang tidak diiringi dengan penerapan teknologi bersih memberikan dampak negatif terutama pada lingkungan perkotaan.Sungai-sungai di perkotaan tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga. Kondisi tanah semakin tercemar oleh bahan kimia baik dari sampah padat, pupuk maupun pestisida

       Masalah pencemaran ini disebabkan masih rendahnya kesadaran para pelaku dunia usaha ataupun kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan kualitas lingkungan yang baik. Mulai tahun 1950-an masalah lingkungan mendapat perhatian serius dari kalangan ilmuwan, politisi maupun masyarakat umum. Perhatian tersebut tidak saja diarahkan pada terjadinya berbagai kasus pencemaran terhadap lingkungan hidup tetapi juga banyaknya korban jiwa manusia.

       Saifullah mencatat bahwa Beberapa kasus lingkungan hidup yang menimbulkan korban manusia seperti pada akhir tahun 1950 yaitu terjadinya pencemaran di Jepang yang menimbulkan penyakit sangat mengerikan yang disebut penyakit itai-itai (aduh-aduh). Penyakit ini terdapat di daerah 3 Km sepanjang sungai Jintsu yang tercemari oleh Kadmium (Cd) dari limbah sebuah pertambangan Seng (Zn). Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kadar Cd dalam beras di daerah yang mendapat pengairan dari sungai itu mengandung kadmium 10 kali lebih tinggi daripada daerah lain. Pada tahun 1953 penduduk yang bermukim disekitar Teluk Minamata, Jepang mendapat wabah penyakit neurologik yang berakhir dengan kematian. Setelah dilakukan penelitian terbukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh air raksa (Hg) yang terdapat di dalam limbah sebuah pabrik kimia. Air yang dikonsumsi tersebut pada tubuh manusia mengalami kenaikan kadar ambang batas keracunan dan mengakibatkan korban jiwa. Pencemaran itu telah menyebabkan penyakit keracunan yang disebut penyakit Minamata.

       Setelah berbagai kemunculan masalah lingkungan yang semakin meningkat dalam setiap tahun, maka kemudian muncul kesadaran masyarakat untuk melaksanakana pembangunan dengan tetap memperhatiakn daya dukung lingkungan. Isu lingkungan hidup kemudian pertama kali menjadi agenda resmi internasional pada Stockholm Conference on the Human Environment tahun 1972. Konferensi ini melahirkan kelembagaan tingkat internasional yang dinamakan United Nations Environment Programme (UNEP). Pada tahun 1980, bersama  International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) mulai memperkenalkan model pembangunan berkelanjutan.

     Pada tahun 1982, UNEP menyelenggarakan sidang istimewa untuk memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan atas penanganan masalah lingkungan saat itu. Dalam sidang istimewa tersebut disepakati pembentukan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission Environment and Development – WCED). WCED adalah komisi independen yang membahsa serta memberikan rekomendasi terhadap persoalan-persoalan lingkungan global. PBB memilih PM Norwegia Nyonya Harlem Brundtland dan mantan Menlu Sudan Mansyur Khaled, masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua WCED (yang dikenal sebagai Komisi Bruntland). Komisi ini mengahasilkan laporan dengan judul “ Our Common Future”, yang membahas berbagai program nyata untuk mengintegrasikan kepedulian lingkungan dan pembangunan ekonomi pada tingkat internasional, nasional serta lokal.

       Pada tahun 1992, 10 tahun setelah penyelenggaraan Konferensi Stockholm, PBB menyelenggarakan Conference on Environment and Development (UNCED). Konferensi ini merupakan konferensi internasional terbesar yang membahas lingkungan hidup pada era itu. UNCED juga merupakan tonggak sejarah bagi pengembangan kebijakan dan hukum lingkungan di tingkat internasional, nasional maupun lokal. Dokumen-dokumen utama yang dihasilkan UNCED adalah: (1) Rio Declaration on Environment and Development (Deklarasi Rio); Agenda 21 (Rencana aksi untuk melaksanakan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Deklarasi Rio); (3) Konvensi tentang keanekaragaman hayati; (4) the Framework Convention on Climate Change (UNFCC); dan (5) Statement of Principles for a Global Consensus on the Management, Conservation, and Sustainable Development off All Types of Forest (Statement of Forest Principles). Deklarasi Rio yang berisi 27 prinsip merupakan pengembangan dari prinsip Stockholm dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Sementara agenda 21, memuat kebijakan, program, rencana dan pedoman rencana aksi bagi pemerintah di tingkat nasional dalam melaksanakan Deklarasi Rio.

         Perkembangan berikutnya, pada September 2000, 186 pemimpin dunia menghadiri United Nations Millenium Summit. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi Milenium yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari kondisi kemiskinan. Dalam konferensi ini tercetus Millenium Development Goals (MDGs). Deklarasi ini bertekad untuk bersama-sama melawan kemiskinan dan kelaparan, mendorong pendidikan, kesetaraan gender, mengurangi angka kematian bayi, memperbaiki kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya, mendorong keberlanjutan lingkungan dan mendorong kerjasama global dalam pembangunan.

       Setelah pelaksanaan konferensi UNCED, kemudian diselenggarakan World Summit on Sustainable Development (WSSD) di Johannesburg, Afrika Selatan pada tahun 2002. Pada acara ini dibahas evaluasi terhadap efektivitas hasil pertemuan di Deklarasi Rio. Hasil penting dari konferensi ini adalah Political Declaration dan Johannseburg Plan of Implementation (JPOI). Political Declaration tersebut terdiri atas enam bagian yang intinya berupa komitmen untuk melaksanakan JPOI dengan penetapan kerangka waktu untuk mewujudkan capaian-capaian yang terkandung dalam konferensi WSSD. JPOI atau Rencana Aksi Johannesburg terdiri atas 170 paragraf dan secara umum mencakup hal-hal berikut:

  • Mengurangi angka kemiskinan
  • Mengubah pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan
  • Melindungi dan mengelola sumber daya alam sebagai basis pembangunan ekonomi dan sosial
  • Pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan efektif (good governance)
  • Upaya sunguh-sungguh di tingkat global; termasuk di antara para pelaku utama seperti perwakilan Negara-negara, wilayah, badan-badan PBB, multinational development banks dan kelompok masyarakat sipil
  • Kelembagaan di tingkat nasional yang kuat dan partisipatif untuk mengarustamakan pembangunan berkelanjutan.

       Pengelolaan sumberdaya merupakan upaya yang dinamis. Hal ini sesuai dengan perspektif para stakeholder yang senantiasa berkembang. Sebagai implikasi dari perkembangan perspektif tersebut, penyesuaian atau perubahan dapat terjadi pada tujuan, strategi dan kegiatan pengelolaan sumberdaya. Oleh karena itu, berdasarkan konsep-konsep pembangunan berkelanjutan, pemanfaatan sumber daya harus memperhatikan dimensi lain agar lebih komprehensif.

         Paradigma pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meniadakan atau meminimalisir persoalan lingkungan dengan merubah paradigma pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan dan kemajuan ekonomi, yang diganti dengan sebuah pendekatan yang lebih holistik dan integratif dengan memberi perhatian serius, mensinkronkan dan memberi bobot yang sama kepada pembangunan sosial budaya dan pembangunan lingkungan hidup. Pembangunan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup harus dipandang sebagai terkait erat satu sama lain, sehingga unsur-unsur dari kesatuan yang saling terkait tersebut tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan yang lainnya.

      Setelah dikeluarkannya deklarasi tersebut, sejarah juga mencatat akan banyaknya peristiwa lingkungan hidup seperti : pencemaran di darat, air dan udara, pemanasan global, pelubangan lapisan ozon, sampai pada berkurangnya sumber daya alam dan energi. Gangguan terhadap mata rantai ekosistem ini terjadi salah satunya disebabkan oleh kegiatan perekonomian yang menjadikan sumber daya alam dan energi menjadi modal utama berlangsungnya proses pembangunan ekonomi. Keberpihakan akan kemajuan ekonomi inilah yang mengakibatkan sumber daya alam dan energi menjadi korban bagi kemajuan pembangunan.

         Menyadari akan hal tersebut maka aspek kelestarian lingkungan hidup untuk kesinambungan kehidupan antar generasi menjadi komitmen mutlak yang mendasari setiap kebijakan pengelolaan lingkungan hidup setiap negara di masa kini maupun masa mendatang. Prinsip dasar seperti ini diharapkan setiap negara mampu untuk mengaktualisasikan komitmen ini agar dapat mengantisipasi segala akibat yang akan terjadi sehingga dapat memperkecil malapetaka lingkungan bagi umat manusia. Hal ini disebabkan masalah lingkungan hidup yang terjadi di suatu negara dapat memberikan dampak buruk bagi negara lain, dalam arti masalah lingkungan sudah tidak mengenal lagi akan batas-batas negara atau lintas negara dan bersifat global.

Gambar 1

Hubungan Antar Kepentingan Ekonomi, Sosial Dan Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

       Dalam pembangunan berkelanjutan, konsep pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan berusaha untuk diintegrasikan agar pembangunan tetap menjamin kehidupan yang layak bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan.

       Emil Salim ( Sugandhy dan Hakim, 2007: x) yang dikutip oleh Dian Andrianto22 mengatakan bahwa: “Supaya pembangunan dapat berkelanjutan, dan meningkatkan kesejahteraan generasi masa kini tanpa memperkecil kesempatan bagi generasi masa depan menaikkan kesejahteraan mereka nanti, maka sasaran pembangunan ekonomi perlu menunjang, dan ditunjang oleh sasaran pembangunan sosial, dan lingkungan. Begitu pula sasaran pembangunan sosial menunjang tercapainya sasaran pembangunan ekonomi dan lingkungan dan pembangunan lingkungan menopang tercapainya sasaran pembangunan ekonomi, dan sosial”.

       Dalam penjelasan di awal telah digambarkan bahwa  pembangunan berkelanjutan berkonsentrasi pada pilar pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan secara sekaligus. Menurut Kemp dan Martens (Dian Andrianto)Akhir-akhir ini, ketiga pilar tersebut kadang disamakan dengan P3 Concept, yaitu people, planet, and profits tetapi mereka tidaklah berbeda secara prinsipil. Secara sederhana, hubungan ketiga pilar tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

      Pilar lingkungan (environment) adalah wilayah yang mengalami dampak ekologis langsung akibat usulan kebijakan atau proyek. Sementara itu, lingkup keberlanjutan ekonomi (economic) dan sosial (social) adalah batas administratif lokal. Bila dampak ekonomi dan sosial dirasakan lintas wilayah, maka batas administrasi yang digunakan adalah semua wilayah yang terkena dampak.

       Dalam pernyataan yang hampir senada, Kemp dan Martens juga mengatakan bahwa: “economy refers to jobs and wealth; environment to environmental qualities, biodiversity, and nature’s resources; and society to health, social cohesion, and opportunities for self-development attributable to education and freedom” (ekonomi menunjuk pada pekerjaan dan kesejahteraan; lingkungan pada kualitas lingkungan, biodiversitas, dan sumber daya alamiah; dan sosial pada kesehatan, kekerabatan sosial, dan kesempatan bagi self-development attributable untuk pendidikan dan kebebasan).

    Kus Adi Nugroho menjelaskan bahwa pola hubungan indikator  ekonomi, sosial dan lingkungan mempengaruhi sustainability index, yaitu suatu nilai yang digunakan dalam pembuatan keputusan suatu sistem. Pola hubungan ini dapat dilihat pada gambar berikut.

      Pola tersebut dapat diartikan: Suatu pembangunan dikatakan “bearable“ atau „nyaman“ apabila pembangunan tersebut memenuhi kriteria sosial dan lingkungan sehingga manusia dan alam dapat berkesinambungan. Namun kondisi ini belum dikatakan “sustainable“ atau „berkelanjutan“ karena secara ekonomi tidak memenuhi. Suatu pembangunan juga dikatakan sebagai “viable“ atau „dapat berjalan“ apabila pembangunan tersebut memenuhi kriteria lingkungan dan ekonomi. Namun, karena kondisi ini tidak dapat disinambungkan dengan kondisi sosial manusia, maka kondisi ini belum disebut sustainable. Pembangunan yang hanya memenuhi kriteria sosial dan ekonomi saja disebut sebagai “equitable“ atau dalam terjemahan kasarnya sebagai “adil“ secara ekonomi dan sosial, namun karena tidak memnuhi kriteria lingkungan, kondisi ini tidak sustainable. Untuk mencapai kondisi yang sustainable, kriteria sosial yaitu persamaan hak antara manusia, kriteria lingkungan yaitu preservasi dan konservasi alam, dan juga ekonomi yaitu efisiensi yang tinggi, harus dipenuhi.

       Berdasarkan uraian tersebut, maka kami menyimpulkan bahwa pola hubungan antara pilar ekonomi, sosial dan ekologi atau lingkungan saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisahkan. Bila satu pilar saja yang dibangun dan pilar lain diabaikan, maka akan terjadi ketimpangan. Akibatnya kelangsungan hidup seluruh makhluk penghuni bumi pun terancam dan jauh dari kesejahteraan. Pembangunan yang bergerak maju dalam waktu yang bersamaan akan menjamin keberlanjutan hidup.

E. Ciri dan Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

        Pembangunan berkelanjutan perlu dilakukan karena dorongan berbagai hal, salah satunya adalah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pelaksanaan pembangunan. Pengalaman negara maju dan negara berkembang menunjukkan bahwa pembangunan selain mendorong kemajuan juga menyebabkan kemunduran karena dapat mengakibatkan kondisi lingkungan rusak sehingga tidak lagi dapat mendukung pembangunan. Pelaksanaan pembangunan akan berhasil baik apabila didukung oleh lingkungan (sumber daya alam) secara memadai.

      Kesadaran umat manusia pada masalah lingkungan hidup semakin meluas yaitu dengan diadakannya Konferensi PBB tentang lingkungan hidup manusia di Stockholm, Swedia tanggal 5-16 Juni 1972. Konferensi ini merupakan perwujudan kepedulian bangsa-bangsa di dunia akan masalah lingkungan hidup dan merupakan komitmen prima bagi tanggung jawab setiap warga negara untuk memformulasikannya dalam setiap kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Hasil dari konferensi ini adalah : (1) Deklarasi tentang Lingkungan Hidup Manusia, terdiri atas mukadimah  dan 26 prinsip dalam Stockholm Declaration ; (2) Rencana Aksi Lingkungan Hidup Manusia (Action Plan) yang terdiri dari 109 rekomendasi. Deklarasi dan rekomendasi dari konferensi ini dapat dikelompokkan menjadi lima bidang utama yaitu pemukiman, pengelolaan sumber daya alam, pencemaran, pendidikaan dan pembangunan. Deklarasi Stockholm juga menyerukan agar bangsa-bangsa di dunia mempunyai kesepakatan untuk melindungi kelestarian dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup bagi kehidupan manusia.

Ciri-ciri Pembangunan Berkelanjutanmenurut Yudi Pramanayaitu:

  • Menjamin pemerataan dan keadilan, yaitu generasi mendatang memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam sehingga berkelanjutan.
  • Menghargai dan melestarikan keanekaragaman hayati, spesies, habitat, dan ekosistem agar tercipta keseimbangan lingkungan.
  • Menggunakan pendekatan intergratif sehingga terjadi keterkaitan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan untuk masa kini dan mendatang.
  • Menggunakan padangan jangka panjang untuk merencanakan rancangan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang mendukung pembangunan.
  • Meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
  • Memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang dan mengaitkan bahwa pembangunan ekonomi harus seimbang dengan konservasi lingkungan.

     Maria Ningsihmenyebutkan bahwa ciri-ciri suatu pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan berkelanjutan adalah sebagai berikut:

  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu meminimalkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.
  • Pembangunan yang dilaksanakan harus memerhatikan keseimbangan antara lingkungan fisik dan lingkungan emosi.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan serta memerhatikan moral atau nilai-nilai adat yang dianut dalam masyarakat.
  • Pembangunan yang dilaksanakan harus memiliki sifat-sifat fundamental dan ideal serta berjangka pendek dan panjang.
  • Pembangunan yang dilaksanakan harus memperluas lapangan dan kesempatan kerja.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu melakukan pemerataan atau keseimbangan kesejahteraan hidup antargolongan dan antardaerah.
  • Pembangunan yang dilaksanakan mampu menunjukkan peningkatan produksi nasional, ditunjukkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi.
  • Pembangunan nasional harus berpedoman untuk selalu mempertahankan stabilitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan nasional.

Soegiharsono menjelaskan bahwa ciri-ciri pembangunan berkelanjutan adalah:

  • Menjamin pemerataan dan keadilan; strategi pembangunan yang berkelanjutan dilandasi oleh pemerataan distribusi lahan dan faktor produksi, lebih meratanya kesempatan perempuan, dan pemerataan ekonomi untuk kesejahteraan.
  • Menghargai keanekaragaman hayati; keanekaragaman hayati merupakan dasar bagi tatanan lingkungan. Pemeliharaan keanekaragaman hayati memiliki kepastian bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berlanjut untuk masa kini dan masa yang akan datang.
  • Menggunakan pendekatan integratif; dengan menggunakan pendekatan integratif, maka keterkaitan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan dapat dimungkinkan untuk masa kini dan yang akan datang.
  • Menggunakan pandangan jangka panjang; untuk merencanakan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang mendukung pembangunan agar secara berlanjut dapat digunakan dan dimanfaatkan.

     Berdasarkan ulasan tentang ciri-ciri pembangunan berkelanjutan seperti di atas, maka kami menyimpulkan bahwa ciri-ciri pembanguan berkelanjutan adalah:

  • Memperhatikan daya dukung lingkungan sehingga dapat mendukung kesinambungan pembangunan.
  • Meminimalisasi dampak pencemaran dan kerusakan lingkungan.
  • Dilakukan dengan perencanaan yang matang dengan mengetahui dan memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki dan yang mungkin timbul di belakang hari.
  • Melibatkan partisipasi warga masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di sekitar lokasi pembangunan.

       Setelah dikeluarkannya Deklarasi Stockholm, sejarah juga mencatat akan banyaknya peristiwa lingkungan hidup seperti: pencemaran di darat, air dan udara, pemanasan global, pelubangan lapisan ozon, sampai pada berkurangnya sumber daya alam dan energi. Gangguan terhadap mata rantai ekosistem ini terjadi salah satunya disebabkan oleh kegiatan perekonomian yang menjadikan sumber daya alam dan energi menjadi modal utama berlangsungnya proses pembangunan ekonomi. Keberpihakan akan kemajuan ekonomi ini yang mengakibatkan sumber daya alam dan energi menjadi korban bagi kemajuan pembangunan.

      Dalam pelaksanaannya, pembangunan berkelanjutan menganut berbagai prinsip. Menurut United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang dikutip oleh Mas Achmad Santosa (Emil Salim,127;2010)prinsip pembangunan berkelanjutan adalah:

  • Prinsip keadilan dalam satu generasi (intragenerational equity) yang menekankan pada keadilan dalam sebuah generasi umat manusia dalam pemenuhan kualitas hidup.
  • Prinsip pencegahan dini (precautionary principle) yang mengandung pengertian bahwa apabila terdapat ancaman berarti atau adanya acaman kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan, ketiadaan temuan alasan untuk pembuktian ilmiah yang konkluksif dan pasti, tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan tersebut.
  • Prinsip perlindungan keragaman hayati (conservation of biological diversity); yang memandang potensi keragaman hayati memberikan arti penting bagi kesinambungan kehidupan umat manusia. Apalagi laju kerusakan dan kepunahan keragaman hayati semakin besar maka akan berakibat fatal bagi kelangsungan kehidupan umat manusia.
  • Internalisasi biaya lingkungan (Internalisation of environmental cost and incentive mechanism); Rasio pentingnya diberlakukan prinsip ini berangkat dari suatu keadaan di mana penggunaan sumber daya alam kini merupakan kencenderungan atau reaksi dari dorongan pasar.

     Pemikiran Supardi yang dikutip oleh Akhmad Solihin menyebutkan bahwa prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan adalah:

  • Menghormati dan memelihara komunitas kehidupan
  • Memperbaiki kualitas hidup manusia
  • Melestarikan daya hidup dan keragaman bumi
  • Menghindari sumber daya – sumber daya yang tidak terbarukan
  • Berusaha tidak melampaui kapasitas daya dukung bumi
  • Mengubah sikap dan gaya hidup orang per orang
  • Mendukung kreativitas masyarakat untuk memelihara lingkungan sendiri
  • Menyediakan kerangka kerja nasional untuk memadukan upaya pembangunan pelestarian
  • Menciptakan kerja sama global.

       Sementara WCED (Abu Huraerah,17:2008) menyebutkan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan adalah menjamin terciptanya kesempatan yang merata dan adil bagi semua orang serta meningkatkan potensi produksi dengan pengelolaan yang ramah lingkungan hidup.

       Berdasarkan berbagai uraian di atas, maka kami menyimpulkan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan melestarikan, memelihara, menjaga serta meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menyeimbangkan pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan. Menyadari akan hal tersebut pula, maka aspek kelestarian lingkungan hidup untuk kesinambungan kehidupan antar generasi menjadi komitmen mutlak yang mendasari setiap kebijakan pengelolaan lingkungan hidup setiap negara di masa kini maupun masa mendatang. Dengan prinsip dasar seperti ini diharapkan setiap negara mampu untuk mengaktualisasikan komitmen ini agar dapat mengantisipasi sejauh mungkin segala akibat yang akan terjadi sehingga dapat memperkecil malapetaka lingkungan bagi umat manusia.

F. Pendekatan dan Strategi Pembangunan Berkelanjutan 

      Pendekatan dalam pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk membantu pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Pendekatan yang dilakukan WCED seperti dikutip oleh Saifullah terhadap lingkungan dan pembangunan dari enam aspek yaitu : keterkaitan, berkelanjutan, pemerataan, sekuriti dan resiko lingkungan, pendidikan dan komunikasi serta kerjasama internasional. Untuk itu haruslah diterap. Pertama adalah kebutuhan untuk menjamin penyebarluasan etika mengenai kehidupan yang berkesinambungan serta terciptanya komitmen masyarakat secara mendalam terhadap etika baru tersebut. Kedua adalah upaya untuk mengejawantahkan prinsip-prinsip dalam etika tersebut ke dalam tindakan nyata. Selain itu yang sangat diperlukan adalah memadukan konservasi dan pembangunan; konservasi untuk menjaga agar aktivitas kehidupan kita tetap berada di dalam kapasitas daya dukung bumi, dan pembangunan yang memungkinkan semua orang di manapun juga dapat menikmati hidup yang panjang, sehat sejahtera dan bermakna.

         Menurut Emil Salim seperti yang juga dikutip oleh Absori31, untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dibutuhkan pendekatan ekosistem dengan melihat interdepedensi dari setiap komponen ekosistem. Agar keberlanjutan tetap terjaga harus ada komitmen setiap komponen penyangga kehidupan dan campur tangan pemerintah dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat. Dunia usaha yang selama ini dituduh sebagai pelaku yang menimbulkan kerusakan dan pencemaran harus dipahamkan akan tangung jawabnya terhadap lingkungan yang dapat diwujudkan dalam bentuk membayar kompensasi jasa lingkungan yang nantinya dapat digunakan untuk membiayai pemulihan lingkungan yang rusak atau tercemar.

           Berdasarkan berbagai uraian tersebut, maka kami menyimpulkan bahwa pendekatan konservasi, kemitraan dan integratif akan sangat mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Berbagai pendekatan ini akan menunjang  keberhasilan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

             Selain pendekatan, hal lain yang juga sangat penting untuk mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan adalah adanya strategi pembangunan berkelanjutan. Strategi Pembangunan Berkelanjutan adalah strategi pembangunan yang disatu pihak mengacu pada pemanfaatan sumber-sumber alam maupun sumber daya manusia secara optimal, dan di lain pihak pada saat yang sama memelihara keseimbangan optimal diantara berbagai tuntutan yang saling bertentangan terhadap sumber-sumber daya tersebut. Di sini ada dua pihak yang saling berkait yaitu: (a) Daya dukung sumber daya dan (b) solidaritas transgenerasi. Bagaimana kita mengekang diri untuk tidak merusak sumber daya yang ada, agar dapat bersikap adil terhadap masa depan umat manusia atau generasi mendatang (Ignas Kleden, 1992; Emil Salim, 1992).

        Strategi Pembangunan berkelanjutan seringkali juga disebut sebagai strategi pembangunan yang berwawaskan lingkungan atau yang memperhatikan kelestarian. Ada dua macam kelestarian yang harus dicapai yaitu: (a) Kelestarian fisik yang mengacu kepada daya dukung sumber daya alam, (meliputi pengelolaan sumber daya alam, analisa dampak lingkungan, dan pengembangan sumber daya manusia; dan (b) Ketahanan sosial (berkaitan dengan tekanan demografi terhadap lahan pertanian, desentralisasi pemerintahan dan kebijakan, dan perlunya penataan institusi yang dapat menciptakan kesempatan yang sama terhadap semua orang (Kleden, 1992). Strategi integrasi tersebut meliputi (i); pengembangan pendekatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan; (ii), pengembangan pendekatan pencegahan pencemaran; (iii) , pengembangan sistem neraca ekonomi, sumber daya alam dan lingkungan ( Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan UNDP, 1997 ).

           Menarik untuk mereview tiga isu strategis pembangunan yang dulu lebih dikenal dengan istilah Trilogi Pembangunan dan memodifikasi salah satu logi ” paradigma stabilitas menjadi sustainabilitas”. Menurut Imansyah, urutanya adalah (1) Pemerataan, (2) Pertumbuhan, (3) Sustainabilitas.Pemerataan (Equity), merupakan isu strategis pemerataan menyangkut aset, proses, dan hasil pembangunan. Pemerataan aset – aset produksi seperti lahan, modal/kredit, teknologi, informasi, dan kesempatan usaha yang didukung kebijakan dan kepastian hukum, sebagai modal dasar pembangunan. Sinergi yang dicapai anatar aktor dan sektor pembangunan menjadi dasar bagi pertumbuhan dan keberlanjutan. Pertumbuhan (Growth), merupakan isu strategis dalam mengembangkan potensi dan mengakselerasikan dinamika pembanguan dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya dan inovasi, guna mencapai pertumbuhan yang optimal bagi kesejahteraan masyarakat. Keberlanjutan (Sustainability), merupakan isu strategis dalam mengharmoniskan daya dukung lingkungan dan dinamika pembangunan agar dapat dicapai manfaat antar kelompok masyarakat maupun antar generasi secara adil.

      Berdasarkan uraian di atas, maka kami menyimpulkan bahwa strategi pembangunan berkelanjutan terdiri dari analisis dampak lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan. Berbagai strategi pembangunan berkelanjutan akan menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

G. Perencanaan Partisipatif Dalam Pembangunan Berkelanjutan

      Dalam proses pembangunan berkelanjutan terdapat proses perubahan yang terencana, yang di dalamnya terdapat eksploitasi sumberdaya, arah investasi orientasi pengembangan teknologi,perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam keadaan yang selaras, serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan.

          Perencanaan pembangunan merupakan hal yang paling penting bagi keberhasilan pembangunan. Perencanaan yang tepat akan akan menghasilkan dampak yang baik terhadap masyarakat dalam konteks dapat mencapai tujuan pembangunan. Sebaliknya, perencanaan yang tidak tepat akan membawa yang tidak baik terhadap keberhasilan tujuan pembangunan.

       Dalam realitasnya, perencanaan pembangunan yang telah disusun dan dilaksanakan seringkali tidak dapat memuaskan keinginan masyarakat. Masyarakat mempersoalkan tentang program atau rencana kegiatan yang tidak mereka perlukan, tidak menyetujui kebijakan yang diambil pemerintah atau keluhan tidak dapat menikmati hasil pembangunan yang telah direncanakan tersebut. Atas dasar itu, maka seharusnya perencanaan partisipatif dijalankan agar dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat. Melalui perencanaan partisipatif, masyarakat sendiri yang terlibat penuh dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan perumusan program. Dalam proses perencanaan partisipatif, masyarakat akan lebih bebas dan terbuka dalam mengartikulasikan keinginan-keinginan dan kebutuhannya. Begitupula perencanaan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan. Perencanaan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan akan sangat membantu keberhasilan dalam mengintegrasikan pilar ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai kesejahteraan.

    Abu Huraerah (67:2008) menyatakan bahwa perencanaan partisipatif  adalah suatu proses perencanaan program pengembangan masyarakat yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat dan stakeholders seperti: tokoh masyarakat (tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh wanita, tokoh pemuda) dan aparat pemerintahan. Keterlibatan masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam mengidentifikasi masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhannya sendiri, merumuskan dan menyeleksi alternatif tindakan atau program dan mengimplementasikan program, serta melakukan monitoring dan evaluasi program.

     Andi Satyumitramengutip pernyataan Bahua tentangperencanaan pembangunan partisipatif yang dirumuskan sebagai upaya untuk meberdayakan potensi masyarakat dalam merencanakan pembangunan yang berkaitan dengan potensi masyarakat dalam merencanakan pembangunan yang berkaitan denngan potensi sumber daya lokal berdasarkan kajian musyawarah, yaitu peningkatan aspirasi berupa keinginan dan kebutuhan nyata yang ada dalam masyarkat, peningkatan motivasi dan peran serta kelompok masyarakat dalam proses pembangunan dan peningkatan rasa memiliki terhadap program kegiatan yang telah disusun

        Wicaksono dan Sugiarto yang dikutip oleh Agus Harto Wibowo yang mendefinisikan perencanaan pembangunan partisipatif sebagai usaha yang dilakukan masyarakat untuk memecahkan salah yang dihadapi agar mencapai kondisi yang diharapkan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat secara mandiri.

         Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, maka kami menyimpulkan bahwa perencanaan partisipatif pembangunan adalah usaha suatu perencanaan yang secara sadar disusun bersama oleh pemerintah, masyarakat, pihak swasta maupun perguruan tinggi untuk memilih alternatif terbaik dalam pelaksanaan pembangunan, agar pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

      Perencaaan partispatif memiliki berbagai siklus. Menurut Abu Huraerah (67:2008) 37 perencanaan partisipatif memiliki lima tahap, yaitu:

  • Identifikasi masalah dan needs assessment. Identifikasi masalah sangat erat kaitannya dengan needs assessment (penilaian kebutuhan). Kebutuhan dapat didefiniskan sebagai kekurangan yang mendorong masyarakat untuk mengatasinya. Penilaian kebutuhan adalah penentuan besar atau luasnya suatu kondisi dalam suatu populasi sasaran (masyarakat) yang ingin diperbaiki atau penentuan kekurangan dalam kondisi yang ingin direalisasikan. Metode yang digunakan untuk identifikasi masalah dan penilaian kebutuhan adalah:
  • Brainstorming. Metode untuk menampung berbagai aspirai, pendapat, saran-saran dar populasi sasaran (masyarakat) dana membahasnya secara bersama-sama.
  • Focus Group Discussion. Diskusi yang dirancang khusus membicarakan suatu masalah secara terfokus.
  • Participatory Decision Making. Metode pengambilan keputusan yang dilakukan secara bersama-sama populasi sasaran dan stakeholders.
  • Stakeholders Analysis. Analisis terhadap peserta atau pengurus dan anggota suatu program, suatu proyek pembangunan atau organisasi sosial tertentu tentang isu-isu yang terjadi di lingkungan seperti relasi kekuasaan, pengaruh, dan kepentingan-kepentingan berbagai pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan.
  • Beneficiary Assessment. Pengidentifikasian masalah sosial yang melibatkan konsultasi secara sistematis dengan para penerima pelayanan sosial.
  • Penentuan Tujuan. Tujuan perencanaan partisipatif:
    • Menumbuhkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya proses partisipasi.
    • Menggali masukan, pendapat, usulan dan saran-saran dari masyarakat guna memperkuat dan mendukung program pengembangan masyarakat.
    • Menumbuhkan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi masalah dan kebutuhannya.
    • Mampu merumuskan dan meyeleksi alternatif tindakan dan mengimpelmentasikan program.
    • Mampu melakukan monitoring dan evaluasi program secara partisipatif.
  • Penyusunan dan pengembangan perencanaan partisipatif. Para perencana bersama-sama masyarakat menyusun pola rencana intervensi yang komprehensif. Pola tersebut menyangkut strategi-strategi, tugas-tugas dan prosedur-prosedur yang ditujukan untuk membantu kebutuhan-kebutuhan dan pemecahan masalah.
  • Pelaksanaan. Impelementasi program pembangunan pada dasarnya merupakan proses penerapan metode dan pendayagunaan sumber-sumber (sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya finansial) untuk menghasilkan barang-barang pelayanan sosial bagi kepentingan sosial sesuai dengan tujuan dan sasaran program.
  • Monitoring dan evaluasi. Monitoring adalah pemantauan secara terus-menerus dalam proses perencanaan dan pelaksaan kegiatan. Evaluasi adalah kegiatan menilai secara keseluruhan tentang suatu kegiatan yang telah dilaksnakan sesuai rencana atau ketentuan yang telah disusun sebelumnya.

Alexander Abe yang dikutip oleh Agus Harto Wibowo, merumuskan tahapan perencanaan partisipatif sebagai berikut:

  • Penyelidikan. Penyelidikan adalah sebuah proses untuk mengetahui, menggali dan mengumpulkan persoalan-persoalan bersifat lokal yang berkembang di masyarakat.
  • Perumusan masalah. Perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penyelidikan. Data atau informasi yang telah dikumpulkan diolah sedemikian rupa sehingga diperoleh gambaran yang lebih lengkap, utuh dan mendalam. Untuk mencapai perumusan, pada dasarnya dilakukan suatu proses analisis atas informasi, data dan pengalaman hidup masyarakat. Tidak semua yang disampaikan masyarakat harus diterima, namun pada saat inilah momentum untuk bersama-sama masyarakat memilah-milah segi yang merupakan kebutuhan dan yang sekedar keinginan.
  • Identifikasi daya dukung. Daya didukung tidak diartikan sebagai dana kongkrit (uang), melainkan keseluruhan aspek yang bisa memungkinkan terselenggaranya aktifitas dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Pemahaman mengenai daya dukung ini diperlukan agar rencana kerja yang disusun tidak bersifat asal-asalan, tetapi benar-benar merupakan hasil perhitungan yang matang.
  • Perumusan tujuan. Tujuan adalah kondisi yang hendak dicapai, sesuatu keadaan yang diinginkan (diharapkan), dan karena itu dilakukan sejumlah upaya untuk mencapainya.
  • Menetapkan langkah-langkah secara rinci. Penetapan langkah-langkah adalah proses menyusun hal yang akan dilakukan. Proses ini merupakan proses membuat rumusan yang lebih utuh atau sebuah rencana tindak. Suatu rencana tindakan memuat: (1) hal yang akan dicapai, (2) kegiatan yang hendak dilakukan, (3) pembagian tugas atau pembagian tanggung jawab (siapa bertanggung jawab atas apa), dan (4) waktu (kapan dan berapa lama kegiatan akan dilakukan).
  • Merancang anggaran. Perencanaan anggaran adalah suatu usaha untuk menyusun alokasi anggaran atau sumber daya yang tersedia. Kekeliruan dalam menyusun alokasi, akan membuat suatu rencana kandas di tengah jalan. Anggaran juga bisa bermakna sebagai sarana kontrol.

        Tjokroamidjojo yang dikutip oleh Agus Harto Wibowo39,merumuskan bahwa tahap-tahap dalam suatu proses perencanaan terdiri dari:v Penyusunan rencana yang meliputi tinjauan keadaan sebelum memulai suatu rencana (review before take off) maupun tinjauan terhadap pelaksanaan rencana sebelumnya (review of performance), perkiraan keadaan masa yang akan dilalui rencana (forecasting), penetapan tujuan rencana (plan objectives) dan pemilihan cara-cara pencapaian tujuan rencana, identifikasi kebijakanatau kegiatan usaha yang perlu dilakukan dalam rencana serta pengambilan keputusan sebagai persetujuan atas suatu rencana.

  • Penyusunan program rencana yang dilakukan melalui perumusan yang lebih terperinci mengenai tujuan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu, suatu perincian jadwal kegiatan, jumlah dan jadwal pembiayaan serta penentuan.
  • Pelaksanaan rencana yang terdiri atas eksplorasi, konstruksi dan operasi. Dalam tahap ini, kebijakan-kebijakan perlu diikuti implikasi pelaksanaannya.
  • Pengawasan atas pelaksanaan rencana yang bertujuan untuk mengusahakan supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan rencana, apabila terdapat penyimpangan maka perlu diketahui penyimpangan tersebut, penyebabnya serta dilakukannya tindakan korektif terhadap adanya penyimpangan. Untuk maksud tersebut, maka diperlukan sustu sistem monitoring dengan mengusahakan pelaporan dan feedback yang baik daripada pelaksana rencana.
  • Evaluasi untuk membantu kegiatan pengawasan, yang dilakukan melalui suatu tinjauan yang berjalan secara terus menerus (concurrent review).

    Seluruh tahap atau siklus perencanaan partisipatif dalam pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk mengintegrasikan keberlanjutan pada bidang ekonomi, sosial dan ekologi. Masyarakat akan semakin merasakan pentingnya berpartispasi untuk meningkatkan taraf hidupnya dan menyelesaikan berbagai masalah ketimpangan sosial dan lingkungan yang terjadi dalam kehidupannya.

H. Peranan Komunikasi Dalam Pembangunan Berkelanjutan

         Komunikasi dan pembangunan adalah dua hal yang tidak dapat pisahkan. Komunikasi merupakan instrument untuk mencapai tujuan pembangunan. Melalui komunikasi, maka masalah-masalah atau tantangan dalam pembangunan akan dapat diselesaikan secara bersama. Komunikasi yang terjalin antara pemerintah dengan seluruh stakaholders pun akan membangun partisipasi masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan.

          Sama halnya dengan pembangunan pada umumnya, maka pembangunan berkelanjutan juga membutuhkan komunikasi yang intensif antara berbagai pihak dalam pelaksanaan pembangunan. Komunikasi juga memiliki peranan yang tidak dapat diabaikan dalam pembangunan berkelanjutan, terlebih lagi untuk mengintegrasikan pilar ekonomi, sosial dan ekologi dalam pembangunan. Tentu komunikasi menjadi instrument yang paling vital dalam merencanakan pembangunan berkelanjutan hingga mencapai tujuan yang diharapkan.

        Everett M. Rogers (Mukti Sitompul) mengatakan komunikasi tetap dianggap sebagai perpanjangan tangan para perencana pemerintah, dan fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan dukungan masyarakat dan partisipasi mereka dalam pelaksanaan rencana-rencana pembangunan.

Gugum Gumilar, mengutip karya Schramm yang merumuskan peranan komunikasi dalam pembangunan, yaitu :

  • Menyampaikan kepada masyarakat, informasi tentang pembangunan nasional, agar mereka memusatkan perhatian pada kebutuhan akan perubahan, kesempatan dan cara mengadakan perubahan, sarana-sarana perubahan, dan membangkitkan aspirasi nasional.
  • Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses pembuatan keputusan, memperluas dialog agar melibatkan semua pihak yang membuat keputusan mengenai perubahan, memberikesempatan kepada para pemimpin masyarakat untuk memimpin dan mendengarkan pendapat rakyat kecil, dan menciptakan arus informasi yang berjalan lancar dari bawah ke atas.

Hedebro (Gugum Gumilar)merumuskan 12 peran yang dapat dilakukan komunikasi dalam pembangunan, yaitu:

  • Komunikasi dapat menciptakan iklim bagi perubahan dengan membujukkan nilai-nilai, sikap mental, dan bentuk perilku yang menunjang modernisasi.
  • Komunikasi dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan baru, mulai dari baca-tulis ke pertanian, hingga ke keberhasilan lingkungan.
  • Media massa dapat bertindak sebagai pengganda sumber-sumber daya pengetahuan.
  • Media massa dapat mengantarkan pengalaman-pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri, sehingga mengurangi biaya psikis yang ekonomis untuk menciptakan kepribadian yang mobile.
  • Komunikasi dapat meningkatkan aspirasi yang merupakan perangsang untuk bertindak nyata.
  • Komunikasi dapat membantu masyarakat menemukan norma-norma baru dan keharmonisan dari masa transisi.
  • Komunikasi dapat membuat orang lebih condong untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di tengah kehidupan bermasyarakat.
  • Komunikasi dapat mengubah struktur kekuasaan pada masyarakat yang bercirikan tradisional, dengan membawakan pengetahuan kepada massa. Mereka yang beroleh informasi, akan menjadi orang yang berarti, dan para pemimpin tradisional akan tertantang oleh kenyataan bahwa ada orang-orang lain yang juga mempunyai kelebihan dalam hal memiliki informasi.
  • Komunikasi dapat menciptakan rasa kebangsaan sebagai sesuatu yang mengatasi kesetiaan-kesetiaan lokal.

         Berdasarkan uraian para ahli tentang peranan komunikasi dalam pembangunan, maka kami merumuskan bahwa peranan komunikasi dalam pembangunan berkelanjutan adalah sebagai alat untuk menyampaikan berbagai informasi tentang pembangunan berkelanjutan, sehingga seluruh stakeholder dapat berpartisipasi aktif untuk terlibat dalam perencanaan hingga implementasi program pembangunan berkelanjutan.

I. Penutup

         Meningkatnya kebutuhan hidup manusia karena pertambahan jumlah penduduk dunia serta meningkatnya kebutuhan hidup manusia di satu pihak, dan kemapuan teknologi modern yang mempermudah manusia mengolah sumberdaya alam yang terbatas, seringkali melupakan kearifan lingkungan. Untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial dan ekologi, maka konsep pembangunan yang tepat untuk dilaksanakan adalah pembangunan berkelanjutan. Pelaksanaan konsep pembangunan berkelanjutan akan mengikis kecemburuan sosial, meningkatkan perekonomian serta melestarikan keanekaragaman hayati sebagai sumber bahan makanan manusia di bumi. Pilar ekonomi, sosial dan lingkungan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Penyatuan ketiga pilar tersebut juga akan mengurangi dampak kerusakan lingkungan dan sosial yang terus meningkat.

       Pembangunan berkelanjutan harus direncanakan melalui perencanaan partisipatif yang melibatkan seluruh stakeholders dalam kehidupan masyarakat. Segenap stakeholders pembangunan perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan agar dapat merumuskan berbagai tujuan, indikator dan sasaran pembangunan secara tepat. Pembangunan berkelanjutan tanpa didukung oleh komunikasi pasti tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Melalui komunikasi, semua stakeholders pembangunan akan aktif untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan pembangunan berkelanjutan hingga pada pengawasan pembangunan berkelanjutan. Komunikasi juga berperan menghilangkan batas pemisah antara pemerintah dengan stakeholder pembangunan yang lain. Komunikasi menjadi alat vital yang akhirnya menentukan keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

SUMBER BUKU

Abu Hurerah. 2008. Pengoragnisasian dan Pengembangan Masyarakat: Model & Strategi Pembangunan Berbasis Kerakyatan. Bandung: Humaniora.

Dilla, Sumadi. 2007. Komunikasi Pembangunan: Pendekatan Terpadu. Bandung. Simbiosa Rekatama Media.

Edi Suharto. 2005. Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Emil Salim. 2010. Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Everest M.Rogers. Komunikasi dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

Totok Mardikanto. 2010. Pembangunan Komunikasi. Sukoharjo: Sebelas Maret University Press.

Zulkarimen Nasution. 2000. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya.Edisi Revisi. Jakarta.PT Raja Grafindo Persada.

SUMBER INTERNET

Absori.http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1629:Paradigma-pembangunan-lingkungan-hidup&catid=36:kolom-pr2. 21 Maret 2011

AgusHarto wibowo.http://eprints.undip.ac.id/24263/1/AGUS_HARTO_WIBOWO.pdf—ANALISIS PERENCANAAN PARTISIPATIF.21 Maret 2011

AndiPerdanaGumilang.http://suarapembaca.detik.com/read/2010/10/18/075130/471/hari-pangan-sedunia-dan-kelaparan-di -negara-beras.21 Maret 2011.

AndiSayumitrahttp://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14900/1/09E01051.pdf—–IMPLEMENTASI PERENCANAAN PARTISIPATIF.21 Maret 2011

Anonim.http://metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/06/07/19827/Kawasan-Pemukiman-Kumuh-Semakin-Banyak. 21 Maret 2011.

Anonim.http://www.globalreporting.org/NR/rdonlyres/F54E1AF8-71C6-4ACB-AD2C 726607091D0C/4590/G3_RG_BahasaIndonesia.pdf.21 Maret 2011.

Anonim.http://www.investor.co.id/macroeconomics/penurunan-jumlah-pengangguran-dinilai-belum-memadai/11324.21 Maret 2011.

Dian “Aan” Andrianto http://aanforsmart.blogspot.com/2009/07/konsep-pembangunan-berkelanjutan.html. 21 Maret 2011.

GugumGumilarhttp://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/32319/ Makalah%20Kelompok%20A.pdf?sequence=2.21 Maret 2011

Imansyah.http://savetheworld-now.blogspot.com/2009/09/dari-pembangunan-bertumpu-pada.html.21 Maret 2011.

KusAdiNugroho.http://konversi.wordpress.com/2010/04/30/pembangunan-berkelanjutan-bag-1/.21 Maret 2011.

MariaNingsih.http://www.dokterkimia.com/2010/06/konsep-pembangunan-dan-pembangunan.html.6 April 2011.

Mukti sitompul.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3778/1/komunikasi-mukti.pdf.21 Maret 2011

Saifullah.http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1629:paradigma-pembangunan-lingkungan-hidup&catid=36:kolom-pr2. 21 maret 2011.

Soegiharsono.http://www.crayonpedia.org/mw/LINGKUNGAN_HIDUP_DAN_PEMBANGUNAN_BERKELANJUTAN. 6 April 2011.

Tarmijah.http://tarmijah.blogspot.com/2010/11/strategi-pembangunan-berkelanjutan.html.21     Maret 2011

Yudipramana.http://yudipramana.blogspot.com/2009/04/pembangunan-berkelanjutan-dan-masalah.html.6 April 2011

 

EVOLUSI KOMPUTER, RANGKUMAN dan DAFTAR PUSTAKA

        Sejarah perkembangan komputer dari masa ke masa selalu saja manusia menemukan sesuatu yang baru dan lebih baik, begitu juga dengan penemuan teknologi komputer. Kemajuan-kemajuan yang dicapai manusia telah mengubah bentuk dan efisiensi kerja dari komputer-komputer tersebut, sehingga kita dapat membagi perkembangan teknologi komputer dalam beberapa generasi sebagai berikut  (http://gudang-sejarah.blogspot.com/2009/01/sejarah-perkembangan-komputer.html):

                                                                                                  

1)    Komputer generasi pertama (1940-1959)

       Komputer generasi pertama ini menggunakan tabung vakum untuk memproses dan menyimpan data.Komputer ini menjadi cepat panas dan mudah terbakar, oleh karena itu beribu-ribu tabung vakum diperlukan untuk menjalankan operasi keseluruhan komputer.Komputer ini juga memerlukan banyak tenaga elektrik yang menyebabkan gangguan elektrik di kawasan sekitarnya.

      Komputer generasi pertama ini 100% elektronik dan membantu para ahli dalam menyelesaikan masalah perhitungan dengan cepat dan tepat.Beberapa computer generasi pertama :

  •  ENIAC (Electronic Numerical Integrator And Calculator), dirancang oleh Dr John Mauchly dan Presper Eckert pada tahun 1946. Komputer generasi ini sudah mulai menyimpan data yang dikenal sebagai konsep penyimpanan data (stored program concept) yang dikemukakan oleh John VonNeuman.

Gambar 1

Model Komputer ENIAC

  • EDVAC Computer (Electronic Discrete Variable Automatic Computer). Penggunaan tabung vakum juga telah dikurangi di dalam perancangan komputer EDVAC di mana proses perhitungan menjadi lebih cepat dibandingkan ENIAC.

Gambar 2

Model Komputer EDVAC

  •  EDSAC COMPUTER (Electonic Delay Storage Automatic Calculator). EDSAC memperkenalkan penggunaan raksa (merkuri) dalam tabung untuk menyimpan data.

Gambar 3

Model Komputer EDSAC

  •  UNIVAC 1 Computer. Pada tahun 1951 Dr Mauchly dan Eckert menciptakan UNIVAC 1 (Universal Automatic Calculator ) komputer pertama yang digunakan untuk memproses data perdagangan.

Gambar 4

Model Komputer UNIVAC 1

2) Komputer Generasi Kedua (1959-1964)

        Pada tahun 1948, penemuan transistor sangat mempengaruhi perkembangan komputer.Transistor menggantikan tabung vakum di televisi, radio, dan komputer.Akibatnya, ukuran mesin-mesin elektrik berkurang drastis.Transistor mulai digunakan di dalam komputer mulai pada tahun 1956. Penemuan lain yang berupa pengembangan memori inti-magnetik membantu pengembangan komputer generasi kedua yang lebih kecil, lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan lebih hemat energi dibanding para pendahulunya. Mesin pertama yang memanfaatkan teknologi baru ini adalah superkomputer.

      IBM membuat superkomputer bernama Stretch, dan Sprery-Rand membuat komputer bernama LARC. Komputer-komputer   ini, yang dikembangkan untuk laboratorium energi atom, dapat menangani data dalam jumlah yang besar.Mesin tersebut sangat Mahal dan cenderung terlalu kompleks untuk kebutuhan komputasi bisnis, sehingga membatasi kepopulerannya. Hanya ada dua LARC yang pernah dipasang dan digunakan: satu di Lawrence Radiation Labs di Livermore, California, dan yang lainnya di US Navy Research and Development Center di Washington D.C. Komputer generasi kedua Menggantikan bahasa mesin dengan bahasa assembly. Bahasa assembly adalah bahasa yang menggunakan singkatan-singakatan untuk menggantikan kode biner.Pada awal 1960-an, mulai bermunculan komputer generasi kedua yang sukses di bidang bisnis, di universitas, dan di pemerintahan.

       Komputer-komputer generasi kedua ini merupakan komputer yang sepenuhnya menggunakan transistor. Mereka juga memiliki komponen-komponen yang dapat diasosiasikan dengan komputer pada saat ini: printer, penyimpanan dalam disket,memory, sistem operasi, dan program.

       Salah satu contoh penting komputer pada masa ini adalah IBM 1401 yang diterima secaa luas di kalangan industri.Pada tahun 1965, hampir seluruh bisnis-bisnis besar menggunakan komputer generasi kedua untuk memproses informasi keuangan.Program yang tersimpan di dalam komputer dan bahasa pemrograman yang ada di dalamnya memberikan fleksibilitas kepada komputer.Fleksibilitas ini meningkatkan kinerja dengan harga yang pantas bagi penggunaan bisnis.Dengan konsep ini, komputer dapat mencetak faktur pembelian konsumen dan kemudian menjalankan desain produk atau menghitung daftar gaji.

       Beberapa bahasa pemrograman mulai bermunculan pada saat itu.Bahasa pemrograman Common Business-Oriented Language (COBOL) dan Formula Translator (FORTRAN) mulai umum digunakan.Bahasa pemrograman ini menggantikan kode mesin yang rumit dengan kata-kata, kalimat, dan formula matematika yang lebih mudah dipahami oleh manusia.Hal ini memudahkan seseorang untuk memprogram dan mengatur komputer.Berbagai macam karir baru bermunculan (programmer, analyst, dan ahli sistem komputer).Industri piranti lunak juga mulai bermunculan dan berkembang pada masa komputer generasi kedua ini.

3)   Komputer Generasi Ketiga ( 1964 – awal 80an )

       Walaupun transistor dalam banyak hal mengungguli tube vakum, namun transistor menghasilkan panas yang cukup besar, yang dapat berpotensi merusak bagian-bagian internal komputer. Batu kuarsa (quartz rock) menghilangkan masalah ini. Jack Kilby, seorang insinyur di Texas Instrument, mengembangkan sirkuit terintegrasi (IC: integrated circuit) di tahun 1958. IC mengkombinasikan tiga komponen elektronik dalam sebuah piringan silikon kecil yang terbuat dari pasir kuarsa. Pada ilmuwan kemudian berhasil memasukkan lebih banyak komponen-komponen ke dalam suatu chip tunggal yang disebut semikonduktor. Hasilnya, komputer menjadi semakin kecil karena komponen-komponen dapat dipadatkan dalam chip.Kemajuan komputer generasi ketiga lainnya adalah penggunaan sistem operasi (operating system) yang memungkinkan mesin untuk menjalankan berbagai program yang berbeda secara serentak dengan sebuah program utama yang memonitor dan mengkoordinasi memori komputer.

4)    Komputer Generasi Keempat (awal 1980)

       Setelah IC, tujuan pengembangan menjadi lebih jelas: mengecilkan ukuran sirkuit dan komponenkomponen elektrik. Large Scale Integration (LSI) dapat memuatratusan komponen dalam sebuah chip.Pada tahun 1980-an, Very Large Scale Integration (VLSI) memuat ribuan komponen dalam sebuah chip tunggal.

     Ultra-Large Scale Integration (ULSI) meningkatkan jumlah tersebut menjadi jutaan.Kemampuan untuk memasang sedemikian banyak komponen dalam suatu keping yangberukurang setengah keping uang logam mendorong turunnya harga dan ukuran komputer.Hal tersebut juga meningkatkan daya kerja, efisiensi dan keterandalan komputer. Chip Intel 4004 yang dibuat pada tahun 1971 membawa kemajuan pada IC dengan meletakkan seluruh komponen dari sebuah komputer (central processing unit, memori, dan kendali input/output) dalam sebuah chip yang sangat kecil. Sebelumnya, IC dibuat untuk mengerjakan suatu tugas tertentu yang spesifik.Sekarang, sebuah mikroprosesor dapat diproduksi dan kemudian diprogram untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang diinginkan. Tidak lama kemudian, setiap perangkat rumah tangga seperti microwave oven, televisi, dn mobil dengan electronic fuel injection dilengkapi dengan mikroprosesor.

         Perkembangan yang demikian memungkinkan orang-orang biasa untuk menggunakan komputer biasa.Komputer tidak lagi menjadi dominasi perusahaan-perusahaan besar atau lembaga pemerintah.Pada pertengahan tahun 1970-an, perakit komputer menawarkan produk komputer mereka ke masyarakat umum.Komputer-komputer.ini, yang disebut minikomputer, dijual dengan paket piranti lunak yang mudah digunakan oleh kalangan awam. Piranti lunak yang paling populer pada saat itu adalah program word processing dan spreadsheet.Pada awal 1980-an, video game seperti Atari 2600 menarik perhatian konsumen pada komputer rumahan yang lebih canggih dan dapat diprogram.

      Pada tahun 1981, IBM memperkenalkan penggunaan Personal Computer (PC) untuk penggunaan di rumah, kantor, dan sekolah. Jumlah PC yang digunakan melonjak dari 2 juta unit di tahun 1981 menjadi 5,5 juta unit di tahun 1982. Sepuluh tahun kemudian, 65 juta PC digunakan. Komputer melanjutkan evolusinya menuju ukuran yang lebih kecil, dari komputer yang berada di atas meja (desktop computer) menjadi komputer yang dapat dimasukkan ke dalam tas (laptop), atau bahkan komputer yang dapat digenggam (palmtop).

        IBM PC bersaing dengan Apple Macintosh dalam memperebutkan pasar komputer.Apple Macintosh menjadi terkenal karena mempopulerkan sistem grafis pada komputernya, sementara saingannya masih menggunakan komputer yang berbasis teks.Macintosh juga mempopulerkan penggunaan piranti mouse. Pada masa sekarang, kita mengenal perjalanan IBM compatible dengan pemakaian CPU: IBM PC/486, Pentium, Pentium II, Pentium III, Pentium IV (Serial dari CPU buatan Intel). Ada pula AMD k6, Athlon. Ini semua masuk dalam golongan komputer generasi keempat.

        Seiring dengan menjamurnya penggunaan komputer di tempat kerja, cara-cara baru untuk menggali potensial terus dikembangkan.Seiring dengan bertambah kuatnya suatu komputer kecil, komputer-komputer tersebut dapat dihubungkan secara bersamaan dalam suatu jaringan untuk saling berbagi memori, piranti lunak, informasi, dan juga untuk dapat saling berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Komputer jaringan memungkinkan komputer tunggal untuk membentuk kerjasama elektronik untuk menyelesaikan suatu proses tugas.

5) Komputer Generasi Kelima (Masa Depan)

            Banyak kemajuan di bidang desain komputer dan teknologi semkain memungkinkan pembuatan komputer generasi kelima. Dua kemajuan rekayasa yang terutama adalah kemampuan pemrosesan paralel, yang akan menggantikan model non Neumann. Model non Neumann akan digantikan dengan sistem yang mampu mengkoordinasikan banyak CPU untuk bekerja secara serempak. Kemajuan lain adalah teknologi superkonduktor yang memungkinkan aliran elektrik tanpa ada hambatan apapun, yang nantinya dapat mempercepat kecepatan informasi. Jepang adalah negara yang terkenal dalam sosialisasi jargon dan proyek komputer generasi kelima. Lembaga ICOT (Institute for new Computer Technology) juga dibentuk untuk merealisasikannya. Banyak kabar yang menyatakan bahwa proyek ini telah gagal, namun beberapa informasi lain bahwa keberhasilan proyek komputer generasi kelima ini akan membawa perubahan baru paradigma komputerisasi di dunia.

RANGKUMAN

Hardware komputer senantiasa mengalami perkembangan seiring perkembangan populasi manusia dan kebutuhan manusia pada teknologi infromasi.Hardware komputer juga senanatiasa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan manusia terhadap pengolahan data yang akurat dan cepat.

Perkembangan hardware komputer dari masa ke masa telah menciptakan keragaman pada hardware komputer, hingga saat ini hardware komputer semakin kompleks dan mampu menyajikan berbagai hal yang diinginkan oleh manusia.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 


Rizky Dhanta. 2009. Pengantar Ilmu Komputer. Surabaya: INDAH.

Abdul Kadir. 2003. Pengenalan Sistem Informasi. Yogyakarta: ANDI.

Abdul Kadir dan Terra CH. Triwahyuni. 2003. Pengenalan Teknologi Informasi. Yogyakarta; ANDI

http://gudang-sejarah.blogspot.com/2009/01/sejarah-perkembangan-komputer.html. 6 Juli 2011

http://fafatkj.blogspot.com/2009/04/trackball.html